Cerita Sex Belum Terangsang Melihatnya | Haus Sex
Vimax cresizedimage.php Agen Capsa
Pembesar Penis Bandar Q Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online , Sakong Online Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya
agen bandarq online

Cerita Sex Belum Terangsang Melihatnya

VIMAX Bandar Capsa

Situs Terlengkap Untuk Cerita Dewasa Pribadi | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Hot | Cerita ABG | Cerita Tante tante | Cerita Sex Jilbab | Seks Bergambar – Belum Terangsang Melihatnya. Aku mempunyai saudara atau sepupuku yang masih duduk di kelas SD namanya Faris, terlihat Faris yang sedang asyk memebaca novel karena orangtuanya pergi bekerja dan dia anak tunggal, tak lama kemudia datanglah wanita yang menghampiri dia dan menyapanya “Hallloo Faris , lagi sendirian ya, kelihatannya lagi asyk baca buku ya?”

Cerita Dewasa Belum Terangsang Melihatnya

cerita sex ABG, cerita ABG terbaru, cerita ABG ngentot, kumpulan cerita ABG ngentot, cerita hot ngentot, cerita nyata ABG ngentot, koleksi cerita ABG ngentot, kumpulan cerita ngentot terbaru

“Eh, Tante Niar. Mama belum pulang tuh!” jawab Faris sambil menyembunyikan novel yang dibacanya ke belakang tubuhnya. Tante Niar, adik ayah Faris, baru saja bercerai dengan suaminya.

“Eh, Faris baca apa sih? Kok pake di umpet-umpetin segala? Tante boleh lihat nggak?” Setelah dibujuk-bujuk, Rismu mau menyerahkan novel itu kepada Tante Niar.

“Astaga, Faris. Masih kecil bacaannya ginian!”, seru Tante Niar setelah melihat sampul buku yang bergambarkan seorang gadis muda dengan busana yang sangat minim dan pose yang menggiurkan. Tante Niar lalu membolak-balik halaman novel itu. Saat membaca bagian di mana terdapat adegan yang merangsang dalam buku itu, sekilas terjadi perubahan pada wajahnya.

“Ris, daripada kamu sendirian di sini, lebih baik ke rumah Tante yuk!”, ajak Tante Niar.

“Tapi, Tante, Tonny disuruh Mama jaga rumah”.

“Alaa, tinggal kunci pintu saja sudah”, kata Tante Niar sambil mengunci pintu rumah lalu ia menarik tangan Rismu ke mobilnya.

Mobil Tante Niar sudah meluncur di jalan raya menuju rumahnya. Sebentar-sebentar ia menoleh ke arah Faris yang duduk di sampingnya.

“Masih kecil sudah ganteng begini”, gumam Tante Niar dalam hati. Ia menggerakkan tangannya meremas-remas kemaluan bocah yang masih hijau itu.

“Aduh, Tante. Geli ah”, kata Faris. Tante Niar tersenyum penuh arti. Ia menarik tangannya keNiar mobil sudah tiba di depan rumahnya yang megah bak istana di seberang danau Sunter.

Tante Niar usianya sudah mencapai tiga puluh dua tahun, tapi penampilannya masih seperti gadis berusia dua puluh tahunan berkat giatnya ia mengikuti senam aerobik di sebuah klub kebugaran beken di Jakarta.

Wajahnya yang cantik ditambah dengan tubuhnya yang bahenol serta seksi. Payudaranya yang besar memang amat menawan, apalagi dia sekarang seorang janda. Sudah banyak lelaki yang mencoba merebut hatinya, tapi semua itu ditolaknya mentah-mentah. Menurutnya mereka hanya menginginkan hartanya saja.

Tante Niar memang kaya raya, mobil mewahnya ada beberapa buah dari model yang mutakhir lagi. Rumahnya mentereng, di kawasan perumahan elite lagi. Itu semua berkat kerja kerasnya sebagai direktris sebuah perusahaan asuransi papan atas.

Oh ya, Tante Niar mempunyai seorang anak gadis bernama Andriana, putri satu-satunya, tapi biasa dipanggil Andri saja. Gadis manis ini duduk di kelas dua sebuah SMP swasta top di daerah Kelapa Gading.

Pada usianya yang baru menginjak empat belas tahun ini, tubuh Andri sedang mekar-mekarnya. Payudara remajanya sudah ranum sekali, berukuran lebih besar daripada gadis-gadis sebayanya, laksana payudara gadis berusia tujuh belas tahun.

Mungkin kemontokannya ini warisan dari ibunya. Tapi Andri memang anak yang agak kurang pergaulan alias kuper karena kebebasannya dibatasi dengan ketat oleh ibunya, yang kuatir ada pihak-pihak yang memanfaatkan kemolekan tubuh anaknya tersebut. Sama sekali Andri belum pernah merasakan apa artinya itu cinta. Padahal banyak sudah cowok yang naksir dia. Namun Andri belum sadar akan cinta.

“Ris, badan Tante pegal nih. Tolong pijatin ya”, kata Tante Niar sambil mengajak Faris ke kamar tidurnya. Tante Niar membuka busananya. Lalu ia membaringkan tubuhnya yang telanjang bulat tengkurap di ranjang. Faris masih lugu sekali. Ia belum tahu apa-apa tentang keindahan tubuh wanita.

“Tante kok buka baju? Kepanasan ya?”, tanya Faris dengan polosnya. Tante Niar mengangguk. Lalu Faris memijati tubuh Tante Niar. Mula-mula punggungnya. Lalu turun ke bawah. Tante Niar mendesah sewaktu tangan mungil Faris memijati gumpalan pantatnya yang montok.

“Tante, kenapa? Sakit ya?”, tanya Faris lugu. Mula Tante Niar memerah. Dia duduk di atas ranjang. Tangannya menarik tangan Faris ke payudaranya.

“Tante, ini apaan? Kok empuk amat sih?”, tanya Faris keNiar tangannya menjamah payudara tantenya. Tante Niar mulai bangkit nafsu birahinya.

“Ini namanya payudara, Ris”.

“Kok Tante punya sih? Faris nggak ada?”.

“Faris, Faris. Kamu bukan cewek. Semua cewek kalau udah gede pasti akan punya payudara. Payudara adalah lambang keindahan tubuh wanita”, Tante Niar menjelaskan dengan bahasa yang terlalu tinggi bagi anak seusia Faris.

“Lalu pentilan ini apa namanya?”, tanya Faris sambil memijit puting susu tantenya. Tante Niar sedikit menggelinjang terangsang.

“Ah.., Ini namanya puting susu. Semua wanita juga mempunyai puting susu. Mamamu juga punya. Dulu waktu kamu masih bayi, kamu minum susu dari sini”.

“Masa sih Tante. Biasanya kan susu dari sapi?”

“Mau nyobain nih kalo kamu nggak percaya. Sini deh kamu isap puting susu Tante!”.

Faris kecil mendekatkan mulutnya pada payudara Tante Niar lalu diisapnya puting susunya.

“Ih, Tante bohong. Kok nggak keluar apa-apa?”, kata Faris sambil terus menyedoti puting susu Tante Niar yang tinggi menegang itu. Tapi tantenya nampaknya tidak mempedulikan perkataan keponakannya itu.

“Teruskan.., Ris.., Sedot terus.., Ouuhh..”, kata Tante Niar bernafsu. Karena merasa mendapat mainan baru, Farispun menurut. Dengan ganasnya ia menyedot-nyedot puting susunya. Tante Niar menggerinjal-gerinjal. Tak sengaja tangannya menyenggol gelas yang ada di meja di dekatnya, sehingga isinya tumpah membasahi bahu dan celana pendek Faris.

“Ya, Tante. Pakaian Faris basah deh!”, kata Faris sambil melepaskan isapannya pada puting susu Tante Niar.

“Ya, Faris. Kamu buka baju dulu deh. Nanti Tante ambilkan baju ganti. Siapa tahu ada yang pas buat kamu”, kata Tante Niar sambil beranjak ke luar kamar tidur. Sempat dilihatnya tubuh telanjang Faris. Dikenalkannya pakaiannya lagi. Tante Niar pergi ke kamar anaknya, Andri, yang baru saja pulang dari sekolah.

“Dri”.

“Apa, Ma?”, tanya Andri yang masih memakai baju seragam. Blus putih dan rok berwarna biru.
“Kamu punya baju yang sudah nggak kamu pakai lagi nggak?”.

“Ngg.., Ada Ma. Tunggu sebentar”, Andri mengeluarkan daster yang sudah kekecilan buat tubuhnya dari dalam lemari pakaiannya.

“Buat apa sih, Ma?”, kata Andri seraya menyerahkan dasternya kepada ibunya.

“Itu, buat si Faris. Tadi pakaiannya basah ketumpahan air minum”.

“Faris datang ke sini, Ma? Sekarang dia di mana?”.

“Sudah! Kamu belajar dulu. Nanti Faris akan Mama suruh ke sini!”.

“Ya.., Mama!” Gerutu Andri kesal. Ibunya tak mengindahkannya. Andri senang pada Faris karena ia sering saling menukar permainan komputer dengannya.

Tapi Andri keras kepala. Setelah jarak ibunya cukup jauh, diam-diam ia membuntuti dari belakang tanpa ketahuan. Sampai di depan kamar ibunya, Andri mengintip ke dalam melalui pintu yang sedikit terbuka. Dilihatnya ibunya sedang berbicara dengan Faris.

“Faris, coba kamu pake baju ini dulu. Bajunya Andri, sambil nunggu pakaian kamu kering”, kata Tante Niar sambil memberikan daster milik Andri kepada Faris.

“Ya, Tante. Faris nggak mau pake baju ini. Ini kan baju perempuan! Nanti Faris jadi punya payudara kayak perempuan. Faris nggak mau!”.

“Nggak mau ya sudah!”, kata Tante Niar sambil tersenyum penuh arti. Kebetulan, batinnya. Kemudian ia menanggalkan busananya kembali.

“Kalo yang ini apa namanya, Ris?”, tanya Tante Niar sambil menunjuk batang kemaluan Faris yang masih kecil.

“Kata Papa, ini namanya burung”, jawab Faris polos.

“Faris tahu nggak, burung Faris itu gunanya buat apa?”.

“Buat pipis, Tante”.

“Bener, tapi bukan buat itu aja. Kamu bisa menggunakannya untuk yang lain lagi. Tapi itu nanti kalo kamu sudah gede”.

Andri heran melihat ibunya telanjang bulat di depan Faris. Semakin heran lagi melihat mulut ibunya mengulum batang kemaluannya. Rasanya dulu ibunya pernah melakukan hal yang sama pada kemaluan ayahnya. Semua itu dilihatnya keNiar kebetulan ia mengintip dari lubang kunci pintu kamar ibunya. Kenapa ya burung si Faris itu, pikir Andri.

“Enak kan, Ris, begini?”, tanya Tante Niar sembari menjilati ujung batang kemaluan Faris.

“Enak, Tante, tapi geli!”, jawab Faris meringis kegelian.

“Kamu mau yang lebih nikmat nggak?”.

“Mau! Mau, Tante!”.

“Kalau mau, ini di pantat Tante ada gua. Coba kamu masukkan burung kamu ke dalamnya. Terus sodok keras-keras. Pasti nikmat deh”, kata Tante Niar menunjuk selangkangannya.

“Cobain dong, Tante”, Tante Niar menyodokkan pantatnya ke depan Faris. Faris dengan takut-takut memasukkan “burung”nya ke dalam liang vagina Tante Niar.

Kemudian disodoknya dengan keras. Tante Niar menjerit kecil keNiar dinding “gua”nya bergesekkan dengan “burung” Faris. Andri yang masih mengintip bertambah heran. Ia tidak mengerti apa yang dilakukan ibunya sampai menjerit begitu. Tapi Andri segera berlari kembali ke kamarnya keNiar ia melihat ibunya bangkit dan berjalan ke arah pintu, diikuti oleh Faris yang hanya memakai celana dalam ibunya. Sampai di kamarnya, Andri berbaring di ranjang membaca buku fisikanya. Faris muncul di pintu kamar.

“Mbak Andri. Kata Tante tadi Mbak mau cari Faris ya?”.

“Iya, kamu bawa game baru nggak?”, tanya Andri. Faris menggeleng.

“Eh, Ris. Ngomong-ngomong tadi kamu ngapain sama mamaku?”.

“Nah ya, Mbak tadi ngintip ya? Pokoknya tadi nikmat deh, Mbak!”, kata Faris berapi-api sambil mengacungkan jempolnya.

“Enak gimana?”, Andri bertanya penasaran.

“Mbak mau ngerasain?”.

“Mau, Ris”.

“Kalo begitu, Mbak buka baju juga kayak Tante tadi”, kata Faris.

“Buka baju?”, tanya Andri, “Malu dong!”.

Akhirnya dengan malu-malu, gadis manis itu mau membuka blus, rok, BH, dan celana dalamnya hingga telanjang bulat. Faris tidak terangsang melihat tubuh mulus yang membentang di depannya. Payudara ranum yang putih dan masih kencang dengan puting susu kemerahan, paha yang putih dan mulut, pantat yang montok. Masih kecil sih Faris!

“Bener kata Tante. Mbak Andri juga punya payudara. Tapi punyanya Tante lebih gede dari punya Mbak. Pentilnya Mbak juga nggak tinggi kayak Tante”, Faris menyamakan payudara dan puting susu Andri dengan milik ibunya.

“Pentil Mbak keluar susu, nggak?”.

“Nggak tahu tuh, Ris. Nggak pernah ngerasain sih!”, kata Andri lugu.

“Pentilnya Tante nggak bisa ngeluarin apa-apa, payah!”.

“Masak sih bisa keluar susu dari pentilku?”, kata Andri tidak percaya sambil memandangi puting susunya yang sudah meninggi meskipun belum setinggi milik ibunya.

“Mbak nggak percaya? Mau dibuktiin?”.

“Boleh!”, kata Andri sambil menyodorkan payudaranya yang ranum.

Mulut Faris langsung menyambarnya. Diisap-isapnya puting susu Andri, membuat gadis itu menggerinjal-gerinjal kegelian.

“Ya, kok nggak ada susunya sih, Mbak?”.

“Coba kamu isap lebih keras lagi!”, kata Andri. Faris segera menyedoti puting susu Andri. Tapi lagi-lagi ia kecewa karena puting susu itu tidak mengeluarkan air susu. Tapi Faris belum puas.

Diisapnya puting susu Andri semakin keras, membuat gadis manis itu membelalak menahan geli.
“Nggak keluar juga ya, Ris”, tanya Andri penasaran.

“Kali kayak sapi. Harus diperas dulu baru bisa keluar susunya”, kata Faris.

“Mungkin juga. Ayo deh coba!”, kata Andri seraya meremas-remas payudaranya sendiri seperti orang sedang memerah susu sapi. Sementara itu Faris masih terus mengisapi puting susunya. Akhirnya mereka berdua putus asa.

“Kok nggak bisa keluar sih. Coba yang lain aja yuk!”, kata Faris membuka celana dalamnya.

“Apaan tuh yang nonjol-nonjol, Ris?”, tanya Andri ingin tahu.

“Kata Papa, itu namanya burung. Cuma laki-laki yang punya. Tapi kata Tante namanya kemaluan. Tau yang bener yang mana!”.

“Aku nggak punya kok, Ris?”, kata Andri sambil memperhaNiarn daerah di bawah pusarnya. Tidak ada tonjolan apa-apa”.

“Mbak kan perempuan, jadi nggak punya. Kata Tante, anak perempuan punya.., apa tuh namanya.., va.., vagina. Katanya di pantat tempatnya.

“Di pantat? Yang mana? Yang ini? Ini kan tempat ‘eek, Ris?!”, kata Andri sambil menunjuk duburnya.

“Bukan, lubang di sebelahnya”, kata Faris yakin.

“Yang ini?”, tanya Andri sembari membuka bibir liang vaginanya.

“Kali!”.

“Jadi ini namanya vagina. Namanya kayak nama mamanya Hanny ya?”, kata Andri. Ia menyamakan kata vagina dengan Tante Gina, ibuku.

“Tadi mamaku ngisep-ngisep burung kamu. Emangnya kenapa sih?”, lanjut Andri.

“Faris juga nggak tahu, Mbak”.

“Enak kali ya?”.

“Kali, tapi Faris sih keenakan tadi”.

Tanpa rasa risih, Andri memasukkan batang kemaluan Faris ke dalam mulutnya, lalu diisap-isapnya.

“Ah, nggak enak kok Ris. Bau!”, kata Andri sambil meludah.

“Tapi kok kudengar mamaku menjerit-jerit. Ada apaan?”, tanya Andri kemudian.

“Gara-gara Faris masukin burung Faris ke dalam guanya. Nggak tahu tuh, kok tahu-tahu Tante menjerit”.

“Gua yang mana?”, Andri penasaran.

“Yang tadi tuh, Mbak. Yang namanya vagina”.

“Apa nggak sakit tuh, Ris?”.

“Sakit sih sedikit. Tapi nikmat kok. Mbak!”.

“Bener nih?”.

“Bener, Mbak Andri. Faris berani sumpah deh!”.

“Coba deh”, Andri akhirnya percaya juga.

Faris memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang vagina Andri yang masih sempit. Andri menyeringai.

“Sakit dikit, Ris”.

Faris menyodok-nyodokkan “burung”nya berulang kali dengan keras ke “gua” Andri. Andri mulai menjerit-jerit kesakitan. Tapi Faris tidak peduli karena merasa nikmat. Andri tambah menjerit dengan keras. Mendengar lengkingan Andri, Tante Niar berlari tergopoh-gopoh ke kamar putrinya itu.

“Dri, Andri. Kenapa kami?”, tanya Tante Niar. Ia terkejut melihat Andri yang meronta-ronta kesakitan disetubuhi oleh Faris kecil.

“Ya ampun, Faris! Berhenti! Gila kamu!” teriaknya naik darah. Apalagi setelah ia melihat darah yang mengalir dari selangkangan Andri melalui pahanya yang mulus.

Astaga! Andri telah ternoda oleh anak kecil berusia sepuluh tahun, sepupunya lagi?! Putrinya yang baru berumur empat belas tahun itu sudah tidak perawan lagi?!

“Nanti aja, Tante! Enak!”.

“Anak jahanam!”, teriak Tante Niar marah. Ia menempeleng Faris, sehingga bocah itu hampir mental. Sementara itu, Andri langsung ambruk tak sadarkan diri.

Sejak kejadian itu hubungan keluarga Faris dengan Tante Niar menjadi tegang.

CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAENDAH MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAENDAH MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAENDAH MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAENDAH MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAENDAH MERAH BASAH, ABG HOT VAENDAH MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL, SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK NGANGKANG DIENTOT

About Vanita Esma

One comment

  1. Pin bb 29b72140. Hp 081288330624

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*