Cerita Sex Merasakan Kepuasan yang Lebih | Haus Sex
Vimax Asli cresizedimage.php Bandar Q

Cerita Sex Merasakan Kepuasan yang Lebih

Alt/Text Gambar Alt/Text Gambar

Situs Terlengkap Untuk Cerita Dewasa Pribadi | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Hot | Cerita ABG | Cerita Tante tante | Cerita Sex Jilbab | Seks Bergambar – Merasakan Kepuasan yang Lebih. Kejadian ini terjadi pada Aida dengan penjaga kampus yang bejat , dimana Aida diperkosa oleh lelaki bejat itu, Aida yang ditinggal sama orangntuanya keluar kota selama 4 hari karena menghadiri pernikahan saudaranya, Aida tak sendiri dia juga ada pembantu yang namanya Mbak Narti dan Mbak Jum dan ada tukang kebun.

Cerita Dewasa Merasakan Kepuasan yang Lebih

kumpulan cerita sex perkosaan, cerita perkosaan sadis, cerita perkosaan nikmat, cerita perkosaan bergambar, cerita perkosaan paksa, cerita perkosaan enak, cerita perkosaan mahasiswi, cerita nyata perkosaan, cerita cerita perkosaan, cerita perkosaan pelajar, cerita perkosaan nyata, cerita perkosaan di hotel, cerita perkosaan wanita, cerita orang perkosaan, cerita perkosaan baru, cerita cinta perkosaan, cerita perkosaan pacar

Hari itu jam sepuluh pagi, Mbak Jum dan Narti pun berpamitan pada Aida untuk mudik, Aida sebelumnya memang sudah diberitahu hal ini oleh mamanya dan dititipi sejumlah uang untuk mereka. Maka Aida pun menyerahkan kedua amplop berisi uang itu kepada mereka sebelum mereka meninggalkannya.

“Cepetan balik yah Mbak, saya sendirian nih jadinya !” pesan Aida.

“Non nggak usah takut kan disini masih ada Pak Udin, oh iya makanan buat siang nanti Mbak udah siapkan di meja, kalau dingin masukin oven aja yah” kata Mbak Narti.

Akhirya kedua wanita itupun berangkat. Aida sebenarnya agak risih di rumah hanya berdua dengan Pak Udin, apalagi masih belum hilang dari ingatannya kenangan pahit diperkosa mantan sopirnya, Nurdin dulu.

Dia ingin memanggil pacarnya Frans untuk menemaninya, namun sayang pemuda itu baru berangkat bersama keluarganya ke Singapura kemarin. Namun dia agak lega karena menurutnya Pak Udin bukanlah pria berbahaya seperti mantan sopirnya itu, dia adalah pria berusia lanjut, 67 tahun dan orangnya cukup sopan, kalau berpapasan selalu menyapanya walaupun seringkali Aida cuek karena sedang buru-buru atau tidak terlalu memperhatikan.

Ia baru bekerja di rumah mewah itu sebulan yang lalu menggantikan tukang kebun sebelumnya, Pak Maman yang mengundurkan diri setelah istrinya di kampung meninggal. Setelah mengantarkan kedua pembantunya hingga ke pagar, Aida kembali ke dalam dan masuk ke kamarnya.

Di sana dia mengganti bajunya dengan baju fitness yang seksi, atasannya berupa kaos hitam tanpa lengan yang menggantung ketat hingga bawah dada sehingga memperlihatkan perutnya yang seksi, belum lagi keketatannya menonjolkan bentuk dadanya yang membusung indah, sementara bawahannya berupa celana pendek yang membungkus paha hingga sepuluh centi diatas lutut.

Setelah mengikat rambutnya ke belakang, dia segera turun ke bawah menuju ruang fitness di belakang rumah. Ruang itu berukuran sedang dengan dilapisi karpet kelabu, beberapa peralatan fitness tersedia disana seperti treadmill, training bike, perangkat multi gym, hingga yang kecil-kecil seperti abdomenizer dan barbel. Ruang fitness keluarga ini memang cukup lengkap, disinilah Aida sering berolahraga menjaga kebugaran dan bentuk tubuhnya.

Sebelum mulai berolah raga Aida menyalakan CD playernya dan terdengarlah musik R&B mengalun dari speaker yang terpasang pada dua sudut ruangan itu. Aida memulai latihan hari itu dengan treadmill, kira-kira dua puluh menit lamanya dia berjalan di atas papan treadmill itu lalu dia berpindah ke perangkat multi gym.

Disetelnya alat itu menjadi mode sit up dan mulailah dia mengangkat-angkat badannya melatih perut sehingga tidak heran jika dia memiliki perut yang demikian rata dan mulus. Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh gadis itu, dari kening dan pelipisnya keringatnya menetes-netes.

Tiba-tiba Aida merasa dirinya ada yang sedang mengawasi, dia melayangkan pandangannya ke arah pintu geser yang setengah terbuka dimana dilihatnya Pak Udin, si tukang kebun itu sedang berdiri memandangi dirinya.

“Heh…ngapain Bapak disitu !?” hardik Aida yang marah atas kelancangan Pak Udin yang masuk diam-diam itu.

“Nggak Non, abis nyiram tanaman aja kebetulan lewat sini ngeliat Non lagi olahraga” jawab pria itu.

“Ga sopan banget sih, masuk diem-diem gitu, keluar !!” bentak Aida sambil menundingnya.

Aida mulai merasa tidak enak dan takut ketika melihat pria tua itu bukannya pergi malah diam saja menatap padanya lalu mengembangkan senyum. Tidak, peristiwa seperti dulu tidak boleh terjadi lagi demikian pikir Aida, lagipula dia hanya seorang pria tua, bisa apa dia terhadapnya, seburuk-buruknya kemungkinan pun paling melarikan diri dan si tua itu tidak mungkin tenaganya cukup untuk mengejar.

“Bapak mulai kurang ajar yah” Aida marah dan berdiri menghampirinya, “denger gak tadi saya bilang keluar !?”

“Keluar ya keluar Non, tapi ngomongnya baik-baik dikit dong, dasar lonte” kata Pak Udin.
Kedua kata umpatan terakhir itu memang diucapkan Pak Udin dengan suara kecil, namun Aida dapat mendengarnya sehingga kontan darahnya pun semakin naik.

“Hei…omong apa tadi ?! Keluar sana, cepat beresin barang Bapak, Bapak saya pecat sekarang juga, dasar orang tua ga tau diri !” Aida membentaknya dengan sangat marah.

Pak Udin tentu saja kaget karena umpatannya terdengar sehingga memancing kemarahan nona majikannya itu, tapi sebentar saja senyumnya mengembang kembali.

“Lho kenapa emangnya Non, emang bener kan kata saya tadi, sama penjaga kampus dan sopir aja Non mau kan ?” ujarnya enteng.

Mendengar itu Aida langsung merasa seperti ada belati dilempar tepat mengenai dadanya, dia langsung mati kutu dan terdiam selama beberapa detik, rasa takut pun mulai melingkupi dirinya.

“Jangan ngomong sembarangan yah, saya telepon papa atau polisi kalau perlu kalau Bapak macam-macam !” gertaknya sambil menutupi kegugupan.

“Ya silakan Non, telepon aja, ntar juga saya laporin Non pernah ada main sama si Nurdin dulu, terus sama penjaga kampus Non juga”

Kemudian pria tua itu mulai menjelaskan bagaimana dia mengetahui skandal-skandal seks gadis itu yang ternyata didapatnya dari Nurdin, mantan sopirnya, yang juga tidak lain adalah keponakan pria itu.

Aida diam seribu bahasa, rasanya lemas sekali membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pak Udin lalu mendekati Aida yang berdiri terpaku, tangan keriputnya memegang kedua lengannya yang mulus. Aida tidak bereaksi, batinnya mengalami konflik, dia sama sekali tidak ingin melayani nafsu pria seusia kakeknya ini, namun apa daya karena pria ini telah mengetahui aibnya yang dipakainya sebagai alat mengintimidasinya.

Tangan pria itu mulai membelai lengannya sehingga menyebabkan bulu kuduk gadis itu serentak berdiri merasa geli dan jijik. Tangan kanannya naik membelai pipinya lalu ke belakang kepalanya menarik ikat rambutnya sehingga tergerailah rambut indahnya yang seminggu lalu baru diluruskan dan dihighlight kemerahan.

“Cantik, bener-bener cantik !” gumam Pak Udin mengagumi kecantikan Aida, “Cuma sayang sifatnya jelek !” sambungnya sambil mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh tersungkur di lantai berkarpet.

“Aaaww !” jerit Aida, namun sebelum dia sempat bangkit pria itu telah lebih dulu meraih kedua lengannya, mengangkatnya ke atas kepala dan mengunci kedua pergelangannya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya menyibak kaos fitnessnya sehingga payudaranya yang putih montok berputing kemerahan itu terekspos. Mata Pak Udin melotot seperti mau copot melihat keindahan kedua gunung itu. Tatapan mata itu membuat Aida bergidik melihatnya.

“Dasar anak jaman sekarang, udah jadi lonte aja masih suka belagu !” kata Pak Udin sambil meremas payudara kirinya dengan gemas.

“Tau gak, Bapak sebenernya kasian ngedenger si Nurdin cerita tentang Non itu, saya sempat tegur dia, terus saya pikir Non juga udah bertobat, tapi selama saya kerja disini ternyata masih gitu-gitu aja. Non tetap sombong dan suka marah-marah ke pembantu seperti kita, emang Non pikir kita ini apa sih !?” pria itu dengan keras memarahinya.

“Jangan Pak, jangan begitu !” kata Aida dengan suara bergetar.

Sementara Pak Udin terus mengagumi kedua payudara Aida yang menggemaskan itu, tangan kanannya terus berpindah-pindah meremasi kedua payudara itu. Aida sendiri menggeliat-geliat dan meronta tapi kuncian Pak Udin pada pergelangan tangannya cukup kuat.

Sentuhan tangan keriput itu pada payudaranya mulai menimbulkan sensasi aneh, darahnya bergolak dan nafasnya mulai tidak teratur.

“Cewek kaya Non gini emang harus dikasih pelajaran biar tau diri dikit, sekalian Bapak juga mau ngerasain cewek cantik mumpung masih hidup hehehe !” katanya terkekeh-kekeh.

“Aahh…sshhh….nngghh !” desah Aida saat mulut Pak Udin melumat payudaranya, lidahnya yang panas itu langsung mempermainkan putingnya yang sudah mengeras.

Aida benar-benar tidak berdaya saat itu karena nikmatnya, dia sudah terbiasa mengalami pelecehan sejak menjadi budak seks Mamat sehingga nafsunya dengan cepat naik walau bercampur perasan benci pada orang-orang yang mengerjainya.

Sambil masih mengunci pergelangan dan menciumi payudara nona majikannya, pria tua itu menyusupkan tangan satunya ke celana pendek itu. Telapak tangannya menyentuh vagina gadis itu yang ditumbuhi rambut-rambut lebat.

Tubuh Aida berkelejotan dan mulutnya mengeluarkan desahan ketika jari-jari pria itu menyentuh bibir vaginanya dan mulai mengorek-ngorek liangnya, Aida merasakan daerah itu semakin basah saja. Pak Udin tersenyum puas melihat wajah terangsang Aida yang bersemu merah.

Merasa Aida sudah takluk dan tidak memberontak lagi, pria itu mulai melepaskan kunciannya pada pergelangan gadis itu. Setelah melepas kunciannya tangannya langsung menarik lepas kaos fitness yang tersingkap itu sehingga membuat gadis itu topless. Keringat bagaikan embun membasahi tubuh bagian atasnya hasil dari fitness barusan.

Aida hanya bisa pasrah, matanya nerawang menatap langit-langit sambil sesekali merem-melek menahan nikmat. Mulut Pak Udin kini merambat naik ke lehernya sementara kedua tangannya tetap bekerja meremas payudaranya dan mengobok-obok di balik celananya.

Aida membuang muka ketika pria itu mencoba mencium bibirnya, terus terang dia enggan dicium oleh tua bangka ini, melihat giginya yang mulai ompong dan hitam-hitam saja jijik apalagi dicium. Dua kali dia membuang muka ke kiri dan kanan sampai akhirnya Pak Udin berhasil memagut bibirnya yang indah itu.

Dia menggeleng-gelengkan kepala berusaha lepas, tapi saat itu pria itu menekankan jari tengahnya pada klitoris yang telah berhasil ditemukannya sehingga otomatis pemiliknya mendesah dan mulutnya membuka.

Saat itulah lidah Pak Udin menyeruak masuk dan langsung menyapukan lidahnya di dalam mulut. Ketika Pak Udin melumat bibirnya, Aida memejamkan mata menahan jijik, betapa tidak bibir Pak Udin yang sudah berkerut itu sedang beradu dengan bibirnya yang mungil dan tipis.

Semula dia menanggapi ciuman tukang kebunnya itu dengan pasif, tapi karena serangan-serangan pria itu pada daerah lainnya cukup gencar dan membuat birahinya semakin bergolak, lidah Aida mulai ikut bergerak beradu dengan lidah kasar tukang kebunnya itu.

Selama tiga menit lamanya Pak Udin menindih tubuh anak majikannya itu sambil menciumi dan menggerayangi tubuhnya. Pria itu merasakan jari-jarinya makin basah oleh lendir dari kemaluan gadis itu. Kemudian Pak Udin melepas ciumannya, air ludah mereka nampak saling menjuntai ketika bibir keduanya berpisah.

Berikutnya dia menarik lepas celana pendek Aida beserta celana dalamnya. Dia bangkit berdiri tanpa melepaskan pandangan matanya yang penuh nafsu itu dari tubuh telanjang nona majikannya.

Dia mulai melepaskan kemeja lusuhnya memperlihatkan tubuhnya yang hitam kerempeng lalu dia buka celananya sehingga terlihatlah penisnya yang sudah tegang, bentuknya lumayan panjang, pangkalnya ditumbuhi bulu-bulu yang setengah memutih.

Pak Udin memapah Aida lalu membaringkannya di alat sit up, sebuah platform yang berdiri membentuk sudut 45 derajat dengan lantai. Pria itu berjongkok di depannya dan membuka kaki gadis itu. Wajahnya mendekat hingga berjarak hanya sepuluh centi dari vagina gadis itu, matanya menatap nanar kemaluan yang berbulu lebat dengan bagian tengah yang memerah itu.

Aida memalingkan wajah ke samping dan memejamkan mata, dia merasa malu diperlakukan demikian, namun juga ada seperti rangsangan aneh yang membuatnya merasa seksi. Dia bisa merasakan dengus nafas pria itu menerpa vaginanya dan menambah sensasi nikmat.

“Ooohh…Paakk !” Aida mendesah panjang sambil menggenggam erat pegangan alat itu ketika lidah Pak Udin menyapu bibir kemaluannya.

Demikian lihainya mulut ompong Pak Udin menjilati dan menyedot vagina Aida sampai membuat gadis itu menikmatinya. Aida mendesis-desis dan kakinya mengejang, dia mulai berani melihat ke bawah dimana selangkangannya sedang dijilati dan dihisap-hisap oleh pria tua itu.

Lidah Pak Udin bergerak dengan lincah, kadang dengan gerakan lambat, kadang cepat, kadang menjilati memutar di daerah itu sehingga tanpa disadari Aida merasa terbang ke awang-awang, tanpa disadari tangannya meraih tangan Pak Udin dan meletakkannya pada payudaranya, tangan keriput itupun langsung bekerja meremas dan memilin-milin putingnya.

Setelah setengah jam lebih sedikit, tubuh Aida mengejang hebat, cairan orgasme meleleh dari liang vaginanya.

“Aahh…oohhh…!” Aida mengerang panjang dalam orgasme pertamanya dengan si tukang kebun itu.

Pak Udin sengaja menghentikan jilatannya untuk mengamati lendir vagina gadis itu yang membanjir sampai menetes ke lapisan kulit pada alat fitness itu. Sebuah senyum mesum tergurat pada wajah tuanya, sepertinya dia senang sekali berhasil menaklukkan nona majikannya seperti ini.

“Huehehe…gila banjir gini, Non juga konak yah, Bapak suka banget sama mem*k Non, hhhmhh…ssllrrpp !” Pak Udin mengakhiri kata-katanya dengan menghirup lendir vagina nona majikannya.

Mulutnya sampai menyedoti bibir vagina gadis itu sehingga membuat tubuhnya makin mengejang dan menambah nikmat orgasmenya.

“Hhmm..enak yah rasa pejunya, Bapak udah lama nggak ngerasain seperti ini !” gumamnya sambil terus menghirup cairan orgasme Aida.

Gairah Aida dengan cepat bangkit kembali karena Pak Udin terus menjilati vaginanya dan melahap cairan orgasmenya hingga habis menyisakan bercak ludah di daerah selangkangan gadis itu. Gairah itu menghapus sementara rasa marah dan jijik yang sebelumnya melingkupinya, entah mengapa dia kini merasa ingin penis lelaki tua ini segera menusuk vaginanya.

Jantung Aida semakin berdebar-debar ketika kepala penis pria itu menyentuh bibir vaginanya. Nuraninya menghendaki agar dirinya memberontak dan kabur, tapi tubuhnya yang berkata lain malah menggerakkannya untuk membuka kakinya lebih lebar.

Dia melihat jelas bagaimana penis pria itu memasuki vaginanya juga ekspresi puas di wajah tuanya karena berhasil menikmati tubuh gadis cantik yang baru pernah dirasakan seumur hidupnya.

“Hhsshhh…enngghh…me…mek Non seret…banget !” gumam tukang kebun itu disela-sela nafasnya yang memburu.

“Ahhh…Pak Udin…ooohh !” rintih Aida menahan nikmat saat penis itu mulai bergerak menggesek dinding vaginanya.

Pak Udin mulai menggenjoti vagina nona majikannya itu dengan kecepatan makin meningkat tapi tidak sebrutal Mamat atau sopirnya dulu karena faktor usia. Pak Udin pun nampaknya sadar akan hal ini sehingga dia tidak mau menggenjotnya terlalu cepat agar tidak terlalu menghamburkan tenaga dan dapat menikmati kenikmatan langka ini lebih lama.

Aida sendiri mulai terhanyut oleh gaya Pak Udin yang khas itu. Tanpa disadari dia menggerakkan tubuh bagian bawahnya menyambut hujaman-hujaman penis Pak Udin. Mata pria tua itu menatap kedua payudaranya yang turut bergoyang-goyang mengikuti goyangan tubuhnya sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menjulurkan tangan kanannya meremasi benda itu sambil tangan yang satunya tetap menyangga lutut gadis itu. Aida nampak meringis-ringis dan mendesah sambil sesekali menggigiti bibir bawah atau tangannya yang terkepal.

“Balik Non, nungging !” perintah pria itu setelah 20 menitan dalam posisi yang sama.

Aida kini berpijak dengan kedua lututnya dan tangannya bertumpu pada alat sit-up itu. Pria itu melebarkan sedikit kakinya lalu kembali memasukkan penisnya ke liang senggama gadis itu yang telah licin oleh lendir. Aida merasakan sodokan tukang kebunnya ini kini terasa lebih bertenaga dan lebih dalam sehingga tubuhnya lebih terguncang daripada sebelumnya.

Sambil menggenjot, kedua tangan keriputnya juga menggerayangi sepasang payudara yang menggantung itu. Suara benturan antara pantat Aida dengan selangkangan pria itu bercampur baur dengan irama musik R&B yang masih mengalun dari CD player.

“Aarhhh…terus Non, goyang terus !” erang pria itu dengan suara parau.

Sebagai gadis yang sudah berpengalaman soal seks, Aida tahu bahwa bajingan tua ini sudah mau klimaks. Maka dia pun merespon dengan menggoyangkan pinggulnya lebih cepat. Benar saja, tak lama kemudian dia merasakan adanya siraman hangat di dalam vaginanya. Pria itu mengerang menikmati spermanya mengisi rahim anak gadis majikannya tersebut.

Genjotannya makin menurun kecepatannya hingga akhirnya berhenti dan penisnya tercabut. Akhirnya pria tua itu duduk berselonjor di lantai dengan nafas ngos-ngosan. Aida terlalu seksi baginya sehingga dia menggenjotnya terlalu bernafsu di saat-saat terakhir sehingga tenaganya banyak terkuras.

Aida buru-buru memunguti pakaiannya dan keluar dari ruangan itu setelah terlebih dahulu mematikan cd-player. Dia menatap kesal pada pria itu ketika melintas di depannya sementara Pak Udin sendiri hanya tersenyum puas sambil mengatur nafasnya yang masih putus-putus. Aida langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu serta menguncinya.

Kurang ajar sekali tua bangka ini, marahnya, tidak disangka si tua itu ternyata adalah paman dari bekas sopir yang pernah mempecundanginya dulu. Sekarang dirinya telah jatuh dalam kekuasaan bajingan tua ini tanpa dapat berbuat apa-apa karena dia memegang kartu trufnya.

Setelah air di bathtub penuh, Aida menaburkan sabun ke dalamnya hingga berbusa lalu dia masuk ke dalam dan membasuh tubuhnya dari sisa-sisa persetubuhan. Rasa lelah dari berolah raga dan persetubuhan tadi membuatnya merasa ngantuk di dalam air hangat yang memberi kenyamanan itu sehingga tanpa terasa dia mulai tertidur di bak. Lebih dari setengah jam kemudian barulah dia terbangun karena ponselnya yang diletakkan di pinggir bathtub berbunyi.

Dia segera mengangkat telepon dari mamanya yang mengabarkan mereka besok sore baru pulang dan berpesan agar jaga diri di rumah, dan jangan lupa kunci rumah yang benar. Betapa dongkolnya Aida karena dengan demikian berarti dia tidak bisa melepaskan diri dari Pak Udin hingga besok dan masih harus iklas dikerjai orang tua itu.

Diapun bangkit dan keluar dari bak menyudahi mandinya. Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk dipakainya sebuah kaos longgar warna biru muda dan celana pendek. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua ketika itu, diluar sana matahari sedang terik-teriknya. Aida merasa perutnya telah berbunyi minta diisi.

Dibukanya pintu sedikit dan melongokkan kepala keluar melihat keadaan, sepi…Pak Udin sepertinya sedang di belakang sana. Maka dia pun keluar dari kamar menuju ruang makan. Setelah menyendok nasi ke piringnya, dibukanya tudung saji yang menutupi makanan di atas meja makan dan diambilnya lauk secukupnya.

Sepuluh menit kemudian, dia pun selesai makan, lalu dibawanya piring dan gelas bekas itu ke tempat cuci piring. Selagi mencuci piring, tiba-tiba dia merasa sebuah tangan mendarat di pantatnya lalu meremasnya. Spontan diapun membalik badannya dan menepis tangan itu.

“Kurang ajar !” omelnya dengan wajah cemberut.

“Siang Non, udah bangun yah, asyik kan tadi ?” goda Pak Udin sambil cengengesan.

Wajah Aida langsung merah padam mendengarnya, memang tak dapat dipungkiri walaupun tindakan pria ini bisa digolongkan sebagai pemerkosaan dan merendahkan harga dirinya namun dia sendiri juga menikmatinya.

Ingin rasanya menghantamkan piring di belakangnya ke kepala tua bangka ini hingga bocor, tapi nyalinya tidak sebesar itu. Dia hanya bisa menepis tangan pria itu ketika hendak meraba dadanya lalu mendengus kesal sambil melengos meninggalkannya.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibanting dari kamarnya. Pak Udin sendiri hanya tertawa-tawa melihat reaksi nona majikannya itu.

Di kamar Aida menyetel cd-playernya keras-keras sambil menyalakan sebatang rokok untuk melampiaskan kekesalan pada tukang kebunnya yang brengsek itu. Setelah rokok itu habis setengah batang, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dia kecilkan sedikit volume cd-playernya lalu membuka pintu.

“Ngapain lagi sih Pak ?!” ujarnya ketus.

“Waduh…jangan judes gitu dong Non, ini Bapak cuma konak lagi nginget yang barusan, kita main lagi dikit yuk Non, mumpung cuma kita duaan disini” sahut Pak Udin.

“Nggak ah, tadi kan udah…pergi sana !” tolak Aida dengan kesal seraya menutup pintu.

“Ayo dong Non jangan gitu ah…sebentar aja, tadi Bapak belum ngerasain kont*l Bapak dimulut Non, ayo dong…yah !” Pak Udin menahan pintu itu dengan setengah memohon dan setengah memaksa.

Pak Udin membuatnya tidak punya pilihan lain sehingga akhirnya dengan terpaksa diiyakannya kemauan pria ini. Dengan berat hati dibiarkannya pria itu masuk ke kamarnya.

Aida menghempaskan pantatnya hingga terduduk di tepi ranjang tanpa melepas pandangan marahnya pada pria itu. Pak Udin berdiri di hadapannya dan mulai melepaskan celananya. Setelah celana panjangnya melorot jatuh, dia mengeluarkan penisnya yang sudah menegang dari balik celana dalamnya.

“Ayo Non disepong yang enak !” Pak Udin menyodorkan penis itu pada nona majikannya.

Walau terbiasa melihat penis hitam dan dilecehkan seperti itu, namun Aida baru pernah berurusan dengan penis tua yang bulu-bulunya sudah mulai beruban seperti yang satu ini sehingga ada rasa enggan untuk mengoralnya.

Aida sadar bahwa itu adalah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, maka dengan terpaksa dia mulai menggenggam penis itu, terasa denyutan benda itu dalam genggamannya. Tanpa menunggu perintah lagi dia mendekatkan wajahnya pada penis yang menodong wajahnya itu. Lidahnya bergerak menyapu bagian kepalanya yang bersunat.

Pak Udin mengerang parau merasakan jilatan lidah gadis itu pada ujung penisnya, tubuhnya bergetar sambil meremas rambut gadis itu. Seumur hidupnya baru pernah pria tua itu merasakan yang namanya oral seks, istrinya selalu menolak untuk melakukan hal itu, sehingga kehidupan seksnya terasa hambar selama puluhan tahun menikah.

Oral seks pertama dengan gadis secantik nona majikannya ini memberinya sensasi luar biasa, rasanya seperti kembali muda lagi sehingga dia melenguh tak karuan. Penisnya kini sudah masuk ke mulut gadis itu, dia merasakan lidahnya menggelikitik penisnya juga sensasi hangat dari air liurnya.
“Uhhh…enak banget Non, terus gituin yah…eeemm…jangan dilepas yah !” erangnya sambil memegangi kepala gadis itu.

Aida melancarkan teknik-teknik mengoralnya, semakin hari dia semakin terbiasa diperlakukan demikian di kampus, terutama yang paling sering dengan Mamat, sesekali dengan Pak Dahlan si dosen bejat itu atau pernah juga dengan Pak Kahar, si satpam kampus yang tak bermoral.

Dia memaju-mundurkan kepalanya sambil mengulum penis itu, tangannya juga ikut bekerja mengocok batangnya atau memijat buah pelirnya. Pria setengah baya itu merasa semakin keenakan sehingga tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisnya menyodoki mulut Aida seolah menyetubuhinya.

Kini Aida berhenti memaju-mundurkan kepalanya dan hanya pasrah membiarkan mulutnya disenggamai tukang kebunnya itu, kepalanya dipegangi sehingga tidak bisa melepaskan diri. Kurang lebih sepuluh menitan akhirnya Pak Udin mencapai puncak, dia mengerang tak karuan dan menggerakkan pinggulnya lebih cepat sehingga membuat Aida agak kelabakan.

Diiringi erangan keras, keluarlah spermanya di mulut Aida. Walaupun jijik karena aromanya yang cukup tajam, Aida bisa juga menelan habis cairan itu tanpa menetes keluar dari mulutnya. Memang menghisap merupakan salah satu kelebihannya dalam hubungan seks.

Frans, pacarnya, juga sangat suka penisnya dioral olehnya, terkadang kalau sudah mau orgasme dia minta padanya untuk dioral agar bisa keluar di mulut dan merasakan hisapannya yang dahsyat itu. Setelah semprotannya berhenti, dijilatinya juga sisanya yang blepotan pada batang itu hingga bersih.

“Udah Pak…cukup sampai sini, sekarang keluar !” Aida berdiri dan menyuruhnya keluar.

“Alah Non…masa sih segitu aja ? ayo dong biar Bapak muasin Non !” Pak Udin mendekap tubuh Aida dan tangannya bergerak ke bawah meremas pantatnya.

Aida meronta dan mendorong tubuh pria tua itu hingga dia terhuyung ke belakang hampir terjatuh.

“Udah dong Pak, saya bilang jangan sekarang, kenapa sih !?” kata Aida setengah menghardik.
Pak Udin hanya tersenyum kecil sambil menaikkan kembali celananya.

“Ya udah ga apa-apa deh…dasar lonte…awas ya nanti !” dia lalu membalikkan badan dan keluar dari kamar.

Akhirnya Aida berhasil juga menolak pria itu, tapi dia agak takut juga mendengar perkataan terakhir Pak Udin yang bernada mengancam itu. Ya sudahlah paling-paling digarap habis-habisan lagi dan disuruh tidur bareng dengan si tua brengsek itu, toh yang seperti itu bisa dibilang sudah menjadi hal biasa sejak dirinya menjadi budak seks.

Sekarang ini dia sedang tidak mood melakukan hal itu. Dia pun berbaring di ranjang empuk itu sambil mendengarkan musik yang mengalun dari cd-player. Matanya terpejam hingga tanpa terasa dia tertidur lagi.

Sekitar jam setengah empat, Aida terbangun dari tidurnya karena ada suara ketukan di pintu beserta suara Pak Udin memintanya membuka pintu.

“Huh, tua bangka itu lagi, dasar ga tau diri” omelnya.

“Ngapain lagi sih Pak, jangan kelewatan dong !” katanya dengan judes begitu nongol di depan pintu.

“Wes…wes…jangan marah-marah melulu dong Non, Bapak bukan mau ganggu Non, itu ada orang dari pabrik dateng katanya mau ambil barang titipan tuan !” kata Pak Udin kalem.

Aida baru ingat memang sebelum pergi papanya pernah menitipkan dokumen kerja dan sebuah CD yang dibungkus dalam amplop besar berwarna coklat. Dia pun langsung menuju ke ruang kerja papanya setelah sebelumnya menutup pintu kamar dengan setengah dibanting di depan tukang kebunnya itu.

Diambilnya amplop coklat yang dimaksud itu dari lemari meja papanya dan dibawanya ke ruang tengah dimana orang suruhan papanya itu menunggu. Di sofa ruang tengah telah menunggu dua orang pria yaitu Pak Irfan, salah satu staff papanya, seorang yang berpostur pendek berusia 40-an, dan satunya adalah sopir pabriknya yang bernama Jabir, seorang pria berkumis tebal dan tubuhnya padat berisi serta kulitnya hitam kasar karena sering terbiasa bekerja di bawah sinar matahari.

“Sore Non Aida” sapa Pak Irfan ramah, Jabir juga tersenyum menyapanya.

“Sore Pak” Aida balas menyapa dan tersenyum kecil “Ini Pak , titipan dari papa, bener kan?”

“Ah…iya Non bener ini, makasih yah !” kata Pak Irfan seraya menerima amplop itu.

“Ada apa lagi Pak yang bisa saya bantu ?” tanya Aida melihat mereka yang belum beranjak pergi.

Kedua pria itu terdiam sejenak saling pandang satu sama lain, lalu Pak Irfan berkata,

“Mmm…anu Non sekalian itu…THR nya ?”

“THR ? Kok mintanya ke saya, kan yang ngurus bagian pabrik ?” Aida agak heran.

“Itu Non, THR spesialnya…kan Pak Udin juga dikasih, masa kita nggak ?” sambung Jabir si sopir pabrik.

Deg…Aida terperanjat mendengar perkataan Jabir itu, apalagi ekpresi mereka mulai berubah menyeringai mesum begitu melihat reaksinya.

“Brengsek…tua bangka mulut ember, keterlaluan banget sih !” makinya dalam hati.

“Nnngg….ma-maksudnya apa sih Pak ?” tanyanya gugup pura-pura tidak tahu apa-apa.

“Alah Non pura-pura bego aja” kata Pak Irfan sambil menggeser duduknya mendekati Aida, “THR dari Non, ini loh” katanya memegang paha gadis itu.

“Eeii…jangan kurang ajar yah !” bentak Aida mendorong pria itu.

Tanpa diduga, Jabir telah berada di sebelahnya dan mendekap tubuhnya setelah dia mendorong Pak Irfan.

“Apa-apaan nih, lepasin saya, tolong…tolong…!!” jeritnya sambil meronta.

“Hus jangan teriak Non, ntar semua orang tau mau taro dimana mukanya…kan kasian juga bapak Non, di pabrik dibilang apa ntar kalau anaknya ada main sama tukang kebun hehehe !” kata Pak Irfan sambil tertawa-tawa.

“Iya Non, lagian kan udah mau hari raya, boleh dong sekali-sekali nyenengin kita-kita yang udah kerja buat keluarga Non” timpal Jabir

“Hehe…gimana Non, kata Nurdin dulu Non suka keroyokan makannya Bapak ajak mereka ngerasain Non, dijamin Non puas deh” kata Pak Udin yang sudah berdiri di belakang sofa.

Aida sadar bahwa kini dirinya benar-benar terjebak, tidak ada pilihan lain lagi selain menuruti kemauan bejat mereka. Dipandangnya tiga wajah mesum yang mengelilinginya dengan kesal, terutama Pak Irfan, bawahan papanya yang telah dikenalnya sejak masih kecil itu tega-teganya berbuat demikian terhadapnya, ternyata dia tidak berbeda dengan pria-pria lain yang pernah memperkosanya, bermoral bejat.

Tangan pria itu kini memegangi pergelangan kakinya dan tangan lainnya mengelusi betis hingga pahanya yang ramping dan mulus itu sehingga darahnya mulai berdesir. Demikian pula Pak Udin dan Si Jabir yang mendekapnya juga mulai menggerayangi tubuh bagian atas payudaranya dari luar sehingga membuatnya menggeliat-geliat.

Jantungnya berdetak dengan kencang, adakah yang lebih buruk daripada melayani ketiga binatang berwajah manusia ini, demikian katanya dalam hati.

“Ga kerasa Non udah dewasa yah, udah tambah cantik, tambah nafsuin” kata Pak Irfan sambil melepas celana pendek Aida.

Jabir mengikuti tindakan Pak Irfan dengan melepas kaos gadis itu. Maka kini tubuh Aida yang putih mulus itu hanya tinggal memakai bra berenda dan celana dalam yang keduanya berwarna putih, bulu kemaluannya nampak terlihat melalui celana dalamnya yang semi transparan.

Mata ketiganya terbelakak melihat kemolekan tubuhnya, nampak jakun mereka bergerak naik-turun dan pandangan mata mereka demikian bernafsu seperti srigala lapar.

“Akhirnya bisa juga ngeliat bodynya Non Aida, tiap kali saya konak banget kalau liat Non pake baju seksi ke pabrik” kata Jabir.

“Misi yah Non, bapak mau nyusu dulu” Pak Udin yang sudah berpindah tempat berjongkok di depan sofa meminta ijin seraya menyingkap cup bra sebelah kanannya.

Tanpa ba-bi-bu lagi pria setengah baya itu langsung melumat payudara kanannya.

“Sshhh !” desis Aida merasakan payudaranya dikenyoti.

Terasa sekali lidah bagian atas pria itu menggesek-gesek putingnya seperti mengamplas sehingga benda itu makin menegang tanpa bisa tertahan. Jabir yang dibelakangnya juga merangsangnya dengan ciuman dan jilatan pada leher dan telinganya, telapak tangannya yang besar itu menyusup masuk ke cup bra kirinya menyentuh kulitnya yang halus, segera jari-jarinya memilin-milin putingnya setelah menemukannya. Sementara itu, Pak Irfan di bawah sana sedang memegangi kaki kanannya agar tetap terbentang sambil tangan satunya memainkan jari-jarinya mengosok-gosok kemaluannya dari luar celana dalam.

Senyum pria itu makin lebar seiring dengan bercak cairan pada celana dalamnya yang makin lebar.

“Enak kan Non, sampe banjir gini” kata Pak Irfan yang semakin gencar menggerayangi selangkangannya.

Diserbu dari berbagai arah pada bagian sensitifnya seperti itu membuat birahi Aida mau tidak mau menggeliat bangkit. Dia pasrah saja membiarkan ketiga pria itu menjarah tubuhnya. Jabir melumat bibir gadis itu ketika kepalanya mendongak karena terangsang.

Mata Aida membelakak ketika pertama kali bibir tebal pria itu menempel ke bibirnya namun beberapa detik saja matanya kembali terpejam menikmati percumbuan. Kumis tebal Jabir bergesekan dengan daerah sekitar mulut Aida, namun dia mengabaikannya dan terus menyambut ciuman si sopir pabrik itu, nampak lidah keduanya saling beradu dan saling jilat.

Sambil bercumbu, tangan pria itu terus saja meremas-remas payudara kirinya. Pak Udin yang berjongok di sebelahnya bukan saja melumat payudaranya, mulutnya terkadang menelusuri bagian tubuh yang lain yang masih lowong meninggalkan jejak air liur, tangannya pun turut menjamah-jamah disana-sini.

Pak Irfan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Aida lalu menjulurkan lidah menjilati bagian celana dalam yang basah itu sehingga tubuh gadis itu menggeliat. Sungguh ketiga pria ini pikirannya telah buta oleh hawa nafsu. Tuhan diatas sana pasti telah menghapus semua ibadah puasa mereka yang telah dijalankan selama sebulan dan hampir mencapai tahap akhir itu.

Pak Irfan menarik lepas celana dalam Aida yang bagian tengahnya sudah basah. Matanya langsung nanar melihat kemaluannya yang berbulu lebat dan sudah becek itu. Sebelum melanjutkan mereka membaringkan tubuh gadis itu di atas meja ruang tamu dari bahan kayu berukir dekat mereka.

Pak Udin menyingkirkan barang-barang diatasnya, Jabir melucuti branya sehingga kini tubuh Aida yang sudah telanjang bulat itu ditelentangkan di atas meja dengan kedua kaki menjuntai ke bawah. Ketiganya menatapi tubuh telanjang itu dengan pandangan penuh birahi.

Pak Irfan nampaknya tidak sabar lagi untuk segera menikmati, dia segera berlutut di antara paha Aida dan menaikkan kedua pahanya ke bahu lalu membenamkan wajahnya di selangkangan gadis itu.

“Oohhh…!!” desah Aida sambil menggeliat ketika lidah pria itu menyentuh bibir vaginanya dan menyeruak masuk seperti ular.

Lidah itu menari-nari dan menjilati vaginanya, dia merasakan suatu perasaan yang sulit dilukiskan saat lidah pria itu menyentuh klitorisnya sehingga dia hanya bisa mendesah lebih panjang dan tubuhnya menggelinjang.

Pak Udin dan Jabir masing-masing berdiri di kanan dan kiri kepalanya, mereka membuka celananya masing-masing. Betapa terpananya Aida melihat penis Jabir yang demikian besar dan berurat itu, ada mungkin ukurannya 20 cm. Dia merasakan penis itu bergetar di tangannya ketika digenggam.

“Sepong Non, Pak Udin bilang Non nyepongnya enak !” perintah Jabir.

Walau kata-kata tidak senonoh itu terasa panas di kupingnya, namun dimasukkan juga benda itu ke mulutnya. Dia membuka mulut selebar-lebarnya untuk memasukkannya.

Aida mengoral penis Jabir sambil tangan satunya mengocoki penis Pak Udin. Kedua pria itu melenguh sambil merem-merem menikmati ‘adik’nya dilayani oleh gadis itu. Rangsangan-rangsangan akibat jilatan Pak Irfan pada vaginanya menyebabkan libidonya meninggi sehingga semakin baik pula pelayanannya pada dua penis itu.

Tak lama kemudian Pak Irfan merasa puas menjilati vagina Aida.Ketika dia bersiap hendak menyetubuhi putri atasannya itu, tiba-tiba si Jabir menyela,

“Eh…tunggu-tunggu, jangan disodok dulu, gua mau nyicipin bentar mem*knya, pengen tau rasanya mem*k cewek cantik !”

“Sabar dong, semua dapet giliran kok, gua udah ga tahan nih !” kata Pak Irfan.

“Ayolah bentar aja, ntar kalau lu tusuk keburu bau kont*l, gua jadi ga selera” pinta Jabir sekali lagi.
Mereka bertiga tertawa-tawa mendengarnya, akhirnya Pak Irfan mengalah sedikit dan membiarkan Jabir menjilati vagina Aida.

“Ya udah, sana nyepong, jangan lama-lama, abis ini gua nusuk duluan yah !” kata Pak Irfan sambil membuka celananya dan berdiri di sebelah Aida.

Maka mulailah si kumis itu menjilati vaginanya, bukan hanya lidahnya yang bermain, jarinya pun turut menusuk-nusuk sehingga tubuh Aida dibuatnya makin menggelinjang. Di saat yang sama Aida kini melayani penis Pak Irfan dan Pak Udin, tukang kebunnya.

Kedua tangan Aida menggenggam penis itu, mengocok dan mengoralnya secara bergantian. Karena keenakan, Pak Irfan memegangi kepala Aida ketika diemut penisnya, tidak rela kehilangan kuluman nikmat itu.

“Hehehe…bener kan kata saya, situ sampe ketagihan sepongan si Non ?” kata Pak Udin terkekeh melihat tingkah Pak Irfan.

“Iya toh…enak tenan bener sepongan Non…emmm…hati-hati Non, jangan kena gigi !” ucap Pak Irfan sambil merem-melek keenakan.

Dengan birahinya yang semakin naik, Aida pun mulai menikmati diperlakukan demikian, tidak nampak dirinya meronta seperti orang diperkosa ataupun menangis seperti dulu waktu pertama kali di kampus dulu, baginya yang seperti ini sudah biasa.

Tiba-tiba tubuh Aida menggelinjang, dari mulutnya yang dijejali penis Pak Irfan terdengar erangan tertahan. Rupanya dia telah mencapai orgasme akibat jilatan dan permainan jari Jabir pada vaginanya.

Nampaknya Pak Irfan cukup pengertian dengan kondisinya dia melepaskan sejenak penisnya dari mulut gadis itu. Ketiga pria itu kelihatan senang melihat reaksinya saat mencapai orgasme itu. Si Jabir dengan rakusnya melahap cairan orgasme yang membanjir dari vagina gadis itu.

“Ssrrpp…slurp….wuih, uenak banget pejunya si Non ini slluurpp !” komentarnya sambil mengisapi vagina Aida.

Kedua paha mulus Aida mengapit wajah pria itu karena tubuhnya yang menegang dan merasa geli karena oral seks si kumis itu. Setelah beberapa saat akhirnya gelombang orgasme itu reda, namun Jabir masih terus mengisapi vaginanya hingga cairan orgasmenya habis dilahap.

Aida terbaring bugil di meja itu dengan nafas terputus-putus setelah mencapai klimaks barusan. Kedua buah dadanya nampak naik-turun seirama nafasnya. Matanya melihat sekelilingnya dimana ketiga lelaki itu manatapnya dengan mata nanar. Mereka membuka pakaiannya masing-masing hingga bugil. Dia melihat tubuh si Jabir begitu padat dan berotot dan dadanya ditumbuhi sedikit bulu.

“Gila…mampus dah gua !” keluhnya dalam hati membayangkan dirinya akan habis ‘dibantai’ ketiga orang itu.

Sesuai perjanjian, Pak Irfan menagih giliran pertamanya untuk menyetubuhi Aida. Dia langsung mengambil posisi diantara kedua paha gadis itu dan mengarahkan penisnya.

“Uhhh…nikmat, seret, becek banget !” erangnya sambil menekan pelan-pelan penisnya memasuki liang senggama gadis itu.

Dengan cairan orgasme yang berfungsi sebagai pelumas, penis Pak Irfan melesak masuk dengan lancar, ukurannya juga termasuk sedang sehingga tidak terlalu sulit dalam melakukan penetrasi.

“Enak Pak ?” tanya Jabir setelah atasannya itu berhasil menancapkan seluruh penisnya pada vagina nona majikan mereka.

“Yo jelas toh, mana Non nya ayu gini lagi, uuhh bini gua aja kalah dah !” komentarnya.

“Dasar bajingan, istri sendiri diomongin gitu” omel Aida dalam hati.

Tak lama kemudian Pak Irfan mulai menggoyangkan pinggulnya memompa gadis itu.

“Oohhh…oohh !” desah Aida merasakan sodokan pria itu.

Jabir kini berjongkok di sebelahnya, lidahnya menjilati payudaranya dan tangannya bergerilya menjamah-jamah bagian tubuh lainnya. Sementara itu Pak Udin mendekatkan penisnya ke wajahnya. Tahu apa yang harus dilakukan, Aida meraih batang itu dan menjilatinya.

“Uuuhh…enak…enak…seret banget !” ceracau Pak Irfan sambil menggenjot Aida.

Pria itu memaju-mundurkan pinggulnya sambil tangannya memegangi pergelangan kaki gadis itu. Suara cek…cek…cek…terdengar dari selangakangan mereka yang saling bertumbukkan. Aida sendiri sedang terlarut menikmati penis Pak Udin, penis itu dia jilati, sesekali digosokkan ke wajahnya yang mulus, buah zakarnya dia pijati sehingga pria setengah baya itu mengerang keenakan. , kalau saja jantungnya tidak kuat mungkin saat itu dia sudah kena serangan jantung saking berdebar-debarnya. Si Jabir juga masih asyik bermain dengan payudara Aida, wangi tubuh gadis itu membuatnya semakin bernafsu menjilatinya, air liur dan bekas cupangan memerah pun menghiasi kulitnya yang putih, terutama di daerah payudara.

Kumis si Jabir yang tebal itu terasa sangat menggelitik tubuhnya dan memberinya sensasi plus di samping cupangan-cupangannya. Sungguh nampak kontras sekali adegan seks di ruang tengah itu, seorang gadis berparas cantik, berkulit putih mulus sedang digauli tiga orang pria bertampang minus berkulit gelap kasar, juga berbeda status dan rasnya. Aida pun tidak bisa memungkiri bahwa seks liar seperti ini memberinya kepuasan lebih daripada melakukannya dengan pacarnya.

“Uuhh…uhh…mau keluar Non…bapak buang di dalem ya !!” erang Pak Irfan sambil mempercepat sodokannya karena sudah mau mencapai puncak.

Aida tidak peduli lagi apapun yang dikatakan padanya, dia sedang mengulum penis Pak Udin ketika itu. Lagipula kalaupun ia menolak buang di dalam apakah Pak Irfan mendengarkannya.

Pak Irfan memutar-mutar penisnya dalam vagina Aida seperti gerakan mengaduk adonan., lalu dia menekannya dalam-dalam. Aida merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya, banyak sekali sampai cairan itu meluber keluar dan semakin membasahi selangakangannya. Genjotan Pak Irfan makin melemah hingga akhirnya berhenti dan penisnya terlepas dari vaginanya.

“Wuihh…puas banget main sama si Non ini !” katanya dengan nafas ngos-ngosan.

“Payah, cuma segitu aja” kata Aida dalam hati karena masih belum puas, “Oh my God, apa yang gua pikir barusan ?” ia baru menyadari pikiran tadi terlintas begitu saja di benaknya akibat birahi yang semakin naik sehingga akal sehatnya semakin hilang.

“Gua…gua sekarang !” sahut Jabir yang sudah tak sabar menikmati kehangatan tubuh Aida, “tapi jangan disini dong, tempatnya sempit, kita bawa ke kamarnya aja gimana, boleh yah Non, main di kamar Non aja, OK ?”

Aida hanya mengangguk lemah saja sebagai jawabannya. Maka mereka pun segera membawanya ke kamarnya. Jabir menggendong tubuh telanjang Aida dengan kedua lengan kekarnya sambil berjalan mengikuti Pak Udin yang menuntun mereka ke kamar gadis itu.

“Wah asyik yah kamarnya enak, ber-AC lagi !” komentar Pak Irfan begitu memasukinya.

“Main sama cewek cakep emang enaknya di tempat yang enak gini” timpal Jabir sambil menurunkan Aida di ranjanganya.

Jabir langsung menyuruhnya nungging karena dia ingin melakukannya dengan gaya doggie. Aida yang masih belum puas dan masih ingin disetubuhi menurut tanpa diperintah dua kali.

“Eenggh !” desahnya saat Jabir memenekankan kepala penisnya pada vaginanya, “jangan kasar-kasar dong Bang, sakit !”

“Sori Non, abis nafsu sih hehehe !” tawanya, sepertinya dia cukup menurut sehingga memperlembut proses penetrasi itu.

Aida mengerang dengan wajah meringis dan sesekali menggigit bibir karena penis Jabir yang besar dan berurat itu terasa sesak di vaginanya. Tangannya terkepal erat sambil meremasi sprei di bawahnya. Sedikit demi sedikit akhirnya penis hitam besar itu masuk juga seluruhnya ke dalam liang vagina Aida.

“Wuih, sempit banget nih mem*k Non, baru pernah loh saya ngerasain yang gini !” komentar si kumis itu setelah berhasil menancapkan penisnya.

Beberapa saat kemudian mulailah dia menggerakkan pinggulnya menggenjot gadis itu.

“Aahh…ahhh…iyahh…aahh…enak !” Aida mendesah dan tanpa sadar kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya.

Jabir yang mengetahui Aida sudah terangsang berat itu semakin bernafsu, frekuensi genjotannya semakin kencang, tangannya juga meremasi pantat dan payudara gadis itu.

“Ternyata Non ini bener-bener lonte yah, awalnya nolak sekarang malah keenakan hehehe !” ejek Pak Udin sambil meremas sebuah payudaranya.

Aida tidak menghiraukan hinaan itu karena bukan hal baru baginya, malah kata-kata merendahkan itu membuatnya makin bergairah. Dia turut memacu tubuhnya bersama Jabir, seolah ingin penis itu menusuk lebih dalam lagi.

Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat melihat bingkai foto di bufet sebelah ranjangnya yang berisi foto studionya bersama Frans, pacarnya. Dalam foto itu keduanya tampak serasi dan mesra sekali, karena itulah ia tidak sanggup menatapinya lama-lama karena keadaannya sekarang sangat bertentangan dari di foto itu, ia malah menikmati hubungan terlarang dengan orang-orang yang tidak seharusnya seperti ini, sungguh suatu dilema baginya, dia masih mencintai Frans, namun dia juga telah terperangkap dan diperbudak oleh hasrat liarnya yang semakin tak terkendali sejak hasrat itu dilepaskan keluar oleh Mamat.

Pak Udin kini mengangkat tubuh Aida hingga posisinya kini berlutut sambil tetap disetubuhi Jabir dari belakang, ia memeluk tubuh kerempeng tukang kebunnya itu sebagai tempat bertumpu.

Erangannya teredam setelah pria itu melumat bibirnya, dia menciuminya dengan ganas sambil menggerayangi payudaranya. Pak Irfan lalu bergabung dengan mereka, ia memegang payudara Aida yang satunya dan menciuminya, tangannya menggerayangi bagian tubuh sensitif lainnya. Setelah Pak Udin melepaskan ciumannya, ia masih harus beradu lidah dengan Pak Irfan yang menggantikannya.

“Oohh…gila, ini sinting…tapi…tapi nikmat sekali !” Aida mengalami pergumulan hebat dalam hatinya.

Sekitar setengah jam kemudian, Aida mendesah makin keras, dia merasa tubuhnya mengejang hebat dan dari vaginanya ingin mengeluarkan sesuatu yang makin tak tertahankan.

“Aakkhh….aahhh…oohhh !” Aida mendesah panjang sekali, ia mengalami orgasme panjang yang membawanya pada puncak kenikmatan tertinggi.

Dia memeluk erat-erat tubuh Pak Irfan yang saat itu sedang menjilati lehernya. Punggung pria itu sempat tergores sedikit oleh kukunya. Setelah orgasmenya reda, mereka membaringkan tubuhnya di ranjang, keringat sudah nampak membasahi tubuhnya. Jabir yang baru melepas penisnya buru-buru menaiki wajah Aida, tangannya menarik kepala gadis itu sementara tangan lainnya memegang penisnya.

“Buka mulut Non, saya mau keluar di mulut Non !” suruhnya terbata-bata.

Jabir tidak bisa menahan spermanya lebih lama lagi, baru saja Aida membuka mulut dan kepala penisnya menyentuh bibir gadis itu, dia sudah ejakulasi. Cairan spermanya yang kental itu sebagian masuk ke mulut Aida dan sebagian berceceran membasahi mulut gadis itu.

Jabir menjejali benda itu ke mulut Aida tak peduli walau dia kelabakan menerima penisnya yang besar dan memuncratkan sperma dengan deras. Aida meronta karena merasa tersiksa, namun tangan Jabir terlalu kokoh menahan kepalanya. Terpaksa dia harus berusaha menelan sperma yang menyemprot di dalam mulutnya sampai semprotannya berhenti dan batang itu menyusut dalam mulutnya.

Aida merasa lelah sekali tubuhnya basah oleh keringat dan sisa air liur, cipratan sperma nampak pada hidung, dagu, dan terutama daerah mulutnya. Jabir mencolek cipratan spermanya pada hidung Aida lalu di tempelkan ke bibirnya.

“Nih Non, sayang kalau mubazir, Non kan demen negak peju” katanya disambut tawa kedua pria lainnya.

Aida pasrah saja membuka sedikit mulutnya membiarkan jari itu masuk lalu diemutnya pelan. Ketiga pria itu cengengesan memandangi dirinya yang telah terkulai lemas, komentar-komentar jorok keluar dari mulut mereka.

“Sudah demikian hinakah gua ?” Aida bertanya pada dirinya sendiri dalam hati, dalam rasa terhina itu dia juga menikmati menjadi budak seks, sungguh dilema yang rumit.

Pak Udin memberinya tisu dan air minum untuk menyegarkan diri, setelah mengelap cipratan sperma di wajahnya, dia langsung menyambar gelas itu dan meminum isinya hingga habis.

“Bisa kita mulai lagi Non ?” tanya Pak Udin.

“Jangan terlalu kasar dong, saya udah capek” jawabnya lemas.

“Ngga, kali ini santai aja, ayo dong Non…naik sini !” perintah Pak Udin yang berbaring telentang sambil menunjuk pada penisnya.

Aida pun naik ke tubuh tukang kebunnya itu. Penis yang mengacung itu digenggamnya dan diarahkan ke vaginanya. Kemudian ia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan.

“Ahhh….!” desahnya merasakan penis itu mengisi vaginanya.

Sebentar saja Aida sudah menaik turunkan tubuhnya, kedua telapak tangannya saling genggam dengan Pak Udin. Pak Irfan berdiri di ranjang dan mendekatkan penisnya ke wajah gadis itu. Tahu apa yang akan diminta pria itu, sebelum disuruh Aida sudah menggenggam batang itu dan membuka mulut. Dia mengoral penis itu sambil memacu tubuhnya. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang itu membuat Jabir merasa gemas sehingga dia mendekatinya dan mencaplok yang sebelah kanan.

“Sakit Bang, jangan gigitnya jangan keras gitu dong !” rintihnya karena merasa nyeri putingnya digigit dengan keras oleh pria itu.

“Jangan nafsu gitu oi, ntar salah-salah kont*l gua kegigit gimana ?” kata Pak Irfan.

“Huehehe…sori abis bikin gemes sih, iya ane pelanin deh nih !” lalu dia menyapukan lidahnya pada puting itu.

Sapuan lidah itu membuatnya merasa lebih nyaman dan memberinya rangsangan setelah rasa nyeri barusan. Pak Udin pun menjulurkan tangannya meremasi payudara gadis itu yang sebelahnya, putingnya dia pilin-pilin sehingga makin mengeras.

Setelah merasa cukup dioral oleh Aida, Pak Irfan siap menyetubuhinya kembali. Dia menuju ke belakang dan membuka pantat gadis itu.

“Bapak cobain disini yah Non, pasti lebih seret !” pintanya.

“Tapi jangan kasar-kasar Pak” kata gadis itu.

Setidaknya Aida merasa bersyukur karena yang meminta anal seks Pak Irfan yang ukuran penisnya sedang-sedang saja, kalau Jabir yang minta pasti sakitnya akan terasa selama beberapa hari. Setelah meludahi duburnya Pak Irfan memulai proses penetrasinya.

“Sempit toh Pak ?” sahut Pak Udin dari bawah tubuh Aida melihat Aida dan pria itu merintih-rintih.

“Iya nih…uh sempit banget !” jawab Pak Irfan sambil terus menekan-nekankan penisnya.
Semenit kemudian akhirnya Pak Irfan berhasil memasukkan penisnya ke dubur Aida, dia mendiamkannya untuk beradaptasi dengan jepitannya yang keras.

Pak Udin menarik wajah gadis itu mendekati wajahnya untuk berciuman. Di tengah percumbuannya dengan Pak Udin, Aida merasakan penis di duburnya mulai bergerak, Pak Udin pun mulai menggerakkan pinggulnya lagi menusuk-nusuk vaginanya.

Posisinya kini sedang disandwitch oleh kedua tukang kebunnya dan bawahan papanya. Perbedaan warna kulit yang mencolok membuatnya terlihat seperti daging bersih dijepit dengan dua roti hangus.

Selain melakukan double penetration, tugas Aida bertambah ketika Jabir menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya. Posisi serangan tiga arah itu bertahan sekitar sepuluh menit sebelum Pak Udin dan Pak Irfan melepaskan penisnya karena akan orgasme. Mereka menelentangkan tubuhnya, dan berejakulasi di atasnya.

Pak Irfan menumpahkan spermanya di perut dan dadanya, sedangkan Pak Udin di mulut. Jabir yang masih belum puas berlutut diantara kedua paha Aida dan menyutubuhinya sampai sepuluh menit berikutnya. Keduanya mencapai orgasme secara berbarengan sperma Jabir muncrat di dalam vaginanya dan Aida sendiri menggelinjang hebat.

Dia harus mengakui bahwa Jabir benar-benar perkasa dibandingkan dengan Pak Irfan atau Pak Udin, bahkan dengan Frans, pacarnya, mungkin keperkasaannya bisa disejajarkan dengan Mamat, si penjaga kampus itu. Kamar itu hening selama beberapa menit, yang terdengar hanya dengusan nafas kelelahan. Langit di luar sudah menguning, jam telah menunjukkan pukul 5.40. Pak Irfan akhirnya turun dari ranjang dan masuk ke toilet di kamar itu.

“Cabut yuk, udah sore lagi nih !” katanya pada Jabir yang lalu menggerakkan tubuhnya untuk bangkit.

“Udah ya Non, kita pulang dulu, makasih banget THRnya, lain kali lagi yah hehehe…!” pamitnya sambil meremas payudara Aida.

“Go to hell lah…THR…THR !” omel Aida dalam hati.

Setelah mereka berpakaian Pak Udin mengantarkan mereka keluar rumah dan membukakan pagar.

Setelah itu Pak Udin masih terus mengerjai Aida mulai dari mandi bareng hingga malamnya minta tidur bareng di kamarnya. Aida tidak punya pilihan lain selain mengiyakannya. Hari-hari berikutnya pun setiap kali ada kesempatan Pak Udin selalu meminta jatah darinya.

Aida sendiri walaupun merasa benci dan kesal juga diam-diam menikmatinya. Hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena dua mingguan setelah kejadian itu, Pak Udin terjatuh dari bangku tinggi ketika sedang mengairi tanaman di pot gantung. Kepala belakangnya membentur lantai cukup keras dan berdarah sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Hari ketiga di rumah sakit Aida sengaja datang membesuknya. Suasana kamar tempatnya dirawat tidak ada siapa-siapa ketika itu, Aida masuk dan mengunci pintu. Ia menatap tajam dengan pandangan penuh dendam pada pria yang pernah melecehkan dan merendahkannya itu yang kini tergolek tak berdaya di ranjang pesakitan. Perlahan si sakit membuka matannya dan dia mengembangkan senyum melihat siapa yang di sebelahnya.

“He…he…Bapak tau Bapak gak bakal hidup lebih lama lagi, tapi Bapak puas…soalnya udah ngerasain kehangatan dari Non” katanya terputus-putus.

Aida tetap diam tak bersuara apapun sejak tadi, lalu dia menundukkan badan dan mendekatkan wajahnya ke wajah keriput pria itu. Bibir mereka bertemu, membuka dan beradu lidah seperti hari itu. Namun tiba-tiba Aida menarik wajahnya dengan cepat.

Pak Udin merasakan bantal di bawah kepalanya ditarik dan tak sampai sedetik benda itu sudah berpindah menutupi wajahnya. Aida menekan bantal itu keras-keras membekap wajah pria itu. Tubuh tua itu meronta tapi tak lama sebelum akhirnya diam tak bergerak. Setelahnya barulah Aida melepaskan bantal itu, mata pria membuka dengan tatapan kosong, nafasnya sudah tak terdengar lagi. Aida menaruh kembali bantal itu dibawah kepalanya.

“Salam buat iblis di neraka” katanya sambil menutup mata pria itu.

Setelah menyisir rambutnya, iapun keluar dari kamar itu dengan hati puas telah membalaskan dendamnya. Keluarga Pak Udin di kampung menerima santunan dari keluarga Aida dan mereka menerima dengan ikhlas kematiannya yang mereka anggap sebagai kecelakaan kerja itu.

CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAGINA MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAGINA MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAGINA MERAH BASAH, ABG HOT VAGINA MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL, SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK NGANGKANG DIENTOT, FILM VAGINA MERAH BASAH PANAS.

About Vanita Esma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*