Cerita Sex Inspirasi Gerakan dari Bersenggama | Haus Sex
Vimax cresizedimage.php Agen Capsa
Pembesar Penis Bandar Q Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online , Sakong Online Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya
agen bandarq online

Cerita Sex Inspirasi Gerakan dari Bersenggama

VIMAX Bandar Capsa

Situs Terlengkap Untuk Cerita Dewasa Pribadi | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Hot | Cerita ABG | Cerita Tante tante | Cerita Sex Jilbab | Seks Bergambar – Inspirasi Gerakan dari Bersenggama. Penari yang terkenal dengan hidung mancungnya dan kedua mata yang lentik dengan bibir yang tipis merona dia bernama Reni, dia juga pencipta koreografer yang ciamik, pada suatu pentas dia menampilkan tarian unggulannya dan banyak penonton yang memberi aplous sebuah penghargaan buat dirinya

Cerita Dewasa Inspirasi Gerakan dari Bersenggama

cerita sex terbaru, cerita dewasa, cerita mesum terbaru, cerita sex mesum, cerita mesum 18, cerita mesum baru, cerita mesum terkini, cerita mesum 17, cerita mesum terhot, koleksi cerita mesum, mesum cerita, kumpulan cerita mesum bergambar, galeri cerita mesum, cerita mesum paling panas, cerita mesum dan fotonya

Dengan rambut yang kini meriap menyentuh bahu, hidung bangir yang tegak di antar dua mata bak telaga bening, dan bibir basah yang selalu siap menyungging senyum, Reni adalah Dang Hyang Tari: seorang queen of the dance terkenal di ibukota.

Apalagi ia adalah juga pencipta, seorang koreografer ulung yang mencampurkan tradisi dan modernisasi. Satu tariannya, The Cocoon mengundang pujian setinggi langit dari para kritikus dalam dan luarnegeri. Itulah tarian sepenuh jiwa tentang kempompong yang berubah menjadi kupu-kupu.

Di bawah sorot tunggal lampu panggung yang kosong (kecuali oleh sebuah pohon hidup setinggi satu setengah meter di tengahnya), Reni meliukkan tubuhnya yang terbungkus kain putih sekujur badan, dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Gerakannya aneh, sekaligus magis karena ada warna tarian wilayah Indonesia Timur, sedikit Bali, ditambah sedikit gerakan Serampang Duabelas, juga penuh lentingan-lentingan yang sulit ditiru. Seperti tari-tari balet modern.

Kadang-kadang ia meliuk ke belakang sampai punggungnya hampir menyentuh lantai panggung; lalu memutar sambil menjulur ke atas dalam gerakan lembut; lalu tangannya terentang menerobos keluar dari balutan kain; lalu kelima jarinya merentang dan bergerak cepat seperti digetarkan oleh motor listrik. Satu cincin yang dipakai di jari tengahnya, berkerejap-berkilau bagai pemantik laser.

Penonton kerap bertepuk tangan. Kritikus tari duduk terpana di baris depan. Media massa segera meliput kemana pun ia pergi. Namanya pun melejit: Reniduwati, Ratu Baru Dunia Tari. Sebuah stasiun televisi mewawancarainya di belakang panggung. Wajahnya sumringah masih berpeluh.

Tubuhnya yang agak kurus tetapi padat-berisi, terbungkus ketat oleh baju kaos dan celana panjang hitam. Matanya itu….. Ya, matanya terus berbinar sepanjang wawancara. Dan ia bercerita tentang kegairahan mencipta tarian-tarian modern yang tak sepenuhnya melupakan tradisi lokal. Bercerita tentang karya monumentalnya, The Cocoon itu. Konon itulah pula ekspresi jiwanya.

“Mengapa harus kepompong, Mbak Reni?” tanya si pewawancara, seorang gadis muda yang tampak sekali mengagumi tokoh yang diwawancarainya.

“Ya, dia itu, kan, menjelma dari tidur panjang penuh penantian, ke kemerdekaan yang bisa membuatnya terbang. Aku menyimpulkan metamorfosa itu sebagai suatu yang megah, sekaligus rumit. Bayangkan saja, betapa bedanya antara ulat yang uget-uget, lalu kepompong yang patuh dan diam, lalu kupu-kupu yang indah!” kata Reni bersemangat, dalam satu tarikan nafas yang panjang.

Si pewawancara agak menganga, dan sempat dua atau tiga detik lupa mengajukan pertanyaan berikutnya. Untunglah Reni sangat santai, dan malah bercanda menepuk lengan pewawancaranya sambil berucap, “Begitulah kira-kira, jeng!”

Demikianlah nama Reni semakin mencuat. Apalagi kemudian ia sering menari di pusat-pusat kebudayaan asing di ibukota. Tak lama setelah debut-nya di Gedung Kesenian, Reni pun berkeliling Eropah selama satu bulan penuh; menari di beberapa festival di Jerman, Perancis, Inggris dan Italia. Usianya masih sangat muda untuk ukuran koreografer sekaliber itu.

Ia sedang menapak angka 30. Tetapi kalau melihat penampilannya yang ceria, segar, dan enerjik, orang pasti menyangka ia baru berusia 20-an. Dan ia masih melajang walau sudah tinggal di apartemen mewah dan punya sebuah BMW hadiah sepasang suami-istri pengusaha Jerman yang terkagum kepadanya.

Beberapa kali pria mencoba mendekatinya, tetapi ditampik dengan halus. Alasan terkuat yang diajukan Reni adalah: ia terlalu sibuk dengan sanggar dan tariannya. Dan memang ia sangat sibuk di tahun-tahun pertama karirnya.

Setelah The Cocoon, ia menciptakan dua karya cemerlang lagi. Satu diberi judul Padi – Kapas, ditarikan berpasangan dengan seorang penari pria asal Riau. Satu lagi bernama Serambi Para Gadis yang dinarikannya bersama 6 penari pengiring wanita. Kalau The Cocoon mengesankan kecanggihan Reni sebagai penari tunggal, maka dua karya lainnya ini memastikan Reni sebagai koreografer yang telah matang.

Tetapi setelah beberapa saat menjadi lajang paling populer seantero ibukota, Reni akhirnya luluh juga. Ada seorang pria yang mendekat kepadanya, dan koran atau majalah mulai bergosip tentang mereka. Namanya Niar, seorang gitaris kelompok jazz yang berjumpa-pandang dengan ratu tari itu pada sebuah acara kesenian yang diadakan Pusat Kebudayaan Jepang.

Niar adalah pemuda berdarah campuran. Ibunya orang Jepang. Ayahnya seorang Indo-Belanda. Oleh sebab itu ia bertampang unik, dengan mata Eropa yang kebiruan tetapi rambut Asia yang hitam legam. Semua orang bilang ia cute. Maka ia pun punya rasa percaya-diri yang cukup melimpah. Maka ia pun dengan gagah menegur lebih dahulu sambil memandang takjum sekaligus takjim.

“Halo, tarian Anda sungguh mengagumkan…,” katanya sambil mengacungkan tangan untuk bersalaman.

Reni memandang pemuda bercelana jeans dan berkaos putih di depannya, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu ia tersenyum, tetapi tidak menyambut tangan yang telah tersodor.

“Saya Niar, gitaris yang sebentar lagi manggung..,” kata Niar tetap gagah berani, walau tangannya terpaksa ditarik kembali.

“Saya Reni, penari yang baru turun dari panggung,” jawab Reni ringan sambil melap lehernya dengan sapu tangan. Harum semerbak menyebar dari setangan tipis itu.

“Renidu. Saya sudah tahu nama Anda. Semua orang sudah tahu,” kata Niar masih dengan gaya penuh percaya diri.

“Apakah orang juga tahu nama Niar?” ucap Reni yang tiba-tiba ingin mencandai pemuda cakep yang … ah, kenapa ia tiba-tiba ingat seorang pemuda secakep ini di masa lampaunya, di kampung sana?

Niar tersipu, “Wah, pasti belum banyak yang tahu saya,” katanya sambil melangkah merendengi Reni yang menuju kamar ganti pakaian.

“Ini jalan menuju kamar ganti, lho..,” kata Reni santai, “Kalau panggung, ke arah yang berlawanan.”

Niar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Saya mau menanyakan sesuatu kepada Anda,” katanya sambil terus merendengi Reni. Beberapa kru band melihat ke arah mereka, dan salah seorang bersuit-suit menggoda.

“Oh! .. saya kira mau minta tandatangan,” kata Reni lagi sambil tertawa kecil. Boleh, dong, sekali-kali menggoda pemain band, ucapnya dalam hati.

“Berapa nomor telepon rumah Anda?” tanya Niar sebelum keberaniannya hilang.

Mereka sudah sampai di depan kamar ganti khusus untuk Reni, dan wanita itu membalikkan badan menghadapi Niar yang kini terdiam menunggu jawaban bagai seorang terdakwa menunggu keputusan hakim.

“Mau mengajak makan malam?” tanya Reni dengan ringan, seakan-akan bertanya kepada seorang yang sudah dikenalnya lama. Tetapi justru pertanyaan seperti ini yang tidak diduga oleh Niar.

“Eh.. ah, bukan begitu,” ucap pemuda itu gugup, “Saya cuma ingin tahu nomor telepon…”

Reni tersenyum manis dan penuh godaan. Rasain! sergahnya dalam hati sambil berbalik dan masuk ke ruang ganti. Lalu sambil tetap tersenyum ia melirik sekali lagi ke Niar yang terpaku di depan pintu. Lalu ia tutup pintu kamar gantinya. Niar pun hilang dari pandangan mata. Kalau memang ia memerlukan nomor teleponku, pikir Reni, biarlah ia berusaha sedikit lebih keras.

Dan berusahalah Niar lebih keras. Agak sulit mulanya, karena Reni memang tidak mengumbar nomor telepon pribadi. Dia biasa dihubungi di sanggarnya. Karena itulah Niar ke sana. Berkali-kali ke sana, hanya untuk menunggu Reni berhenti melatih atau berlatih. Sudah dua kali ia datang, tetapi Reni masih harus melatih anak buahnya. Niar pulang dengan tangan hampa.

Pada suatu hari ia menunggu tak kurang dari 1 jam, hanya untuk kecewa karena sebuah stasiun televisi Jerman ternyata punya janji wawancara.

“Tetapi saya sudah di sini sejak 1 jam yang lalu, Reni!” protes Niar ketika Reni dengan ringannya melambaikan tangan sebelum menuju kolam ikan di bawah pohon perdu, tempat ia menerima kru televisi Jerman itu.

“Aku tahu,” ujar Reni sambil menembakkan lirik matanya yang bisa menumbangkan beringin itu.

“Lalu, musti menunggu berapa lama lagi?” kejar Niar.

“Dua, ….. mungkin tiga, mungkin empat jam,” jawab Reni ringan. Langkahnya gemulai tetapi cukup cepat untuk membuat Niar tergopoh-gopoh di belakangnya.

Niar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sial, umpatnya dalam hati, dua jam lagi aku janji latihan band.

Kru televisi kemudian mengatur berdiri Reni, dekat sebuah patung batu di pinggir kolam. Suara gemercik air terdengar lamat-lamat. Sinar mentari tak terlalu banyak, tetapi ada beberapa lampu sorot dan reflector yang dibawa khusus untuk memberi efek cahaya sempurna.

Seorang juru rias dengan sigap memupuri muka Reni yang berdiri patuh. Sementara Niar berdiri di kejauhan, masih bimbang apakah akan menunggu atau mengulang usahanya besok.

Reni memandang pemuda itu berdiri di bawah sebuah pohon. Ketika itulah, ketika melihat pohon itu, …. melihat seorang pemuda berdiri di bawahnya dengan wajah penuh harap…. Reni tiba-tiba teringat lagi seseorang dari masa lalunya.

Suasananya mirip: latihan menari, dan seseorang yang menunggu! Ingatan itu seperti menyelinap dan muncul tiba-tiba di depan mata-hatinya. Ingatan itu juga seperti sebuah cubitan; tidak sakit, tetapi cukup menyengat. Sebuah perasaan hangat yang sulit dicerna tiba-tiba memenuhi dadanya. Di manakah dia sekarang? bisik Reni dalam hati.

Niar melihat Reni memandang ke arahnya. Pemuda itu menoleh ke belakang. Ia ragu-ragu, benarkah wanita mempesona itu sedang memandangnya, atau pohon di belakangnya? Ketika pasti bahwa tidak ada siapa-siapa di belakangnya, kecuali sebuah pohon yang tak begitu menarik, Niar menoleh kembali ke Reni. Dan Reni tersenyum.

Jantung Niar berdegup setengah kali lebih cepat dari sebelumnya. Cepat-cepat ia membalas senyum itu. Dan Reni tersenyum lebih lebar lagi, memperlihatkan sederet giginya yang bak mutiara itu. Wahai, Niar seperti disiram air sejuk di tengah siang yang kerontang ini. Lalu bibir Reni bergerak, mengucapkan sesuatu tetapi tak terdengar.

“Apa?” tanya Niar dengan suara keras, membuat semua orang menengok ke arahnya.

“Besok!” teriak Reni membalas, dan semua orang menengok ke arah wanita itu.

“Apanya yang besok?” teriak Niar. Semua orang menengok ke pemuda itu lagi.

“Besok jam 4 sore. Aku tunggu di sini!” sahut Reni. Semua orang tidak menengok ke wanita itu lagi, melainkan memandang pemuda itu. Menunggu reaksinya.

Niar berpikir cepat. Besok ada janji dengan salah satu majalah musik. Bisa ditunda! Maka cepat-cepat ia mengepalkan tinju, lalu membuat gerakan membetot dengan tangannya sambil berteriak “Yes!”

Reni tertawa renyai melihat tingkah pemuda itu. Semua orang ikut tertawa. Pemimpin kru televisi bahkan bertepuk tangan. Juru rias sejenak menggeleng-gelengkan kepalanya. Kameraman yang bertolak-pinggang dan berwajah angker itu pun ikut tersenyum. Niar was terribly happy!

Begitulah akhirnya Niar menjadi pacar Reni setelah delapan makan malam, satu kencan di disko, dan satu kali pergi bareng ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu.

Sekarang, kemana pun Reni manggung, pasti ada Niar. Kemana pun band Niar menggelar jazz-rock-nya, ke sanalah Reni pergi. Pasangan itu tampak serasi. Yang satu tampak gagah dengan tubuh selalu terbungkus t-shirt putih bersih. Yang satu tampak cantik walau juga cuma dibungkus t-shirt ungu atau hitam. Keduanya selalu memakai celana jeans. Konon, setiap membeli jeans, pasti sepasang. Media massa sibuk membuat spekulasi. Pertanyaannya satu: kapan mereka menikah?

Padahal usia mereka terpaut hampir 3 tahun. Seorang jurnalis iseng mengangkat topik ini, tetapi ia didamprat redakturnya. Kata redakturnya yang berkaca-mata tebal dan berusia hampir 60 tahun itu, jangan memancing kemarahan pembaca yang tidak peduli pada usia, dan yang ingin terus membaca kisah dewa-dewi. Maka sang jurnalis yang baru berusia 25 tahun itu dengan cemberut menghapus alinea-alinea yang menyoal usia Reni dan Niar.

Tetapi sesungguhnyalah soal usia ini jadi topik cukup hangat di antara mereka berdua. Misalnya, pada sebuah malam penuh bintang, ketika dengan manja Reni duduk di pangkuan Niar di tepi pantai, pemuda itu berbisik di telinganya, “Kapan aku bisa menyusul usia kamu?”

“Kalau kamu sudah bisa beli mesin waktu!” sergah Reni sambil mengucek-ucek rambut kekasihnya.

“Berapa harga mesin waktu?” bisik Niar sambil mencium leher Reni yang selalu semerbak itu.

“Tanya saja di tokonya,” kata Reni sambil mendorong tubuhnya ke belakang, menyandar sepenuhnya ke dada Niar yang kokoh dan bidang itu.

“Bagaimana kalau kamu saja yang mengurangi usiamu?” kata Niar sambil melingkarkan tangannya di pinggang Reni. Hmm.., nyaman sekali mendekap tubuh kekasih di depan debur ombak dan di bawah sejuta bintang.

“No way!” sergah Reni sambil mencubit lengan kekasihnya gemas.

“Aduh! Kenapa harus mencubit, sih?!”

“Gemes! Kamu suka tanya-tanya yang tidak bisa dijawab!” sergah Reni mencubit lagi.

Niar mengaduh lagi. Juga mengaduh dalam hati, karena sesungguhnya ia agak risau dengan perbedaan usia. Seorang rekan satu band pernah bertanya menyindir, apakah enak menjadi daun muda. Kalau itu bukan si Gatot yang ototnya diperlukan untuk menabuh drum, pasti Niar sudah meninjunya!

Reni juga tahu apa yang di-aduh-kan Niar. Maka ia membalikkan tubuhnya, duduk di pangkuan Niar sambil menghadapnya. Kedua tangannya dikaitkan ke leher pemuda itu. Pandangan mereka beradu. Reni tersenyum, lalu mengecup bibir pemuda itu sekilas.

“Kamu risau soal usia lagi, ya!?” ucap Reni setengah berbisik.

Niar mengangguk sambil memandang dua telaga bening di depannya. Oh, sejuk sekali telaga itu. Bisakah ia berenang di sana?

“Kenapa musti risau?” tanya Reni lagi sambil mengecup ujung hidung pemuda itu dengan lembut.

“Karena aku ingin menikahimu,” kata Niar tegas. Ini adalah kali ketiga ia mengatakan kalimat yang persis sama, kata demi kata.

Reni tertawa renyai. Ia sudah bisa menduga jawabnya. Dan ia juga sudah selalu menjawabnya dengan tak kalah tegas, “No way, Hosey!”.

“Apakah karena aku lebih muda?” desak Niar.

“Bukan-bukan-bukan,” kata Reni sambil berdendang. Ada lagu dang-dut yang berisi lirik itu. Reni suka menggoda Niar dengan mengatakan bahwa dang-dut lebih mudah dicerna daripada lengkingan gitar jazz.

“Ayolah kita menikah, Reni!” ujar Niar sambil merengkuh tubuh kekasihnya, lalu mencium bibirnya yang ranum itu. Reni sejenak gelagapan. Ia melepaskan diri dengan mendorong sekuat tenaga.

“Kamu mengajak menikah seperti mau memperkosa!” sergah Reni sambil tertawa.

“Sekarang aku yang gemes. Ayo kita kawin!” kata Niar mencoba mencium lagi, tetapi gagal.

“Jangan di sini,” kata Reni sambil tertawa nakal. Niar semakin gemas. Direngkuhnya kuat-kuat tubuh mungil yang sintal-padat itu. Diciumnya bibir merekah-basah yang menggairahkan itu. Dilumatnya sepenuh hati. Dibuatnya Reni mengerang-mendesah. Niar tidak peduli dan terus mencium. Panjang dan lama sekali ciuman itu. Kira-kira 12 menit 32 detik.

“Pulang, yuk?” bisik Reni dengan nafas memburu ketika ciuman mereka usai.

“Your place or mine?” bisik Niar juga dengan nafas memburu.

“Ke sanggar saja!” desah Reni. Itu adalah permintaan yang tak mengherankan Niar. Wanita pujaannya ini punya sebuah kamar yang mirip gua pertapaan di sanggarnya. Di sana cuma ada kasur berlaskan tikar rotan Kalimantan.

Seluruh lantainya ditutupi tikar pandan dengan corak tradisional, berwarna hijau-kuning-merah yang agak kusam. Dindingnya dihiasi berbagai kain tenun Sumbawa. Ada pula sebuah kain tenun Sumatera Barat terselampir seenaknya.

Di pojok ruangan ada dudukan lampu setinggi satu meter, terbuat dari padas. Kalau lampu dinyalakan, cahayanya hanya temaram saja, seperti lampu sentir minyak tanah di desa-desa. Di salah satu dinding ada cermin besar yang bisa memantulkan seluruh isi ruang. Di kamar itulah Reni mencipta banyak tarian, termasuk tiga masterpieces-nya.

Di “gua pertapaan” Reni itulah mereka juga sering bercinta dan bercinta lagi.

Reni menumpahkan segala kegairahan badaniahnya di atas tubuh kokoh kekasihnya. Ia seperti tak letih-letihnya menggumuli tubuh yang dengan sukahati melayani segala permintaannya itu. Bagi Reni, pemuda ini adalah lover boy yang mengagumkan. Dengan pemuda inilah ia bisa mengarungi samudera sensual yang penuh dengan puncak-puncak ombak kenikmatan itu. Ia bisa leluasa duduk di pinggul pemuda itu, merasakan dirinya bagai dipancang-tegak oleh kekuatan yang nyaris tak pernah sirna.

Ia bisa bebas bergerak, bahkan menarikan tarian erotik, di atas tubuh yang berpeluh itu. Lagi dan lagi ia merengut puncak demi puncak kenikmatan, yang makin lama makin tinggi menggapai langit birahi.

Sejak berpacaran dengan Niar, ada sesuatu yang terbangkit di diri Reni. Entah betul, entah tidak. Gairah sensual Reni selalu menggebu pada percumbuan mereka. Anehnya, setiap kali sehabis bercinta dengan pemuda itu, selalu datang inspirasi indah untuk sebuah tari.

Seringkali setelah pemuda itu pulang, setelah Reni puas tergeletak di kasur percintaan mereka, datang ide untuk gerakan-gerakan tari. Lalu, malam-malam, atau pagi-pagi sekali, Reni bangun untuk mematangkan ide itu. Bertelanjang dada ia menari sendirian di depan cermin, mencoba gerakan-gerakan baru dan mencatat setiap gerak yang telah ia rasakan sempurna.

Apakah semua seniman begitu? Apakah semua seniman memakai sumberdaya seksual untuk pemicu daya cipta? Mungkinkah ada hubungan antara orgasme dan ide yang cemerlang? Ah, pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah terjawab oleh Reni. Ia juga akhirnya tak peduli, dan tak pernah mau mencoba membuktikan benar-tidaknya. Ia terus saja berkarya, dan terus pula bercinta.

Niar pada mulanya terkejut ketika mereka pertama-kali bercinta, kira-kira empat bulan yang silam, atau tiga bulan setelah perkenalan mereka. Tidaklah ia menyangka bahwa wanita cantik yang cerdas dan kreatif itu ternyata adalah seorang petualang sensual di atas ranjang.

Niar pada awalnya berlaku sopan dalam bercinta, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak mengejar badan melainkan hati wanita itu. Tetapi setelah dua kali bercinta, Niar tak peduli lagi. Ia pun melayani saja segala permintaan Reni, betapa pun liar dan sensualnya permintaan itu.

Seperti malam ini, di awal percumbuan, Reni berbisik serak, “Eat me, please…”. Dan Niar pun dengan senang hati memenuhi permintaan itu. Dan wanita itu mengerang-erang menikmati tiga kali puncak kenikmatan.

Tubuh bagian atasnya masih terbungkus lengkap. Hanya dari pinggang ke bawah yang terbuka-bebas. Sebuah kursi rotan dibawa masuk kamar, khusus untuk itu. Dan di atas kursi itu Reni menggelepar-geleparkan orgasmenya sambil merintih-memohon agar Niar melakukannya lagi dan lagi. Ia minta dikulum. Ia minta digigit-gigit kecil. Ia minta ditelusupi-ditelusuri. Ia minta ini, ia minta itu. Semua diberikan oleh Niar.

Lalu, lama setelah itu, Reni minta digendong ke kasur yang tergeletak dingin di lantai. Di situ ia minta Niar melumat-luluh-lantakkan tubuhnya yang telah telanjang sepenuhnya. Di situ mereka bergumul kekiri-kekanan, depan-belakang, atas-bawah.

Lalu Reni minta di atas. Niar pun sukarela menggeletakkan tubuhnya yang memang sudah cukup letih. Lalu Reni mendominasi permainan yang seperti tak pernah bisa dihentikan ini. Berkali-kali wanita itu menjerit-jerit kecil, menggigit bibirnya sendiri, meremas bahu Niar di bawahnya, menjepitkan kedua pahanya yang sudah basah kuyup oleh peluh mereka berdua. Berkali-kali!

Barulah 95 menit kemudian, … mungkin lebih…., mungkin dua jam kemudian…. keduanya terhempas di pantai pencapaian bersama. Tergeletaklah keduanya dengan nafas terengah-engah dan wajah letih tetapi penuh kepuasan.

Kasur dan seprainya sudah awut-awutan centang-perentang basah dan lengket pula di sana-sini. Reni menelungkup di dada lover boy-nya. Ia pejamkan mata dengan nikmat. Dan saat itulah ia berpikir tentang sebuah gerakan kaki untuk proyek tarian berikutnya, yang diberi judul Untuk Langit Untuk Laut (For the Sky, For the Sea). Ia berpikir tentang sebuah gerakan menendang sambil meregang, seperti ketika tadi ia menikmati orgasmenya, entah yang keberapa!

Nama Renidu terus mencuat di dunia panggung. Setelah tariannya, orang mulai melirik kemampuan aktingnya. Sebuah sinetron segera dibuat untuknya dan Reni mendapat banyak sekali uang untuk 12 episode. Baginya, sinetron ini juga tidak terlalu baru karena kisahnya adalah tentang seorang penari ronggeng di sebuah dukuh terpencil. Reni sangat menyukai peran ini karena ia juga bisa “memaksa” sutradaranya memakai beberapa gerakan ciptaannya sendiri.

Hidup Reni mulai gemerlap dan sibuk. Niar dengan setia berada di sampingnya, dan Reni bersyukur memiliki pacar yang bisa disandarinya kalau sedang capai, bisa diajak bercanda kalau sedang gundah, dan bisa diajak bercinta kapan saja!

Sinetronnya belum lagi ditayangkan, ketika pada suatu malam di sela shooting seorang asistennya datang membawa sebuah foto seorang anak dara yang minta ditandatangani. Sambil menghirup minuman dingin, dengan acuh tak acuh Reni menerima foto itu dan bersiap-siap membubuhkan tandatangan.

Ia sudah siap untuk ini: menjadi populer dan dikejar-kejar pemburu tandatangan. Ia telah buat sebuah tandatangan sederhana yang bisa digoreskan dalam satu gerakan. Ia hampir tak pernah mengamati benda yang ditandatangani. Kali ini pun ia siap menggores, tetapi… sebentar dulu!

“Eh?!” Reni menjerit, tidak jadi menggoreskan tandatangannya, matanya terpaku pada foto gadis di tangannya. Ia kenal gadis itu. Nun di sebuah kota kecil, ia pernah lihat gadis ini. Ia tak pernah lupa matanya yang lembut dan wajahnya yang manis-polos itu.

“Kenapa?” Niar menjulurkan kepala dari sebelahnya, ikut memandangi foto itu.

“Aku rasanya kenal anak ini,” kata Reni sambil mengernyitkan dahi.

“Itu foto anak SMA, ada sejuta yang seperti dia,” kata Niar seenaknya.

“Justru itu. Aku kenal sewaktu anak ini masih SMA. Sekarang pasti bukan SMA lagi,” kata Reni sambil terus mengamati foto di tangannya.

“Orangnya ada di luar, Mbak,” kata sang asisten yang berdiri patut di sebelah Reni, memberanikan diri menyela.

“Kamu tahu namanya?” tanya Reni.

“Alma,” kata asistennya.

Tentu saja! sergah Reni dalam hati sambil bangkit menarik tangan asistennya dan berkata, “Antar saya ke anak itu!”

Di luar, Alma berdiri gelisah. Ia tidak yakin tindakannya itu bijaksana. Ia memang bermaksud meminta tandatangan sambil mencoba mengadu untung, siapa tahu Mbak Reni masih ingat. Ketika Alma melihat Mbak Reni keluar dari sebuah tenda tempat para artis beristirahat, gadis itu hampir tak mengenalinya lagi.

Maklumlah, wanita penari yang cantik itu kini semakin jelita dengan pakaian yang “wah” dan dengan aura yang penuh kharisma. Baru setelah dekat, Alma sadar ia berhadapan dengan Dang Hyang itu, dan lututnya lemas. Lidahnya kelu.

“Hai!” seru Reni riang melihat Alma berdiri terpaku. Ia tidak bisa lupa gadis ini, walau sekarang tampak agak kurus.

“Mbak Reni?” ucap Alma ragu-ragu.

“Ya! Apa kabar kamu, Alma!” seru Reni dengan riang. Niar yang melongok dari tenda sempat terheran, tetapi lalu masuk lagi.

Mereka berpelukan, walau Alma sempat kikuk menyambut rentangan tangan seorang bintang. Sedangkan Reni sendiri tanpa canggung menempelkan pipinya ke pipi gadis itu. Kurus sekali dia, pikir Reni sambil membayangkan seorang anak SMA dengan seragam putih abu-abu.

“Mbak tidak lupa kepada saya…,” bisik Alma seperti mau menangis. Sesungguhnya ia terharu diterima seperti ini oleh seseorang yang fotonya menghiasi sampul majalah wanita di seluruh Indonesia.

Reni tertawa sambil mencengkram erat bahu Alma, “Tidak! Mana mungkin Mbak lupa sama cah ayu seperti ini.”

Pipi Alma merona merah, dan sambil tersipu berkata, “Ah, bisa aja, Mbak!”

Hmm…, logatnya sudah seperti anak metropolitan, pikir Reni. Ia lalu menarik Alma untuk ikut masuk ke tenda para artis. Dengan canggung gadis itu mengikutinya. Ia seperti sedang bermimpi, melihat dari dekat para artis yang sedang shooting!

Lalu mereka bercakap-cakap panjang lebar. Terutama Reni yang memberondong dengan pertanyaan-pertanyaan, dan Alma menjawab polos betapa ia kini sudah berpraktek dengan mayat-mayat di rumah sakit, sudah pandai membersihkan nanah dari borok-borok di kaki pasien miskin dan para gembel, sudah pernah melihat darah tumpah ruah dari seorang ibu yang mengalami perdarahan…

“Astaga!… Anak sehalus ini akan menjadi tukang bedah perut orang?” seru Reni sambil tertawa riang. Niar ikut tertawa, dan berkomentar, “Asal jangan meninggalkan guntingnya di dalam!”

Alma ikut tertawa, agak lega karena ternyata para bintang itu manusia juga. Bisa bercanda dan tertawa seenaknya. Pastilah mereka makan nasi, dan sekali-kali pasti juga makan tempe, pikir Alma sambil melanjutkan tawanya dalam hati.

Lalu mereka bernostalgia tentang kota kecil nun di sana. Tentang pasar yang satu-satunya, dan tentang stasiun bis kota yang hanya ramai di akhir pekan. Kemudian juga tentang anak-anak peserta sanggar yang kata Alma sekarang sudah berpencaran. Ada yang jadi pegawai bank, ada yang jadi pramugari, ada yang kawin dengan juragan perahu. Tak satu pun yang jadi penari! … Reni tertawa gelak mendengar yang terakhir ini.

“Bagaimana kabar Kino?” tiba-tiba saja keluar pertanyaan itu dari mulut Reni yang sedang tertawa. Dan begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, begitu pula Reni tersadar. Tawanya berhenti. Eh, mengapa aku bertanya tentang dia? sergah hati kecilnya.

Alma ikut terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia tidak siap menjawabnya, karena ia pun tidak tahu kabar pemuda yang sempat mengisi relung-relung terdalam hatinya. Sekarang ia sulit sekali masuk ke relung-relung itu; sulit menemukan apakah nama pemuda bermata lembut yang selalu gundah itu tetap tergores di dinding hatinya.

“Maaf,” kata Reni melihat gadis di depannya terpana tak bisa menjawab. Ah, tetapi apa perlunya minta maaf? sergah hati kecilnya lagi.

“Saya juga tidak tahu, Mbak. Maaf juga,” ucap Alma memelas, tetapi justru tampak lucu. Reni pun segera tergelak untuk mencairkan suasana. Sudahlah, kata hati kecilnya, hentikan pertanyaan tentang pemuda itu.

“Ya, sudah! Kita ngomong yang lain saja,” kata Reni ringan di antara tawanya.

Lalu celoteh mereka berdua berlanjut. Niar pun merasa tersingkirkan, dan sambil bersungut pemuda itu meraih sebuah minuman dingin dan berlalu ke arah beberapa kru film yang sedang duduk-duduk main kartu remi.

Kalau saja shooting tidak segera dimulai, mungkin mereka akan bicara sampai berjam-jam lagi. Namun sutradara akhirnya berteriak, orang-orang segera berkemas, Reni pun siap dibedaki dan di-brief untuk adegan berikutnya.

Alma tahu diri. Dia segera pamit sambil memohon untuk boleh menemui Reni lagi di lain waktu. Reni tersenyum manis sambil mengangguk, lalu memberikan nomor telepon pribadinya. Alma segera mencatatnya, lalu segera meninggalkan wilayah shooting. Tak sedikit pun ia ingat bahwa fotonya belum lagi ditandatangani!

CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAGINA MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAGINA MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAGINA MERAH BASAH, ABG HOT VAGINA MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL, SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK NGANGKANG DIENTOT, FILM VAGINA MERAH BASAH PANAS

About Vanita Esma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*