Cerita Sex Mona Semakin Terangsang | Haus Sex
Vimax cresizedimage.php Agen Capsa
Pembesar Penis Bandar Q Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online , Sakong Online Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya
agen bandarq online

Cerita Sex Mona Semakin Terangsang

VIMAX Bandar Capsa

Situs Terlengkap Untuk Cerita Dewasa Pribadi | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Hot | Cerita ABG | Cerita Tante-tante | Cerita Sex Jilbab | Seks Bergambar – Mona Semakin Terangsang. Mona adalah pegawai di salah satu bank, dia ngekost bersama teman kerjannya yang sama juga bekerja di Bank walaupun cabangnya berbeda, tubuh Mona memang dikenal sungguh seksi dan wajhnya yang manis bibirnya tipis, dia diposisikan sebagai teller maka dari itu penampilannya dia harus dijaga.

Cerita Dewasa Mona Semakin Terangsang

kumpulan cerita sex perkosaan, cerita perkosaan sadis, cerita perkosaan nikmat, cerita perkosaan bergambar, cerita perkosaan paksa, cerita perkosaan enak, cerita perkosaan mahasiswi, cerita nyata perkosaan, cerita cerita perkosaan, cerita perkosaan pelajar, cerita perkosaan nyata, cerita perkosaan di hotel, cerita perkosaan wanita, cerita orang perkosaan, cerita perkosaan baru, cerita cinta perkosaan, cerita perkosaan pacar

Cerita Sex Mona Semakin Terangsang

Mona selalu tampil manis dan harum. Suatu hari di sore hari Mona terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar.

Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Mona merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Mau kemana Mona?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller. Mona terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.

“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Mona menyapa mereka berdua yang mendekatinya.

“Mona, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.

“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Mona menjawab. Di luar hujan mulai turun. “Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.

“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Mona menjawab. Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Mona. Sebelum Mona tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.

“Aah! Jangan Pak!”. Diman menarik blus warna ungu milik Mona. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Mona. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”. Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Mona yang berwarna putih berenda. Mona berusaha meronta.

Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar. “Jangannnn! Lepaskannn!”, Mona berusaha meronta. Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Mona.

Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Mona. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi.

Mona menyepak Diman dengan keras. “Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai. Mona di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.

“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Mona mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu. Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Mona. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Mona juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Mona lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya.

Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Mona. Mona mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Mona yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”. Tubuh Mona memang kencang menggairahkan.

Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak rambut Mona sehingga dapat melihat wajahnya.

Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya. “Sret!”, Mona tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek. Menyusul branya ditarik dengan kasar.

Mona benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya. “Ouuhh! Adduhh..!”, Mona merintih.

Seperti anjing, Warto mulai menyodok nyodok Mona dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Mona hanya mampu menangis tak berdaya. Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Mona membuka mulutnya.

Mona memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Mona yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya.

Tiba-tiba Warto mencabut kemaluannya dan menarik Mona. “Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Mona menangis tersengal-sengal. Warto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, Mona dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Mona yang sudah basah. Mona menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Mona sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu.

Mona masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.

“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Mona berusaha meronta, tapi tak berdaya. Warto terus melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. Mona lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian.

Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti.

Mona ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Mona gelagapan ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Mona dipegang erat dan… “Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi. Mona merasa akan muntah.

Tapi Warto terus menekan hidung Mona hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Mona hingga bersih. Mona tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Mendadak Diman ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Mona. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Mona terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya.

Mona menangis sesengggukan. Diman memakai celana dalam Mona untuk membersihkan sisa spermanya. “Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang. Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.

“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Mona terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu. Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.

Mona ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Mona dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.

“Ayo Mona, kulum punyaku!”, Mona yang hanya mengenakan stocking itu dipaksa mengoral mereka bergiliran. Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.

“Akhh…, mmmhhh.., mhhh…”, Mona menangis tak berdaya. Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram. “Akkkghhh! Isep teruss…!, Ayooo”.

Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Mona. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Mona dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran.

Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Mona bergiliran. Tubuh Mona yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. Stockingnya telah penuh noda-noda sperma kering.

Akhirnya Mona ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Mona dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Mona. Ketika telah selesai Mona telentang dan tersengal-sengal lemas.

Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Mona pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas. “Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu. “Iya, aku masih belum puas…”.

Akhirnya muncul ide mereka yang lain. Tubuh telanjang Mona diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Mona yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam.

Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Mona disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Mona tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih terpasang.

Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk. “Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka. Mona berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang.

Tubuh Mona mulai dijadikan bulan-bulanan. Mona hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan. Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar.

Kembali Mona bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar. “Ini kan teller di bank depan?” Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Mona dengan berbagai posisi.

Mona yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis.

Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Mona tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Mona sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.

CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAGINA MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAGINA MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAGINA MERAH BASAH, ABG HOT VAGINA MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL, SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK NGANGKANG DIENTOT,

About Vanita Esma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*