Cerita Sex Kemarilah Sayang | Haus Sex
Vimax cresizedimage.php Agen Capsa
Pembesar Penis Bandar Q Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online , Sakong Online Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya
agen bandarq online

Cerita Sex Kemarilah Sayang

VIMAX Bandar Capsa

Situs Terlengkap Untuk Cerita Dewasa Pribadi | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Hot | Cerita ABG | Cerita Tante tante | Cerita Sex Jilbab | Seks Bergambar – Kemarilah Sayang. Seorang bujang yang berumur 27 than bingung dikarenakan yang mana HRD perusahaan memanggil dia untuk datang dikantornya, karena perusahaan yang dia lamar berada di luar kota, maka dari itu dia bingun untuk mencari tempat tinggal sementara saat disana, dipastikan dia melakukan tes wawancara, jadinya dia berangkat keesokan harinya dari rumah.

Cerita Dewasa Kemarilah Sayang

cerita sex tante, cerita hot tante, cerita tante hot, cerita hot tante tante, kumpulan cerita tante hot, cerita x tante, cerita tante tante hot, cerita sesk tante, cerita hot tante montok, cerita hot tante muda, kumpulan cerita hot tante, cerita tante haus, cerita ml tante tante, cerita hot tante cantik

Dengan tujuan penginapanlah dimana dia harus tinggal. Dengan bekal yang cukup malah berlebih mungkin, sampailah dia di penginapan dimana perusahaan yang dia lamar terletak di kota itu juga.

Sudah 2 hari ini dia tinggal di penginapan itu, selama ini dia sudah mepersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan guna kelancaran dalam tes Iksancara nanti. Sampai pada akhirnya, dia membaca di surat kabar, bahwa disitu tertulis menerima kos-kosan atau tempat tinggal yang permanen.

Kemudian dengan bergegas dia mendatangi alamat tersebut. Sampai pada akhirnya, sampailah dia di depan pintu rumah yang dimaksud itu.

Perlahan Iksan mengetuk pintu, tidak lama kemudian terdengar suara kunci terbuka diikuti dengan seorang wanita tua yang muncul.

“Iya, ada perlu apa, Pak..?”

“Oh, begini.., tadi saya membaca surat kabar, disitu tertulis bahwa di rumah ini menyediakan kamar untuk tempat tinggal.” sahut Iksan seketika.

“Oh, ya, memang benar, silakan masuk Pak, biar saya memanggil nyonya dulu,” wanita tua itu mempersilakan Iksan masuk.

“Hm.., baik, terima kasih.”

Sejenak kemudian Iksan sudah duduk di kursi ruang tamu.

Terlihat sekali keadaan ruang tamu yang sejuk dan asri. Iksan memperhatikan sambil melamun. Tiba-tiba Iksan dikejutkan oleh suara wanita yang masuk ke ruang tamu.

“Selamat siang, ada yang perlu saya bantu..?”

Terhenyak Iksan dibuatnya, di depan dia sekarang berdiri seorang wanita yang boleh dikatakan belum terlalu tua, umurnya sekitar 40 tahunan, cantik, anggun dan berwibawa.

“Oh.., eh.. selamat siang,” Iksan tergagap kemudian dia melanjutkan, “Begini Bu..”

“Panggil saya Bu Mitha..,” tukas wanita itu menyahut.

“Hm.., o ya, Bu Mitha, tadi saya membaca surat kabar yang tertulis bahwa disini ada kamar untuk disewakan.”

“Oh, ya. Hm.., siapa nama anda..?”

“Iksan Bu,” sahut Iksan seketika.

“Memang benar disini ada kamar disewakan, perlu diketahui oleh Nak Iksan bahwa di rumah ini hanya ada tiga orang, yaitu, saya, anak saya yang masih SMA dan pembantu wanita yang tadi bicara sama Nak Iksan, kami memang menyediakan satu kamar kosong untuk disewakan, selain agar kamar itu tidak kotor juga rumah ini biar tambah ramai penghuninya.” dengan singkat Bu Mitha menjelaskan semuanya.

“Hm, suami Ibu..?” tanya Iksan singkat.

“Oh ya, saya dan suami saya sudah bercerai satu tahun yang lalu,” jawab Bu Mitha singkat.

“Ooo, begitu ya, untuk masalah biayanya, berapa sewanya..?” tanya Iksan kemudian.

“Hm, begini, Nak Iksan mau mengambil berapa bulan, biaya sewa sebulannya tujuh puluh ribu rupiah,” jawab Bu Mitha menerangkan.

“Baiklah Bu Mitha, saya akan mengambil sewa untuk enam bulan,” kata Iksan.

“Oke, tunggu sebentar, Ibu akan mengambil kuitansinya.”

Akhirnya setelah mengemasi barang-barang di penginapan, tinggallah Iksan disitu dengan Bu Mitha, Ida anak Bu Mitha dan Bik Sumi pembantu Bu Mitha.

Sudah satu bulan ini Iksan tinggal sambil menunggu panggilan selanjutnya. Dan sudah satu bulan ini pula Iksan punya keinginan yang aneh terhadap Bu Mitha. Wanita yang anggun, cantik dan berwibawa yang cukup lama hidup sendirian.

Iksan tidak dapat membayangkan bagaimana mungkin wanita yang masih kelihatan muda dari segi fisiknya itu dapat betah hidup sendirian. Bagaimana Bu Mitha menyalurkan hasrat seksualnya. Ingin sekali Iksan bercinta dengan Bu Mitha.

Apalagi sering Iksan melihat Bu Mitha memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh Bu Mitha yang masih kelihatan kencang dan indah. Ingin sekali Iksan menyentuhnya.

“Aku harus bisa mendapatkannya..!” gumam Iksan suatu saat.

“Saya harus mencari cara,” gumamnya lagi.

Sampai pada suatu saat kemudian, yaitu pada saat malam Minggu, rumah kelihatan sepi, maklum saja, Ida anak Bu Mitha tidur di tempat neneknya, Bik Sumi balik ke kampung selama dua hari, katanya ada anaknya yang sakit.

Tinggallah Iksan dan Bu Mitha sendirian di rumah. Tapi Iksan sudah mempersiapkan cara bagaimana melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mitha. Lama Iksan di kamar, jam menunjukkan pukul delapan malam, dia melihat Bu Mitha menonton TV di ruang tengah sendirian. Akhirnya setelah mantap, Iksan pun keluar dari kamarnya menuju ke ruang tengah.

“Selamat malam, Bu, boleh saya temani..?” sejenak Iksan berbasa-basi.

“Oh, silakan Nak Iksan..,” mempersilakan Bu Mitha kepada Iksan.

“Ngomong-ngomong, tidak keluar nih Nak Iksan, malam Minggu loh, masa di rumah terus, apa tidak bosan..?” tanya Bu Mitha kemudian.

“Ah, nggak Bu, lagian keluar kemana, biasanya juga malam Minggu di rumah saja,” jawab Iksan sekenanya.

Lama mereka berdua terdiam sambil menikmati acara TV.

“Oh, ya, Bu, boleh saya buatkan minum..?” tanya Iksan tiba-tiba.

“Lho, tidak usah Nak Iksan, kok repot-repot..,”

“Ah, nggak apa-apa, sekali-kali saya yang buatkan minuman untuk Ibu, masak Ibu dan Bik Sumi saja yang selalu membuatkan minuman untuk saya.”

“Hm.., boleh kalau begitu, Ibu ingin minum teh saja,” kata Bu Mitha sambil tersenyum.

“Baiklah Bu, kalau begitu tunggu sebentar.” segera Iksan bergegas ke dapur.

Tidak lama kemudian Iksan sudah kembali sambil membawa nampan berisi dua teh dan sedikit makanan kecil di piring.

“Silakan Bu, diminum, mumpung masih hangat..!”

“Terima kasih, Nak Iksan.”

Akhirnya setelah sekian lama terdiam lagi, terlihat Bu Mitha sudah mulai mengantuk, tidak lama kemudian Bu Mitha sudah tertidur di kursi dengan keadaan memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh dan payudaranya yang indah. Tersenyum Iksan melihatnya.

“Akhirnya aku berhasil, ternyata obat tidur yang kubeli di apotik siang tadi benar-benar manjur, obat ini akan bekerja untuk beberapa saat kemudian,” gumam Iksan penuh kemenangan.

“Beruntung sekali tadi Bu Mitha mau kubuatkan teh, sehingga obat tidur itu dapat kucampur dengan teh yang diminum Bu Mitha,” gumamnya sekali lagi.

Sejenak Iksan memperhatikan Bu Mitha, tubuh yang pasrah yang siap dipermainkan oleh lelaki manapun. Timbul gejolak kelelakian Iksan yang normal tatkala melihat tubuh indah yang tergolek lemah itu.

Diremas-remasnya dengan lembut payudara yang montok itu bergantian kanan kiri sambil tangan yang satunya bergerilnya menyentuh paha sampai ke ujung paha. Terdengar desahan perlahan dari mulut Bu Mitha, spontan Iksan menarik kedua tangannya.

“Mengapa harus gugup, Bu Mitha sudah terpengaruh obat tidur itu sampai beberapa saat nanti,” gumam Iksan dalam hati.

Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Iksan kemudian membopong tubuh Bu Mitha memasuki kamar Iksan sendiri. Digeletakkan dengan perlahan tubuh yang indah di atas tempat tidur, sesaat kemudian Iksan sudah mengunci kamar, lalu mengeluarkan tali yang memang sengaja dia simpan siang tadi di laci mejanya.

Tidak lama kemudian Iksan sudah mengikat kedua tangan Bu Mitha di atas tempat tidur. Melihat keadaan tubuh Bu Mitha yang telentang itu, tidak sabar Iksan untuk melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mitha.

“Malam ini aku akan menikmati tubuhmu yang indah itu Bu Mitha,” kata Iksan dalam hati.
Satu-persatu Iksan melepaskan apa saja yang dipakai oleh Bu Mitha. Perlahan-lahan, mulai dari daster, BH, kemudian celana dalam, sampai akhirnya setelah semua terlepas, Iksan menyingkirkannya ke lantai.

Terlihat sekali sekarang Bu Mitha sudah dalam keadaan polos, telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Diamati oleh Iksan mulai dari wajah yang cantik, payudara yang montok menyembul indah, perut yang ramping, dan terakhir paha yang mulus dan putih dengan gundukan daging di pangkal paha yang tertutup oleh rimbunnya rambut.

Sesaat kemudian Iksan sudah menciumi tubuh Bu Mitha mulai dari kaki, pelan-pelan naik ke paha, kemudian berlanjut ke perut dan terakhir ciuman Iksan mendarat di payudara Bu Mitha. Sesekali terdengar desahan kecil dari mulut Bu Mitha, tapi Iksan tidak memperdulikannya.

Diciumi dan diremas-remas kedua payudara yang indah itu dengan mulut dan kedua tangan Iksan. Puting merah jambu yang menonjol indah itu juga tidak lepas dari serangan-serangan Iksan. Dikulum-kulum kedua puting itu dengan mulutnya dengan perasaan dan gairah birahi yang sudah memuncak. Setelah puas Iksan melakukan itu semua, perlahan-lahan dia bangkit dari tempat tidur.

Satu-persatu Iksan melepas pakaian yang melekat di badannya, akhirnya keadaan Iksan sudah tidak beda dengan keadaan Bu Mitha, telanjang bulat, polos, tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.

Terlihat kemaluan Iksan yang sudah mengencang hebat siap dihunjamkan ke dalam vagina Bu Mitha. Tersenyum Iksan melihat rudalnya yang panjang dan besar, bangga sekali dia mempunyai rudal dengan bentuk begitu.

Perlahan-lahan Iksan kembali naik ke tempat tidur dengan posisi telungkup menindih tubuh Bu Mitha yang telanjang itu, kemudian dia memegang rudalnya dan pelan-pelan memasukkannya ke dalam vagina Bu Mitha.

Iksan merasakan vagina yang masih rapat karena sudah setahun tidak pernah tersentuh oleh laki-laki. Akhirnya setelah sekian lama, rudal Iksan sudah masuk semuanya ke dalam vagina Bu Mitha.

Ketika Iksan menghunjamkan rudalnya ke dalam vagina Bu Mitha sampai masuk semua, terdengar rintihan kecil Bu Mitha, “Ah.., ah.., ah..!”

Tapi Iksan tidak menghiraukannya, dia lalu menggerakkan kedua pantatnya maju munjur dengan teratur, pelan-pelan tapi pasti.

“Slep.., slep.., slep..,” terdengar setiap kali ketika Iksan melakukan aktivitasnya itu, diikuti dengan bunyi tempat tidur yang berderit-derit.

“Uh.., oh.., uh.., oh..,” sesekali Iksan mengeluh kecil, sambil tangannya terus meremas-remas kedua payudara Bu Mitha yang montok itu.

Lama Iksan melakukan aktivitasnya itu, dirasakannya betapa masih kencangnya dan rapatnya vagina Bu Mitha. Akhirnya Iksan merasakan tubuhnya mengejang hebat, merapatkan rudalnya semakin dalam ke vagina Bu Mitha.

“Ser.., ser.., ser..,” Iksan merasakan cairan yang keluar dari ujung kemaluannya mengalir ke dalam vagina Bu Mitha.

“Oh.. ah.. oh.. Bu Mitha.., oh..!” terdengar keluhan panjang dari mulut Iksan.

Setelah itu Iksan merasakan tubuhnya yang lelah sekali, kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping tubuh Bu Mitha dengan posisi memeluk tubuh Bu Mitha yang telah dinikmatinya itu.

Lama Iksan dalam posisi itu sampai pada akhirnya dia dikejutkan oleh gerakan tubuh Bu Mitha yang sudah mulai siuman. Secara reflek, Iksan bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah saklar lampu dan mematikannya.

Tertegun Iksan berdiri di samping tempat tidur dalam kamar yang sudah dalam keadaan gelap gulita itu. Sesaat kemudian terdengar suara Bu Mitha.

“Oh, dimana aku, mengapa gelap sekali..?”

Sebentar kemudian suasana menjadi hening.

“Dan, mengapa tanganku diikat, dan, oh.., tubuhku juga telanjang, kemana pakaianku, apa yang terjadi..?” terdengar suara Bu Mitha pelan dan serak.

Suasana hening agak lama. Iksan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia diam saja.

Terdengar lagi suara Bu Mitha mengeluh, “Oh.., tolonglah aku..! Apa yang terjadi padaku, mengapa aku bisa dalam keadaan begini, siapa yang melakukan ini terhadapku..?” keluh Bu Mitha.

Akhirnya timbul kejantanan dalam diri Iksan, bagaimanapun setelah apa yang dia lakukan terhadap Bu Mitha, Iksan harus berterus terang mengatakannya semuanya.

“Ini saya..,” gumam Iksan lirih.

“Siapa, kamukah Yodi..? Mengapa kamu kembali lagi padaku..?” sahut Bu Mitha agak keras.

“Bukan, ini saya Bu.., Iksan..,” Iksan berterus terang.

“Iksan..!” kaget Bu Mitha mendengarnya.

“Apa yang kamu lakukan pada Ibu, Iksan..? Bicaralah..! Mengapa Ibu kamu perlakukan seperti ini..?” tanya Bu Mitha kemudian.

Kemudian Iksan bercerita mulai dari awal sampai akhir, bagaimana mula-mula dia tertarik pada Bu Mitha, sampai pada keheranannya bagaimana juga Bu Mitha dapat hidup sendiri selama setahun tanpa ada laki-laki yang dapat memuaskan hasrat birahi Bu Mitha.

Juga tidak lupa Iksan menceritakan semua yang dia lakukan terhadap Bu Mitha selama Bu Mitha tidak sadar karena pengaruh obat tidur. Tertegun Bu Mitha mendengar semua perkataan Iksan. Lama mereka terdiam, tapi terdengar Bu Mitha bicara lagi.

“Iksan.., Iksan.., Ibu memang menginginkan laki-laki yang bisa memuaskan hasrat birahi Ibu, tapi bukan begini caranya, mengapa kamu tidak berterus-terang pada Ibu sejak dulu, kalaupun kamu berterus terang meminta kepada Ibu, pasti Ibu akan memberikannya kepadamu, karena Ibu juga merasakan bagaimana tidak enaknya hidup sendiri tanpa laki-laki.”

“Terus terang saya malu Bu, saya malu kalau Ibu menolak saya.”

“Tapi setidaknya kan, berterus terang itu lebih sopan dan terhormat daripada harus memperlakukan Ibu seperti ini.”

“Saya tahu Bu, saya salah, saya siap menerima sanksi apapun, saya siap diusir dari rumah ini atau apa saja.”

“Oh, tidak Iksan, bagaimanapun kamu telah melakukannya semua terhadap Ibu. Sekarang Ibu tidak lagi terpengaruh oleh obat tidur itu lagi, Ibu ingin kamu melakukannya lagi terhadap Ibu apa yang kamu perbuat tadi, Ibu juga menginginkannya Iksan tidak hanya kamu saja.”

“Benar Bu..?” tanya Iksan kaget.

“Benar Iksan, sekarang nyalakanlah lampunya, biar Ibu bisa melihatmu seutuhnya,” pinta Bu Mitha kemudian.

Tanpa pikir panjang lagi, Iksan segera menyalakan lampu yang sejak tadi padam. Sekarang terlihatlah kedua tubuh mereka yang sama-sama polos, dan telanjang bulat dengan posisi Bu Mitha terikat tangannya.

“Oh Iksan, tubuhmu begitu atletis. Kemarilah, nikmatilah tubuh Ibu, Ibu menginginkannya Iksan..! Ibu ingin kamu memuaskan hasrat birahi Ibu yang selama ini Ibu pendam, Ibu ingin malam ini Ibu benar-benar terpuaskan.”

Perlahan Iksan mendekati Bu Mitha, diperhatikan wajah yang tambah cantik itu karena memang kondisi Bu Mitha yang sudah tersadar, beda dengan tadi ketika Bu Mitha masih tidak sadarkan diri. Diusap-usapnya dengan lembut tubuh Bu Mitha yang polos dan indah itu, mulai dari paha, perut, sampai payudara. Terdengar suara Bu Mitha menggelinjang keenakan.

“Terus.., Iksan.., ah.. terus..!” terlihat tubuh Bu Mitha bergerak-gerak dengan lembut mengikuti sentuhan tangan Iksan.

“Tapi, Iksan, Ibu tidak ingin dalam keadaan begini, Ibu ingin kamu melepas tali pengikat tangan Ibu, biar Ibu bisa menyentuh tubuhmu juga..!” pinta Ibu Mitha memelas.

“Baiklah Bu.”

Sedetik kemudian Iksan sudah melepaskan ikatan tali di tangan Bu Mitha. Setelah itu Iksan duduk di pinggir tempat tidur sambil kedua tangannya terus mengusap-usap dan meremas-remas perut dan payudara Bu Mitha.

“Nah, begini kan enak..,” kata Bu Mitha.

Sesaat kemudian ganti tangan Bu Mitha yang meremas-remas dan menarik maju mundur kemaluan Iksan, tidak lama kemudian kemaluan Iksan yang diremas-remas oleh Bu Mitha mulai mengencang dan mengeras. Benar-benar hebat si Iksan ini, dimana tadi kemaluannya sudah terpakai sekarang mengeras lagi. Benar-benar hyper dia.

“Oh.., Iksan, kemaluanmu begitu keras dan kencang, begitu panjang dan besar, ingin Ibu memasukkannya ke dalam vagina Ibu.” kata Bu Mitha lirih sambil terus mempermainkan kemaluan Iksan yang sudah membesar itu.

Diperlakukan sedemikian rupa, Iksan hanya dapat mendesah-desah menahan keenakan.
“Bu Mitha, oh Bu Mitha, terus Bu Mitha..!” pinta Iksan memelas.

Semakin hebat permainan seks yang mereka lakukan berdua, semakin hot, terdengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan kecil yang keluar dari mulut mereka berdua.

“Oh Iksan, naiklah ke atas tempat tidur, naiklah ke atas tubuhku, luapkan hasratmu, puaskan diriku, berikanlah kenikmatanmu pada Ibu..! Ibu sudah tak tahan lagi, ibu sudah tak sabar lagi..” desis Bu Mitha memelas dan memohon.

Sesaat kemudian Iksan sudah naik ke atas tempat tidur, langsung menindih tubuh Bu Mitha yang telanjang itu, sambil terus menciumi dan meremas-remas payudara Bu Mitha yang indah itu.

“Oh, ah, oh, ah.., Iksan oh..!” tidak ada kata yang lain yang dapat diucapkan Bu Mitha yang selain merintih dan mendesah-desah, begitu juga dengan Iksan yang hanya dapat mendesis dan mendesah, sambil menggosok-gosokkan kemaluannya di atas permukaan vagina Bu Mitha. Reflek Bu Mitha memeluk erat-erat tubuh Iksan sambil sesekali mengusap-usap punggung Iksan.

Sampai suatu ketika, tangan Bu Mitha memegang kemaluan Iksan dan memasukkannya ke dalam vaginanya.

Pelan dan pasti Iksan mulai memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mitha, sambil kedua kakinya bergerak menggeser kedua kaki Bu Mitha agar merenggang dan tidak merapat, lalu menjepit kedua kaki Bu Mitha dengan kedua kakinya untuk terus telentang.

Akhirnya setelah sekian lama berusaha, karena memang tadi Iksan sudah memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mitha, sekarang agak gampang Iksan menembusnya, Iksan sudah berhasil memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam vagina Bu Mitha.

Kemudian dengan reflek Iksan menggerakkan kedua pantatnya maju mundur teru-menerus sambil menghunjamkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mitha.

“Slep.., slep.., slep..,” terdengar ketika Iksan melakukan aktivitasnya itu.

Terlihat tubuh Bu Mitha bergerak menggelinjang keenakan sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya mengikuti irama gerakan pantat Iksan.

“Ah.., ah.., oh.. Iksan.., jangan lepaskan, teruskan, teruskan, jangan berhenti Iksan, oh.., oh..!” terdengar rintihan dan desahan nafas Bu Mitha yang keenakan.

Lama Iksan melakukan aktivirasnya itu, menarik dan memasukkan kemaluannya terus-menerus ke dalam vagina Bu Mitha. Sambil mulutnya terus menciumi dan mengulum kedua puting payudara Bu Mitha.

“Oh.., ah.. Bu Mitha, oh.., kamu memang cantik Bu Mitha, akan kulakukan apa saja untuk bisa memuaskan hasrat birahimu, ih.., oh..!” desis Iksan keenakan.

“Oh.., Iksan.., bahagiakanlah Ibu malam ini dan seterusnya, oh Iksan.., Ibu sudah tak tahan lagi, oh.., ah..!”

Semakin cepat gerakan Iksan menarik dan memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mitha, semakin hebat pula goyangan pantat Bu Mitha mengikuti irama permainan Iksan, sambil tubuhnya terus menggelinjang bergerak-gerak tidak beraturan.

Semakin panas permainan seks mereka berdua, sampai akhirnya Bu Mitha merintih, “Oh.., ah.., Iksan.., Ibu sudah tak tahan lagi, Ibu sudah tak kuat lagi, Ibu mau keluar, oh Iksan.., kamu memang perkasa..!”

“Keluarkan Bu..! Keluarkanlah..! Puaskan diri Ibu..! Puaskan hasrat Ibu sampai ke puncaknya..!” desis Iksan menimpali.

“Mari kita keluarkan bersama-sama Bu Mitha..! Oh, aku juga sudah tak tahan lagi,” desis Iksan kemudian.

Setelah berkata begitu, Iksan menambah genjotannya terhadap Bu Mitha, terus-menerus tanpa henti, semakin cepat, semakin panas, terlihat sekali kedua tubuh yang basah oleh keringat dan telanjang itu menyatu begitu serasi dengan posisi tubuh Iksan menindih tubuh Bu Mitha.

Sampai akhirnya Iksan merasakan tubuhnya mengejang hebat, begitu pula dengan tubuh Bu Mitha. Keduanya saling merapatkan tubuhnya masing-masing lebih dalam, seakan-akan tidak ada yang memisahkannya.

“Ser.., ser.., ser..!” terasa keluar cairan kenikmatan keluar dari ujung kemaluan Iksan mengalir ke dalam vagina Bu Mitha, begitu nikmat seakan-akan seperti terbang ke langit ke tujuh, begitu pula dengan tubuh Bu Mitha seakan-akan melayang-layang tanpa henti di udara menikmati kepuasan yang diberikan oleh Iksan.

Sampai akhirnya mereka berdua berhenti karena merasa kelelahan yang amat sangat setelah bercinta begitu hebat.

Sejenak kemudian, masih dengan posisi yang saling menindih, terpancar senyum kepuasan dari mulut Bu Mitha.

“Iksan, terima kasih atas apa yang telah kau berikan pada Ibu..,” kata Bu Mitha sambil tangannya mengelus-elus rambut Iksan.

“Sama-sama Bu, aku juga puas karena sudah membuat Ibu berhasil memuaskan hasrat birahi Ibu,” sahut Iksan dengan posisi menyandarkan kepalanya di atas dada Bu Mitha.
Suasana yang begitu mesra.

“Selama disini, mulai malam ini dan seterusnya, Ibu ingin kamu selalu memberi kepuasan birahi Ibu..!” pinta Ibu Mitha.

“Saya berjanji Bu, saya akan selalu memberikan yang terbaik bagi Ibu..,” kata Iksan kemudian.

“Ah, kamu bisa saja San,” tersungging senyum di bibir Bu Mitha.

“Tapi, ngomong-ngomong bagaimana dengan Ida dan Bik Sumi..?” tanya Iksan.

“Lho, kita kan bisa mencari waktu yang tepat. Disaat Ida berangkat sekolah juga bisa, dan Bik Sumi di dapur. Di saat keduanya tidur pun kita bisa melakukannya. Pokoknya setiap saat dan setiap waktu..!” jawab Bu Mitha manja sambil tangannya mengusap-usap punggung Iksan.

Sejenak Iksan memandang wajah Bu Mitha, sesaat kemudian keduanya sama-sama tertawa kecil. Akhirnya apa yang mereka pendam berdua terlampiaskan sudah. Sambil dengan keadaan yang masih telanjang dan posisi saling merangkul mesra, mereka akhirnya tertidur kelelahan.

CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAGINA MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAGINA MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAGINA MERAH BASAH, ABG HOT VAGINA MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL, SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK NGANGKANG DIENTOT, FILM VAGINA MERAH BASAH PANAS

About Vanita Esma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*