Cerita Sex Pegawai Koperasi Single | Haus Sex
Vimax cresizedimage.php Agen Capsa
Pembesar Penis Bandar Q Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online , Sakong Online Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya
agen bandarq online

Cerita Sex Pegawai Koperasi Single

VIMAX Bandar Capsa

Situs Terlengkap Untuk Cerita Dewasa Pribadi | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Hot | Cerita ABG | Cerita Tante tante | Cerita Sex Jilbab | Seks Bergambar – Pegawai Koperasi Single. Kantorku ayng mendapat proyek dari BUMN memaksa aku untuk tinggal dikantor selama setahun lamanya karena memang proyek ini proyek besar, kantorku yang berada di lantai 3 ada bermacam macam toko yang mana ada kantin , bank, kalau di lantai 1 terdapat swalan kecil kecilan.
Ada 3 orang pegawai koperasi yang melayani toko ini, 2 diantaranya cewek. Seorang sudah berkeluarga, satu lagi single, 22 tahun, lumayan cantik, putih dan mulus, mungil, sebut saja Mei namanya.

Cerita Dewasa Pegawai Koperasi Single

cerita sex terbaru, cerita dewasa, cerita mesum terbaru, cerita sex mesum, cerita mesum 18, cerita mesum baru, cerita mesum terkini, cerita mesum 17, cerita mesum terhot, koleksi cerita mesum, mesum cerita, kumpulan cerita mesum bergambar, galeri cerita mesum, cerita mesum paling panas, cerita mesum dan fotonya

Awalnya, aku tak ada niat “mengganggu” Mei, aku ke toko ini karena memang butuh makanan kecil dan rokok. Mei menarik perhatianku karena paha mulusnya “diobral”. Roknya selalu model mini dan cara duduknya sembarangan. CD-nya sempat terlihat ketika ia jongkok mengambil dagangan yang terletak di bagian bawah rak kaca etalase.

Aku jadi punya niat mengganggunya (dan tentu saja ingin menyetubuhinya) setelah tahu bahwa Mei ternyata genit dan omongannya “nyrempet-nyrempet”. Niatku makin menggebu setelah Mei tak menunjukkan kemarahan ketika beberapa kali aku menjamah paha mulusnya dan bahkan sekali aku pernah meremas buah dadanya.

Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya. Tentu ini ada “ongkosnya”, yaitu aku tak pernah minta uang kembalian.

Agar bisa bebas menjamah, aku pilih waktu yang tepat jika ingin membeli sesuatu. Ternyata pada pagi hari ketika toko baru buka atau sore hari menjelang tutup adalah waktu-waktu “aman” untuk mengganggunya. Kenakalanku makin meningkat.

Mulanya hanya mengelus-elus paha, kemudian meremas buah dada (masih dari luar), terus menyusupkan tangan ke BH (kenyal, tak begitu besar sesuai dengan tubuhnya yang sedang), lalu menekan-nekan penisku yang sudah tegang ke sepasang bulatan pantatnya yang padat.

Bahkan Mei sudah “berani” meremas penisku walau dari luar. Entah kenapa Mei mau saja kuganggu. Mungkin karena aku memakai dasi sehingga aku dikiranya manager di BUMN ini, padahal aku hanya staf biasa di perusahaanku. Aturan perusahaan memang mengharuskan aku pakai dasi jika kerja di kantor klien.

Aku makin penasaran. Aku harus bisa membawanya, menggeluti tubuhnya yang padat mulus, lalu merasakan vaginanya. Mulailah aku menyusun rencana. Singkatnya, Mei bersedia kuajak “jalan-jalan” setelah jam kerjanya, pukul 5 sore.

Tentang waktu ini menjadi masalah. Walaupun jam kerja resmiku sampai pukul 17, tapi aku jarang bisa pulang tepat waktu. Seringnya sampai jam 19 atau 20. Aku coba menawar jamnya agak malam saja. Tak bisa, terlalu malam kena marah mamanya, katanya.

Okelah, nanti cari akal mencuri waktu. Pada hari yang telah disepakati, Mei akan menunggu di jalan “D” pukul 17.10. Dari kantor ke jalan “D” memang makan waktu 10 menit jalan kaki.

Pukul lima seperempat aku sudah sampai di jalan D. Kulihat Mei berdiri di tepi jalan, tapi tak sendirian. Bu Maya (sebut saja begitu) kawan sekerjanya yang telah berkeluarga ada di sampingnya. Celaka. Tadi Mei bilang sendirian. Kalau bawa orang lain bisa terbongkar belangku oleh kawan kantor. Hal ini sangat kuhindari.

“Bu Maya cuma mau nebeng sampai halte”, kata Mei seolah mengetahui kekhawatiranku. Syukurlah. Tapi, peristiwa ini harusnya tak seorangpun boleh tahu.

“Tenang aja Mas.., rahasia dijamin, ya Mei”, kata Bu Maya sambil mengedip penuh arti.

Setelah menurunkan Bu Maya di halte, aku langsung mengarah ke Setia Budi. Kalau sudah ada cewek duduk di sampingku, seperti biasa mobilku langsung cari hotel, wisma, guest-house, atau apapun namanya yang bertebaran di daerah Setia Budi.

Daerah yang sudah beken di antara para peselingkuh, sebab sebagian besar tempat-tempat tadi menyediakan tarif khusus, tarif “istirahat” antar 3-6 jam, 75 % dari room-rate.

Mei membiarkan tanganku mengelus-elus pahanya yang makin terbuka ketika duduk di mobil. Penisku mulai bangun membayangkan sebentar lagi aku bakal menggeluti tubuh mulus padat ini.

“Ke mana Mas..”, tanya Mei ketika aku menghidupkan lampu sein ke kanan mau masuk ke Hotel GE.”Kita cari tempat santai..”, jawabku.”Jangan ah. Lurus aja”.

“Ke mana..”, aku balik bertanya.

“Kata Mas tadi mau jalan-jalan ke Lembang..”.

Aku jadi ragu. Selama ini Mei memberi sinyal “bisa dibawa”, tapi sekarang ia menolak masuk hotel. Tanganku kembali ke pahanya, bahkan terus ke atas meraba CD-nya. “Ih, Mas.., dilihat orang”, sergahnya menepis tanganku. Memang pada waktu yang bersamaan aku menyalip motor dan si pembonceng sempat melihat kelakuan tanganku.

Kami sampai di Lembang. Aku bingung. Tadi sewaktu aku mau belok kiri ke Hotel “Kh” lagi-lagi Mei menolak. Mau ngapain di Lembang? Ke Maribaya? Ah, itu tempat wisata, susah untuk “begituan”. Lebih baik mampir dulu buat minum sambil mengatur taktik.

“Kita minum dulu ke sini, ya..?”, ajakku untuk mampir di tempat minum susu segar yang biasa ditongkrongi anak-anak muda.

“Mau minum susu? Engga.., ah. Mendingan minum susu Mei aja..”. Aku tak heran, bicaranya memang suka “nyrempet”.

“Boleh..”, kataku sambil memindahkan tanganku dari paha ke belahan kemejanya, menyusup ke balik BH-nya, meremas.

Tak ada penolakan. Daging bulat yang ‘mengkal’. Tak begitu besar tapi padat. Puting yang hampir tak terasa, karena kecil. Celanaku terasa sesak. Sampai di perempatan aku harus ambil keputusan mau ke mana? Lurus ke Maribaya.

Kanan kembali ke Setia Budi. Kiri ke arah Tangkuban Perahu. Kulepas tanganku dari “susu segar” Mei, aku belok kiri. Tangan Mei kuraih kuletakkan di selangkanganku, lalu tanganku kembali ke susu segarnya.

Tangannya memijit-mijit penisku (dari luar). Berbahaya sebenarnya. Kondisi jalan yang penuh tikungan dan tanjakan sementara konsentrasi tak penuh.

Hari mulai gelap, aku belum menemukan solusi masalahku, di mana aku akan menggumuli Mei? Di tepi kanan jalan ke arah Tangkuban Perahu itu banyak terdapat kedai-kedai jagung bakar. Kubelokkan mobilku ke situ, mencari tempat parkir yang mojok dan gelap.

“Mau makan jagung?”, tanyanya.

“Iya”, jawabku. Makan “jagung”-mu.

Kuperiksa keadaan sekeliling mobil. Gelap dan sepi. Segera kurebahkan jok Mei sampai rata, kuserbu bibirnya. Mei menyambut dengan permainan lidahnya. Tanganku kembali meremasi bukit kecil kenyal itu sambil secara bertahap mencopoti kancing kemejanya. Mei melepaskan ciuman, bangkit, memeriksa sekeliling.

“Jangan khawatir.., aman”, kataku.

“Mau minum susu..?”, tawarnya. Tawaran yang naif, sebab jawabannya begitu jelas. Mei menarik sendiri sepasang ‘cup’-nya ke atas sehingga sepasang bukit putih itu samar-samar tampak. Dengan gemas kulumat habis-habisan buah dadanya.

Sekarang tonjolan putingnya lebih jelas, karena mengeras. Tanganku menyusup ke balik CD-nya. Rambut kelaminnya yang tak begitu lebat itu kuusap-usap. Sementara ujung telunjukku memencet clitorisnya.

“aahh”, desahnya.

Tangannya kutuntun ke selangkanganku. Ia meremas.

“Buka kancingnya Sar..” Mei menurut, dengan agak susah ia membuka kancing, menarik ritsluiting celanaku dan “mengambil” penisku yang telah keras tegang.

Beberapa menit kami bergumul dengan cara begini. Sampai ketika ujung jariku mulai masuk ke “pintu” vaginanya, Mei berontak, bangkit, lagi-lagi men-cek keadaan. Di depan terlihat 2 orang pejalan kaki menuju ke arah kami.

Mei cepat-cepat mengancingkan kemejanya, kutangnya belum sempat dibereskan. Sementara aku kembali ke tempatku. Penisku masih kubiarkan terbuka berdiri tegak. Toh tidak akan kelihatan. Kami berlagak “alim” sampai kedua orang itu lewat.

Kembali kami bergumul. Keteganganku yang tadi sempat turun oleh “gangguan” orang lewat, kini naik lagi. Pintu vagina Meipun sudah basah. Saatnya untuk mulai. Kupelorotkan CD Mei. Tapi, masa kutembak di mobil? Rupanya Mei berpikiran sama.

“Jangan.., Mas.., banyak orang..”

“Makanya.., kita cari tempat, ya..”

Mei berberes sementara aku menstart mobil. Aku menyetir dengan posisi penisku tetap terbuka tegang.

“Si joni udah engga tahan ya..”, goda Mei.

“Iyyaa.., sini..”, kuraih tangannya menuju ke penisku. Dielus-elus.

Tempat terdekat yang sudah kukenal adalah Hotel “Kh”, sedikit di bawah Lembang. Dari jalan raya kubelokkan mobilku masuk ke lorong jalan khusus ke hotel Kh.

“Hee.., stop.., stop Mas..”, serunya.

“Lho.., kita ‘kan cari tempat..”, aku menginjak rem berhenti. Mei diam saja.

“Di sini aman, deh Sar..”.

“Udah malem.., Mas.., Lain kali aja ya?”, Aku mulai jengkel. Si “Joni” mana mau mengerti lain kali.

“Ayolah.., Sar, sebentar aja, sekali aja..”.

“Maaf Mas, lain kali saya mau deh.., bener. Sekarang udah kemaleman. Saya takut dimarahin Mama”, Aku diam saja, jengkel.

“Bener.., Mas. lain kali saya mau..”, katanya lagi meyakinkanku.

Aku mengalah, toh masih banyak kesempatan. Aku kembali menuju Bandung. Kira-kira 100 m sebelum hotel GE, kembali aku membujuk Mei untuk mampir. Lagi-lagi Mei menolak sambil sedikit ngambek. Aku terus tak jadi mampir.

Sampai di jalan lurus menjelang terminal Ledeng, macet sekitar seratusan meter. Tempat ini memang biasa macet. Selain keluar/masuknya angkot, juga ada pertigaan jalan Sersan Bajuri. Iseng mengantre, kuambil tangan Mei ke penisku yang masih belum “kusimpan”, Mei menggosoknya. Lepas dari kemacetan tiba-tiba Mei memberi tawaran yang nikmat.

“Mau dicium..?”.

“Dengan senang hati”.

Segera saja Mei membungkuk melahap penisku yang sudah tegang lagi. Kepalanya naik turun di pangkuanku. Nikmatnya.., Baru kali ini aku menyetir sambil dikulum. Aku memperlambat jalan mobilku, menikmati kulumannya sambil mata tetap mengawasi kendaraan lain.

Sementara rasa nikmat menyelimuti bawah badanku, deg-degan juga dengan kondisi yang “aneh” ini. Sampai di pertigaan jalan Panorama macet lagi. Situasi ramai. Kuminta Mei melepas kulumannya, banyak orang lalu-lalang.

Lepas dari kemacetan kembali Mei memainkan lidahnya di leher penisku. Ada untungnya juga jalanan macet. Aku punya waktu untuk menurunkan tensi sehingga bisa bertahan lama. Oohh.., sedapnya lidah itu mengkilik-kilik leher dan kepala kelaminku.

Nikmatnya bibir itu turun naik menelusuri seluruh batang penisku. Sayangnya, aku harus membagi konsentrasiku ke jalan.

Menjelang pertigaan Cihampelas Mei melepas jilatannya, bangkit melihat sekeliling.

“Sampai di mana nih?”, tanyanya terengah.

“Hampir Cihampelas”, jawabku.

“Mampir ke Sultan Plaza.., ya Mas..”.

“Mau ngapain?”.

“Mama tadi pesan”.

Okey, mendadak aku ada ide untuk melepaskan ketegangan selepas-lepasnya tanpa terpecah konsentrasi. Aku masuk ke Plaza, cari tempat parkir yang aman, di belakang bangunan. Sengaja kupilih tempat yang gelap. Kucegah Mei membuka pintu hendak turun.

“Oh ya.., sini Mei rapiin”. Kutarik kepala Mei begitu ia membungkuk akan merapikan celanaku.

“Terusin.., Sar..”, perintahku.

Mei bangkit lagi. Kukira ia mau menolak, tahunya hanya melihat sekeliling. Aman. Kembali kepala Mei turun-naik mengulum penisku. Kini aku bisa konsentrasi ke rasa nikmat di ujung penis. Mei memang pintar berimprovisasi.

Kelihatannya ia sudah biasa ber-oral-seks. Lidahnya tak melewatkan seincipun batang kemaluanku. Kadang ditelusuri dari ujung ke pangkal, kadang berhenti agak lama di “leher”. Kadang bibirnya berperan sebagai “bibir” bawahnya, menjepit sambil naik-turun.

Terkadang nakal dengan sedikit menggigit. Aku bebas saja mendesah, melenguh, atau bahkan menjerit kecil, tempat parkir yang luas itu memang sepi. Ketika mulutnya mulai melakukan gerakan
“hubungan kelamin”, perlahan aku mulai “naik”, rasa geli-geli di ujung sana semakin memuncak. Saatnya segera tiba.

“Dicepetin.., Sar..”. Mei bukannya mempercepat, malah melepas.

“Uh, pegel mulut saya..”.

“Sebentar lagi.., Sar..”.

Kembali ia melahap. Kali ini gerakan kepalanya memang cepat. Aku menuju puncak. Mei makin cepat. Sebentar lagi.., hampir..! Mei mempercepat lagi, sampai bunyi. Hampir.., hampir.., dan “Creett”, Kusemprotkan maniku ke dalam mulut Mei. Aku melayang.

“Uuhh” Mei melepaskan kulumannya, “Crot..”, kedua dan seterusnya ke celana dan perutku.

“Iihh.., engga bilang mau keluar.., jijik..”, katanya sambil mencari-cari tissu.Aku rebah terkulai. Sementara Mei membersihkan mulutnya dengan tissu.

Beberapa saat kemudian.

“Yuk.., Mas.., turun”.

“Entar dong..”, Aku bersih-bersih diri. Celaka, noda yang di celana tak bisa hilang.

“Kamu sendiri deh”.

“Sama Mas dong..”.

“Ini.., engga bisa ilang”, kataku sambil menunjuk noda itu.

“Bajunya engga usah dimasukin”, sarannya. Betul juga.

Akhirnya aku membayar belanjaan Mei. Aku diminta ikut belanja karena maksudnya memang itu. Aku juga memberinya uang dengan harapan agar lain kali bisa kusetubuhi.

Esoknya ketika aku membeli rokok, Mei kelihatan biasa saja tak berubah. Masih genit dan sedikit manja. Peristiwa semalam tak mengubah prilakunya. Aku yang makin penasaran ingin menidurinya.

Pernah suatu pagi sekali tokonya belum buka tapi Mei sudah datang sendirian sedang merapikan barang-barang, kukeluarkan penisku yang sudah tegang karena sebelumnya meremas dadanya.

Kuminta Mei mengulumnya di situ.

“Gila..! entar ada orang”.

“Belum ada.., ayo sebentar aja”.

Diapun mengulum sambil was-was. Matakupun jelalatan memperhatikan sekeliling. Kuluman sebentar, tapi membuatku exciting.

Setiap ada kesempatan untuk pulang jam 5, aku selalu mengajak Mei. Beberapa kali ia menolak. Macam-macam alasannya. Sedang mens, mau ngantar adik, ditunggu mamanya. Sayang sekali, sampai Mei pindah kerja aku tak berhasil menidurinya.

Tapi kemarin, setelah hampir 2 tahun, aku ketemu Mei di BIP berdua dengan teman cewek. Dia rupanya sudah tidak bekerja di toko koperasi itu lagi, sekarang kerja di Bagian Administrasi di sebuah Guest House. Jelas aku mencatat nomor teleponnya. Letak tempat kerjanya tak jauh dari kantor itu. Hanya, kemungkinan ketemu kecil, sebab proyekku di kantor itu telah selesai. Aku penasaran!

CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAGINA MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAGINA MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAGINA MERAH BASAH, ABG HOT VAGINA MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL, SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK NGANGKANG DIENTOT, FILM VAGINA MERAH BASAH PANAS.

About Vanita Esma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*