Cerita Sex Mempersilahkan Untuk Menjamah | Haus Sex
Vimax cresizedimage.php Agen Capsa
Pembesar Penis Bandar Q Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online , Sakong Online Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya
agen bandarq online

Cerita Sex Mempersilahkan Untuk Menjamah

VIMAX Bandar Capsa

Situs Terlengkap Untuk Cerita Dewasa Pribadi | Cerita Sex Terbaru | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Hot | Cerita ABG | Cerita Tante tante | Cerita Sex Jilbab | Seks Bergambar – Mempersilahkan Untuk Menjamah. Asal aku Indonesia tapi selama 4 tahun ini aku tinggal di laur negeri tepatnya di kota kanguru aku disini untuk menimba ilmu yang disiruh oleh orang tuaku beliau menginginkan anaknya menjadi sesorang, statusku yang masih bujang baru kemarin aku putus cinta karena hubungan kita LDR dari Indo ke Australia dan kami putus baik baik karena kita sadar hidup kami berbeda.

Cerita Dewasa Mempersilahkan Untuk Menjamah

cerita sex perselingkuhan, cerita perselingkuhan terbaru, cerita perselingkuhan ibu rumah tangga, cerita cerita perselingkuhan, cerita perselingkuhan ibu, cerita perselingkuhan di kantor, cerita ngesek perselingkuhan, cerita perselingkuhan wanita, cerita perselingkuhan istriku, cerita perselingkuhan bergambar, cerita mesum perselingkuhan, cerita perselingkuhan dengan tetangga, perselingkuhan cerita, cerita perselingkuhan sampai hamil, cerita perselingkuhan tetangga, cerita hubungan perselingkuhan, cerita perselingkuhan terpanas, cerita birahi perselingkuhan, cerita bokep perselingkuhan

Namun harus aku akui bahwa perasaan sedih, sakit, kecewa, dan kehilangan pastilah ada sejak itu. Tapi sekarang aku dan dia sudah ‘move-on’, and get over with it. Aku sekarang lebih menfokuskan diri-ku terhadap karir, dan juga rencana masa depan aku.

Saat ini pula aku sedang menjalankan hubungan kasih dengan kakak bekas pacar-ku ini, dan hubungan kami ini tidak banyak orang yang tau. Kami menjalankan hubungan ini benar-benar ‘backstreet’ dari keluarga-nya. Kami tidak tau bagaimana nanti kalo rahasia ini terbongkar, dan kami yakin suatu hari nanti rahasia ini pasti terbongkar juga antara keluarga-nya yang found out dengan sendiri-nya atau kami yang akan buka mulut sendiri.

Begitulah singkat cerita tentang aku sekarang ini. Sekarang aku ingin menceritakan cerita flash back beberapa tahun yang lalu.

Sebutkan saja nama bekas pacar-ku Mona. Umur-nya 5 tahun lebih muda dari aku. Mona datang dari Jakarta. Orang-nya manis, warna kulit-nya sawo matang, bulu pelipit mata-nya tebal, bibir-nya tipis dan mungil. Dia juga memiliki sepasang sparkling eyes, dan nice & beautiful hair. Aku suka sekali mencium dan membelai rambut-nya kalo dia sedang tidur dia dada-ku. Dia orang yang aku paling aku sayang, dan paling aku treasure saat itu.

Frankly speaking, selama 5 tahun berhubungan dengan-nya, kami aktif dalam bercinta secara seksual. I was a virgin, and she was a virgin too. Pengalaman yang tidak pernah aku lupakan seumur hidup aku.

Kami bisa bercinta 4 sampai 5 kali dalam seminggu. Tergantung dengan situasi kami. Kami berpacaran ketika jaman kami kuliah, jaman di mana kita masih suka berhappy-happy istilah-nya, jadi kami banyak waktu luang dan tidak ada beban apapun. Pada saat itu aku baru memasuki tahun pertama master degree-ku dan Mona baru memulai tahun pertama semester dua bachelor degree.

Hubungan seksual kami adalah hubungan seksual yang sehat, tiap 1.5 tahun sekali aku selalu menemani Mona untuk ke clinic untuk check rutin Pap Smear. We were a very happy couple.

Mona memiliki seorang kakak, nama-nya Antik. Antik juga kuliah di sini, dan 2 tahun lebih tua dari Mona. Jadi basically 3 tahun lebih muda dari aku. Pada waktu itu Antik transfer kuliah dari Jakarta ke Australia. Mona terlebih dahulu yang kuliah di Australia.

Karena aku dan Mona tinggal bersama sewaktu kami berpacaran, aku tidak keberatan kalo Antik juga tinggal di sini. Kebetulan apartment kami ada 2 kamar, kami sengaja tidak menyewa apartement dengan 1 kamar, dengan alasan kalo orang tua aku atau orang tua Mona datang berkunjung, mereka tidak akan curiga.

Namun orang tua kami telah acknowledged kalo kami tinggal serumah. Jadi kedatangan Antik tidak menjadi masalah buat kami. Tapi Antik pernah berkata sebelum-nya sewaktu di Jakarta dan sesampai di Australia, kalo dia akan tinggal bersama kami sementara sampai dia nanti menemukan tempat tinggal sendiri.

Mungkin Karena Antik lebih ingin mandiri atau Karena dia tidak enak hati, Karena apartment itu aku yang tanggung semua. Namun lama-lama Antik mulai betah tinggal bersama kami, Karena selain dia tinggal bersama adik kandung sendiri juga Karena apartment kami sangat dekat dengan tempat kuliah-nya, dan tepat di dalam daerah metropolitan.

Perawakan Antik lebih tinggi dari Mona, dan warna kulit-nya lebih putih, bibir-nya tipis dan mungil. Tapi mata-nya lebih sipit, dan memiliki warna dan corak rambut yang sama seperti Mona. Orang-nya sedikit pendiam dibandingkan Mona.

Tapi untung-nya Antik bisa getting along dengan aku, dan dia suka cerita-cerita tentang sehari-harinya di tempat kuliah atau di mana saja. Aku merasa Antik seperti adikku sendiri. Dia pun tidak pernah sungkan-sungkan meminta pertolongan aku, seperti minta diantar ke supermarket atau minta tolong dijemput dari rumah teman-nya sehabis belajar kelompok sewaktu mid-term test atau end of semester exam period. Kami sering pula keluar bertiga, jalan-jalan keluar kota bertiga. Sampai pada akhir-nya Antik punya pacar.

Semenjak Antik punya pacar, Antik memutuskan untuk ikut patungan sewa apartment, Karena pacar Antik sering datang menginap di apartment kami. Dia merasa sungkan apabila pacar-nya mungkin membuat aku merasa tidak nyaman Karena sering menginap.

Semenjak pacar Antik sering menginap, banyak kejadian unik yang Antik perbuat, yang membuat aku jadi salah tingkah, dan membuatku pusing kepala juga. Ternyata Antik tergolong wanita yang sexually active. Pernah sewaktu aku dan Mona pulang dari makan malam, Mona secara tidak sengaja melihat Antik sedang melakukan hubungan seks dengan posisi Antik di atas (woman on top position), Karena pintu kamar Antik tidak tertutup rapat, jadi terintip sedikit oleh Mona.

Dan suara erangan napsu Antik membuat aku dan Mona pusing. Bukan membuat kami terangsang, tapi merasa risih. Pernah aku berpesan kepada Antik supaya ‘keep-down the voice’, biar aku dan Mona tidak merasa risih. Tapi sia-sia saja. Sampai pada akhir-nya aku menyuruh Antik untuk memutar music sewaktu berhubungan seks dengan pacar-nya.

Kebiasaan Antik sehari-hari menjadi berubah pula. Seperti contoh, biasa-nya Antik lebih suka memakai piyama lengkap setelah mandi. Tapi kali ini Antik selalu memakai daster lengan dan kaki pendek, dan lebih parah lagi tidak memakai bra sama sekali. Jadi kadang-kadang puting susu-nya terlihat jelas menempel daster-nya.

Aku sering dibikin risih juga. Tiap kali kami nonton tv, makan, atau ngobrol bareng – aku selalu menjadi salah tingkah. Pernah aku bilang ke Mona supaya menasehati kakak-nya untuk lebih menutupi daerah itu dengan bra. Namun Mona hanya menasehati aku kembali untuk tidak ter-focus ke daerah payudara Antik. Sebagai lelaki yang normal, nasehat Mona sia-sia saja. Sampai pada akhir-nya aku menjadi bosan sendiri dengan kebiasaan baru Antik.

Sering juga Antik keluar dari kamar mandi hanya tertutup handuk, atau baru saja berhubungan seks dengan pacar-nya dia cuma memakai kaos pacar-nya yang longgar sampai di lutut dan lewat di depan mukaku menuju ke toilet untuk cuci kemaluan-nya atau kencing. Lama-lama aku semakin terbiasa dengan pemandangan seperti itu. Aku sudah tidak menghiraukan lagi, selama dia ngga pernah berjalan terlanjang di depan mataku.

Pengalaman ini berlangsung selama hampir 2 tahun, sampai pada akhir-nya aku lulus kuliah dan memulai karir pertama aku di suatu perusahaan IT dalam skala kecil. Pada waktu itu Mona masih duduk di bangku kuliah tahun terakhir. Antik juga telah lulus kuliah-nya, dan dalam masa mencari pekerjaan tetap.

Karena susah-nya mencari pekerjaan tetap, untuk membiayai kehidupan sehari-harinya, Antik bekerja casual di cafe dekat kantorku. Jam kerja aku mulai dari jam 8 pagi, dan jam kerja Antik tidak menentu. Kadang-kadang jam 7 pagi, jam 8 pagi atau bahkan jam 12 siang. Tergantung jadwal yang diatur oleh manager-nya.

Kalo Antik mendapat jadwal jam 8 pagi, biasa-nya aku dan Antik berangkat bersama-sama. Di sana kami banyak bercerita macam-macam dengan Antik, terutama tentang job hunting-nya dan kondisi frustasi-nya Karena susah-nya mendapat pekerjaan tetap. Stress dan frustasi-nya banyak dilimpahkan ke aku, Karena pacar-nya kurang bisa mengerti keadaan-nya saat itu. Aku menjadi semakin care dan menjadi teman curhat bagi-nya.

Pada suatu hari, di pagi hari. Antik mendapatkan jadwal jam 8 pagi dari manager-nya. Hari itu aku sengaja untuk bangun lebih pagi dari Antik, Karena Antik adalah type wanita yang mandi-nya lama sekali.

Setelah selesai mandi, aku masuk ke kamar dan melihat Mona sedang tidur pulas. Aku bersiap diri, mengenakan hem dan jas kerja-ku. Tiba-tiba saja perut-ku terasa mulas, dan aku lari terbirit-birit menuju ke toilet. Untung saja toilet dan kamar mandi di apartment kami terpisah. Setelah selesai dari buang air besar, aku ingin mengambil sabun cuci tangan di kamar mandi kebetulan sabun cuci tangan di toilet sedang habis.

Jadi dengan santai-nya aku membuka pintu kamar mandi. Saat itu aku benar-benar terkejut, ketika aku melihat Antik sedang mandi dan terlanjang bulat di bawah deras-nya pancuran air shower. Antik tidak menyadari kalo pintu kamar mandi terbuka lebar, dan aku sedang terpaku memandang tubuh-nya yang basah terlanjang. Jantung aku berdetak dengan kencang, dan rasa-nya aku bisa mendengar dengan jelas detakan keras jantung-ku.

Aku berdiri termangu di sana sekitar 10 detikan. Setelah sadar, aku dengan segera menutup pintu kamar mandi itu dengan perlahan agar Antik tidak mendengar. Aku sengaja tidak menutup rapat pintu kamar mandi tersebut, Karena sebelum-nya memang Antik tidak menutup rapat pintu itu. Juga mencegah kecurigaan Antik apabila pintu kamar mandi tersebut tertutup rapat.

Pada saat itu, hati-ku bergejolak, dan darah-ku mengalir deras naik sampai ubun-ubun kepalaku. Semakin aku pikir, semakin besar keinginan-ku untuk melihat tubuh Antik yang terlanjang lagi. Sampai pada akhir-nya aku memberanikan diri untuk membuka pintu kamar mandi dan mengintip Antik sedang mandi.

Tubuh Antik luar biasa padat, dan perut-nya rata. Kulit-nya putih, halus, dan mulus. Sepasang payudara-nya sungguh indah dan ranum, dan warna puting-nya coklat muda. Bulu pubis-nya juga halus, dan tidak begitu lebat. Kulihat Antik sedang menyabuni tubuh mulus-nya, dari payudara terus turun ke perut kemudian ke punggung-nya, terus paha dan bagian kaki lain-nya, sampai pada akhir-nya menyabuni kemaluan-nya.

Bukan main kepala-ku semakin pening, dan jantung-ku hampir copot dibuat-nya. Pada saat itu, aku benar-benar penuh dengan napsu birahi. Ingin rasa-nya aku masuk dan mencumbui Antik. Untung akal sehat-ku lebih kuat, aku segera saja menyudahi tontonan erotis itu, dan duduk di sofa ruang tamu sambil memijat dahi kepala-ku. Pening dan pusing sekali kepala-ku. Perlahan-lahan aku mengatur napas-ku, agar detakan jantung aku kembali normal.

Selang beberapa lama, Antik keluar dari kamar mandi, dan segera bertanya apakah aku sakit. Aku bilang kepada-nya bahwa tiba-tiba saja kepala-ku pusing, dan bilang kepada-nya mungkin Karena cuaca pagi yang dingin.

Sejak kejadian di pagi hari itu, aku lebih banyak diam dan salah tingkah terhadap Antik selama perjalanan kami menuju tempat kerja kami. Tidak jarang Antik bertanya apakah aku baik-baik saja.

Aku bilang pada-nya kalo aku baik-baik saja, cuman lagi ngga ada mood untuk ngomong. Mungkin Karena baru saja baikan dari rasa pusing. Selama di kantor, aku tidak berhenti-hentinya mengingat keadaan Antik yang terlanjang tadi.

Meskipun dulu-nya aku sering melihat paha mulus Antik, payudara Antik dibalik daster-nya yang tipis, tapi kali ini benar-benar mengunjang pikiran dan hati-ku. Aku tidak mungkin bisa menceritakan ini kepada Mona, Karena sudah tidak pantas untuk aku ceritakan. Karena ini akan mengundang perkelahian antara aku dan Mona. Aku tidak ingin hal ini terjadi.

Akhir-nya aku memilih untuk menyimpan rahasia ini dalam-dalam. Aku anggap ini kejadian yang tidak disengaja, dan berusaha melupakan kejadian itu. Memang sulit, tapi aku harus tetap harus berusaha melupakan-nya. Aku tidak ingin menghianati Mona, dan tidak ingin menjadi seorang pervert.

Setelah beberapa bulan lama-nya, aku berhasil melupakan kejadian di pagi hari itu. Aku lebih banyak mem-focuskan diriku terhadap Mona. Karena selain good for Mona, juga good for me. Hubungan aku dengan Mona begitu teguh, dan kokoh. Aku berkeinginan untuk melamar Mona, memiliki sebuah keluarga bersama-nya. Karena aku begitu menyanyagi dan mencintai-nya. She was the whole world for me.

Namun impian dan angan-angan itu tidak berlangsung lama. Seorang paman dari keluarga papa Mona dan Antik adalah seorang pengusaha yang cukup berhasil. Pengusaha yang banyak berhubungan relasi dengan pemerintah Indonesia.

Dia memiliki perusahaan yang banyak berhubungan dengan instansi BUMN seperti minyak bumi, gas alam, dan masih banyak yang lain-nya lagi. Semenjak Mona tamat kuliah, bujukan dan ajakan orang tua dan paman-nya untuk ikut ambil bagian di dalam perusahan paman-nya di Indonesia telah membuat diri Mona lambung dan tidak menentu hati-nya.

Pilihan untuk meninggalkan-ku beserta teman-temannya telah membebani hati dan pikiran Mona. Selama berbulan-bulan Mona terbebani perasaan seperti ini, dan yang paling tidak aku mengerti sampai saat ini, mengapa Mona tidak mau membagikan beban ini kepada-ku. Dia lebih banyak membuang waktu bersama teman-temannya, dan bercurah hati bersama teman-temannya. Hal ini membuat aku semakin takut kehilangan Mona. Setiap kali aku bertanya kepada-nya, dia selalu menjawab ‘tidak ada’, dan semakin gencar aku bertanya, itu membuat Mona semakin marah dan berdiam diri.

Aku bingung, dan semakin takut terhadap situasi yang aku hadapi. Aku selalu menyampaikan kepada-nya bahwa aku ingin Mona tinggal bersama aku di Australia dan menyakinkan kepada-nya bahwa aku bisa sukses di Australia, dan mampu mejamin kehidupan kami berdua. Namun usaha ini sia-sia, Karena itu bukan yang paling utama buat Mona.

Yang paling utama buat Mona, Karena orang tua Mona memiliki share/partnership di perusahaan paman-nya, dan orang tua-nya ingin agar Mona membantu perusahaan itu. Hal ini sama terjadi pula terhadap Antik, namun Antik lebih berani mengambil keputusan-nya untuk tinggal di Australia, Karena Antik lebih menyukai tinggal di sini.

Sampai pada akhir-nya aku menyerah juga, aku mengatakan pada Mona bahwa aku akan mendukung semua keputusan-nya, apapun konsekuensi-nya. Aku mengatakan kepada-nya bahwa aku sangat mencintai-nya, dan akan berbuat apapun yang penting aku bisa membuatnya bahagia, meskipun harus berpisah sementara dengan-nya.

Akhir-nya Mona memutuskan untuk pulang Indonesia dan bekerja dengan perusahaan paman-nya. Mulanya Mona hanya berencana di sana untuk 2 tahun, dan kembali ke Australia. Namun aku meminta kepada-nya agar mencoba 1 tahun saja. 2 tahun itu terasa lama bagi-ku. Dan juga meminta kepada-nya apabila dia tidak betah tinggal di sana, segeralah kembali ke Australia.

Aku tidak ingin menceritakan hari perpisahan-ku dengan Mona di Airport, Karena hari itu ada hari yang paling menyanyat hati-ku. Mengantarkan Mona ke Airport dengan ketidakpastian akan berapa lama aku berpisah dengan-nya, dan apakah dia akan kembali lagi di sini. Tidak jarang air mata-ku meleleh di depan-nya. Bisa dikatakan bahwa saat itu pula saat terakhir aku melihat diri-nya.

Kami menjalanin hubungan jarak jauh (long distance) selama 6 bulan, dan akhir-nya Mona memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Mona merasa bahwa dia lebih menyukai kehidupan baru-nya di Jakarta, di mana dia bisa lebih banyak waktu berkumpul dengan orang tua dan semua relatives-nya. Aku dan Mona sudah berbeda dengan cara pandang hidup kami. Aku lebih memilih tinggal di Australia, Karena my whole life started here, dan aku menyukai tinggal di negara ini.

Namun hal ini tidak seperti apa yang Mona pikirkan. Mona lebih memilih tinggal di Indonesia, Karena selain bisa tinggal dekat dengan keluarga-nya, kehidupan dia di sana serba ada. Keluarga Mona termasuk keluarga yang terpandang, dan bisa digolongkan sebagai keluarga yang kaya. Mona pernah berkata kepada-ku bahwa kehidupan di Australia termasuk berat untuk-nya, Karena tidak ada pembantu seperti di Indonesia.

Putus-nya hubungan kami adalah pukulan telak terhadap diri-ku, dan membuat-ku stress dan frustasi selama berbulan-bulan. Napsu makan pun menurun, dan berat badan-ku juga merosot tajam. Aku menjadi cepat kenyang, meskipun hanya makan sedikit saja. Aku lebih banyak menghabiskan waktu-ku dengan merokok.

Kebiasaan buruk-ku sebelum berpacaran dengan Mona. Saat itu rokok adalah teman terbaik-ku. Antik adalah orang yang paling tau jelas dengan keadaan-ku semenjak aku putus dengan Mona. Antik yang sering menemani aku merokok di balcony apartment malam hari.

Meskipun aku tidak bicara apa-apa, Antik dengan setia menemani aku. Dia pun juga shocked dengan putus-nya hubungan-ku dengan Mona. Antik merasa aku dan Mona ada couple yang paling perfect, tapi mengapa bisa sampai berhenti di tengah jalan.

Aku tidak pernah bermabuk-mabukan, mungkin itulah yang membuat Antik respect kepada-ku. Tiap malam sepulang kerja dari kantor-nya, Antik selalu menelpon-ku menanyakan apakah aku ingin makan sesuatu. Nanti dia bisa belikan atau dia masakin. Aku selalu titip dibeliin sushi, Karena selain simple, bisa membuat aku kenyang. Karena aku pun tidak banyak juga kalo makan.

Pada suatu hari, kalo tidak salah saat itu hari Kamis bulan August, pertengahan musim dingin di Australia, aku jatuh sakit. Perubahan cuaca yang dingin membuat aku demam tinggi. Aku minta ijin cuti sakit dari kantor selama 2 hari (Kamis & Jumat), dan akan kembali ke kantor lagi hari Senin depan-nya.

Badan aku begitu lemas, dan punggung-ku nyeri sekali. Saat itu aku begitu menderita, dan sangat merindukan Mona. Karena di saat-saat seperti ini, aku pasti akan disayang oleh Mona, dan pasti akan dirawat dengan baik. Saat itu dari pagi sampe sore, aku tidak makan sama sekali, Karena tidak mampu bangun dari tempat tidur. Aku hanya bisa nonton tv saja, itupun Karena remote control ada di bawah bantal-ku.

Sore hari-nya, aku menelpon Antik. Aku meminta tolong kepada Antik untuk dibelikan obat flu dan demam, juga minta tolong dibelikan bubur dari restaurant Chinese dekat apartment kami.

Setelah sampai di apartement, Antik pulang tanpa ditemanin pacar-nya. Aku tanya kepada-nya mengapa pacar-nya hari ini tidak menginap saja di apartment kita. Antik bilang bahwa orang tua pacar-nya baru datang dari Indonesia, jadi dia harus banyak menemani orang tua-nya. Setelah itu aku tidak menanyakan yang macam-macam lagi tentang kemana pergi-nya pacar Antik.

Malam itu Antik seperti suster pribadi-ku. Antik menyuapi aku makan, sambil mengajak aku ngobrol. Setelah makan Antik membasuh dada dan punggung-ku dengan handuk hangat yang setengah basah.

Setelah kering, Antik mengosok dada dan punggung-ku dengan minyak kayu putih sambil diurut-urut sedikit. Aku merasa nyaman dan damai dibuat-nya. Setelah aku meminum obat, aku kembali tidur. Antik tidak segera meninggalkan kamar-ku, melainkan menemani-ku sampai aku tertidur lagi. Dia duduk di atas ranjang-ku sambil menonton dvd di kamar-ku sambil membelai rambut-ku.

Entah mengapa, saat itu aku ingin sekali menangis. Aku terharu dengan perlakuan Antik terhadap diri-ku, mirip perlakuan seorang ibu dengan anak-nya. Aku merasa damai, dan tidak kesepian. Belaian jari jemari Antik di rambut-ku telah membuat-ku terbuai, dan tidak lama setelah itu aku tertidur pulas. Mungkin Karena effect obat itu juga, otot-otot tubuh-ku terasa lemah dan mengantuk.

Aku sudah tidak sadar berapa lama aku tertidur pulas. Sekitar jam 4 pagi aku terbangun. Aku harus buang air kecil. Ketika aku beranjak dari tempat tidur, aku terlihat Antik telah mengenakan piyama lengkap dan tertidur sambil dalam posisi duduk bersandar di tempat tidur-ku dengan tv yang masih menyala, tapi film dvd yang diputar telah selesai. Dengan segera aku matikan tv dan dvd player, dan menuju ke toilet.

Setelah buang air kecil, aku segera kembali ke kamar-ku. Kulihat wajah Antik sungguh manis, meskipun masih tertidur lelap. Aku tidak pernah menyadari bahwa Antik semanis ini. Kulihat rambut-nya yang lembut, dan sesekali kucium rambut-nya, harum sekali bau-nya. Kurebahkan Antik, agar dapat tidur dengan posisi yang benar.

Aku pun ikut tidur di samping Antik. Kali ini aku yang membelai rambut-nya, dan sesekali mencium rambut-nya. Saat itu, perasaan aku menjadi tidak menentu, Karena aku sudah tidak mengerti lagi perasaan sayang yang bagaimana yang harus aku perbuat terhadap Antik. Tidak berhenti-hentinya aku membelai rambut-nya, sampai akhir-nya aku tertidur kembali.

Pagi hari-nya, tepat jam 9an, aku terbangun dan Antik sudah tidak ada di samping-ku. Kulihat sepiring bubur yang mulai mendingin, dan segelas air beserta obat flu & demam di atas lemari kecil di sebelah ranjang-ku.

Kubaca note kecil dari Antik, “Kak Ditto harus makan yah?! Jangan telat makan lagi, nanti sakit maag. Abis makan, diminum obat-nya. Kalo masih pening atau demam, tidur lagi. Hari ini kak Ditto jangan masuk kantor dulu, badan kak Ditto pasti masih lemas. Ntar malam Antik mau masak’in kak Ditto sup.”.

Aku tersenyum simpul setelah membaca note kecil dari Antik. Aku masih bersyukur Karena masih ada Antik yang bisa merawat aku di saat-saat seperti ini. Karena terlalu banyak tidur, aku susah tidur kembali, jadi aku akhir-nya memutuskan untuk browsing Internet dan chatting ama teman-teman di msn dengan laptop-ku.

Sewaktu aku online di msn, aku melihat Antik sedang online juga.

“Hello, Antik!”, sapa-ku.

“Kak Ditto kok belon tidur?! Ntar ngga sembuh-sembuh loh!”, jawab Antik.

“Aku dah ngga bisa bobok lagi. Semalam dah kebanyakan bobok. Oh ya, thank you dan sorry yah dah ngrepotin Antik semalem.”, kata-ku lagi.

“Husss…ngga perlu bilang sorry. Kak Ditto kan dah seperti saudara Antik sendiri. Jadi ngga perlu sungkan-sungkan lagi ama Antik. Tapi jangan lupa, ntar kalo dah sembuh traktir Antik yah. Hihihi…”, kata Antik.

“No problem.”, jawab-ku langsung.

“Trus ntar malam Antik mau masak sup apa?”, tanya-ku lagi.

“Sup apa yah? … Antik belum kepikiran sih. Tapi yang pasti dijamin enak deh.”, kata Antik meyakinkan.

“Antik ngantuk ngga sekarang? Semalem Antik tidur-nya pasti tidak nyenyak kan? Abis-nya nungguin aku sampai ketiduran.”, kataku.

“Lho, kak Ditto kok tau kalo Antik ketiduran di kamar kak Ditto?”, tanya-nya heran.

“Pagi-pagi buta aku bangun, kebelet pipis, trus aku lihat Antik ketiduran di ranjang dengan tv yang masih menyala.”, jawab-ku.

“Kok kak Ditto tidak gendong Antik kembali ke kamar Antik sih. Hayo diapain Antik ama kak Ditto semalem.”, canda-nya genit.

“Kalo aku ngga sakit pasti Antik dah aku gendong kembali ke kamar. Semalem juga aku dah ngga kuat, badan lemas, gimana mau ngerjain Antik. Hehehehe…”, jawab-ku sambil bercanda.

“Genit ah kak Ditto, awas yaa…ntar Antik ngga masakin lagi buat kak Ditto”, canda-nya lagi.

“Sorry, sorry Antik. Kan bercanda aja. Ngomong-ngomong Antik kerja dulu deh, jangan ketahuan boss Antik chatting melulu, ntar diturunin gaji Antik. Aku juga mau browsing bentar, check emails, trus kembali bobok atau nonton dvd lagi.”, kataku lagi.

“Sip deh, kak Ditto banyak istirahat yah. Ntar dia ngga nginep lagi. Dia mau ajak papa mama-nya shopping. Kan hari ini hari Jumat. Antik bakalan pulang awal juga deh, demi kak Ditto. Hihihihi…jgn GR yahhh…Antik emang pengen pulang pagi kok.”, canda-nya sekali lagi.

“No problem Antik. See you at home”, kataku sebelum logout dari msn.

Hari itu begitu menyenangkan. Antik terdengar riang sekali. Aku bersyukur Karena aku masih tinggal bersama Antik. Meskipun Antik adalah kakak dari bekas pacar-ku, aku mengganggap-nya sebagai saudara sendiri, dan juga teman yang paling baik. Bahkan kadang-kadang aku lupa kalo Antik itu kakak dari bekas pacar-ku.

Tiba-tiba handphone aku berbunyi. Ternyata teman kantor aku yang menelpon, menanyakan keadaan-ku. Aku bilang pada-nya bahwa aku sudah mendingan jauh dibandingkan hari kemarin-nya, dan akan kembali ke kantor lagi hari Senin depan (tentu saja hari Sabtu dan Minggu kantor aku tutup kerja). Dan juga meminta teman kantor-ku untuk menyampaikan pesan ini kepada manager-ku.

Setelah itu aku kembali nonton dvd, dan tidak lama kemudian aku tertidur kembali sampai jam 6 sore. Kali ini aku bangun dengan keadaan segar bugar, badan-ku basah kuyup dengan keringat. Aku sudah tidak pening lagi. Setelah bangun, aku melihat keluar, ternyata Antik belum kembali dari kantor-nya.

Akhir-nya aku memutuskan untuk mandi. Sudah 2 hari aku belum mandi, meskipun semalam sebelum-nya badan-ku telah dibilas dengan handuk hangat setengah basah. Namun perasaan-ku seperti-nya masih kotor, dan harus cepat mandi, biar merasa bersih dan segar.

Seabis mandi, aku melihat Antik telah pulang dari kantor-nya dengan membawa banyak belanjaan. Aku tanyakan kepada-nya buat apa belanja sebegitu banyak kalo hanya untuk 2 orang saja. Antik bilang kalo dia banyak belanja buah-buahan segar dan juga untuk weekends.

Dia memilih untuk tinggal di apartment saja selama weekends ini. Seminggu ini Antik lumayan jenuh dengan pekerjaan kantor-nya. Dia bilang banyak tontonan dvd yang masih belon ditonton-nya.

Antik sibuk banget menyiapkan makan malam, dan aku duduk santai di ruang tamu. Kebetulan ruang tamu dan dapur menyambung menjadi satu, jadi kami bisa mengobrol. Aku banyak menanyakan tentang pekerjaan Antik hari ini, dan menanyakan kabar pacar Antik.

Kami asyik mengobrol sampai kami selesai makan malam. Sup masakan Antik benar-benar sedap, seperti kualitas restaurant. Tidak jarang aku memuji sup dia malam itu.

Semenjak aku putus dengan Mona, Antik tidak pernah menyinggung atau menceritakan kabar tentang adik-nya di depan-ku. Mungkin Antik merasa tidak enak, dan mungkin bisa membuat aku sedih atau bahkan marah. Sikap-nya yang begitu baik dan tetap menganggapku seperti saudara sendiri, membuat-ku respect terhadap-nya.

Setelah selesai makan malam, Antik memberiku obat lagi. Aku bilang pada-nya kalo aku sudah tidak demam lagi, dan merasa segar seperti biasa-nya. Tapi Antik tetap memaksa aku untuk meminum obat-nya.

Setelah kuteguk obat-nya, Antik bilang kepadaku akan mengusap dada dan punggung-ku dengan minyak kayu putih lagi setelah dia selesai mandi. Aku paling suka dengan minyak kayu putih, bau-nya benar-benar aku sukai. Tawaran Antik tentu saja tidak aku tolak.

Setelah selesai mandi, dan mengeringkan rambut-nya, Antik masuk ke kamar tidur-ku sambil membawa dvd. Malam itu Antik mengenakan piyama lengkap tebal dan tertutup. Maklum bulan ini adalah bulan pertengahan musim dingin di Australia, jadi apartment kami cukup dingin.

Aku dengan segera menyalakan pemanas di kamar, agar Antik tidak kedinginan. Antik membawa dvd film drama Korea pinjaman dari teman-nya. Aku bilang pada-nya kalo film drama seri Korea/Jepang bisa membuat kita semua menyandu.

“Kak Ditto, buka kaos dong. Antik usap punggung kak Ditto ama minyak kayu putih.”, kata-nya.
Aku buka kaos-ku dan merebahkan tubuh-ku dengan posisi telungkup. Antik menindihku dengan posisi duduk di atas pinggang-ku. Kemudian dia melumuri punggungku dengan minyak kayu putih dan memijat-mijat lembut. Dia tidak banyak bicara, Karena Antik sedang menonton dvd juga. Aku memilih untuk tidak menonton dvd, tetapi menikmati pijatan Antik.

“Sakit ngga?!”, tanya-nya.

“Enak kok, Antik pinter sekali kalo mijitin yah?! Beruntung pacar Antik nih!”, canda-ku.

“Ah, kak Ditto bisa aja”, jawab-nya malu-malu.

Entah ada angin dari mana, tiba-tiba aku teringat tentang kejadian di pagi hari itu. Yang mana membuat aku menjadi gemonah kembali, dan ingin mengatakan kepada-nya bahwa aku telah mengintip dia mandi, dan ingin meminta maaf atas kejadian itu.

“Antik, aku pengen confess sesuatu nih!”, kata-ku dengan deg-degan.

“Mau confess apa kak Ditto? Kak Ditto punya pacar lagi yah?! Siapakah wanita yang beruntung kali ini?!”, canda-nya.

“Kalo aku punya pacar lagi, aku mau cari yang seperti Antik dong. Yang baik dan care ama aku.”, goda-ku kali ini.

“Kak Ditto genit ah…Antik cubit nih!”, kata-nya manja sambil mencubit punggung-ku.

“Trus kak Ditto mau confess apa ama Antik?! Antik jadi penasaran nih!”, lanjut-nya lagi.

“Hmmm…aku cuman pengen menceritakan kejadian 3 tahun yang lalu. Tapi Antik janji dulu jangan marah apapun yang terjadi.”, kata-ku dengan nada memohon.

“Tapi apa dulu kak Ditto, kalo Antik tidak sengaja marah bagaimana?!”, kata-nya bingung.

“Iya deh, aku ngga akan menyalahkan Antik kalo Antik akan marah dengan confession ini. Ini totally hak Antik.”, sambung-ku cepat.

“Ok deh, Antik mencoba untuk tidak marah, tapi Antik ngga janji apa-apa loh!”, jawab-nya dengan penuh penasaran.

“Begini Antik, mungkin Antik tidak tahu sama sekali tentang kejadian ini. 3 tahun yang lalu sewaktu Antik masih bekerja di cafe, kita kan sering berangkat bersama-sama Karena jadwal kerja Antik yang sama dengan aku. Nah, di sinilah kejadian.”, kata-ku terputus.

“Iya, trus kenapa emang-nya kak Ditto?”, tanya-nya penasaran.

“Saat itu aku tidak sengaja membuka kamar mandi, dan Antik ada di sana dan sedang mandi. Aku melihat Antik dalam keadaan terlanjang, dan aku termenung di sana sekitar 10 detikan. Seperti tersambar petir, dan termangu tanpa daya.

Aku masih ingat betul apa yang aku liat. I am sorry, I am sorry, I am so sorry! Please forgive me! Kejadian ini selalu menganjal di hati, dan aku ngga pernah menceritakan ini kepada siapa pun. Once again I am so sorry.”, kata-ku memohon.

Tiba-tiba Antik berhenti memijatku, tetapi posisi-nya tetap duduk di atas pinggang-ku. Aku tidak bisa melihat mimik wajah-nya, Karena posisi-ku yang sedang telungkup membuat-ku susah menengok kebelakang. Aku kembali melanjutkan confession-ku lagi.

“Setelah tidak sengaja melihat Antik sedang mandi, aku segera menutup pintu kamar mandi itu. Namun ada godaan setan telah memenangkan otak-ku. Aku kembali mengintip Antik lagi untuk beberapa lama.

Karena inilah aku merasa sangat bersalah kepada Antik. Tapi ini hanya terjadi saat itu, dan sumpah deh aku ngga pernah ngintip Antik lagi setelah kejadian itu. I am so so sorry, and please forgive me!”, kata-ku memohon lagi.

Antik tidak bergeming, dan tetap diam saja. Aku sudah ngga tau harus bagaimana lagi. Aku sudah pasrah aja, dan perasaan-ku bercampur aduk. Perasaan lega, takut dan juga malu.

Tiba-tiba Antik memecahkan keheningan itu sambil berkata, “Kak Ditto enjoy ngga liat Antik yang sedang terlanjang?”.

Pertanyaan ini membuat-ku kaget setengah mati. Tidak aku sangka Antik bisa mengucapkan pertanyaan seperti ini. Aku menjadi kelabakan dengan pertanyaan Antik yang simple itu. Otak-ku dibuat berputar-putar Karena-nya. Bagaimana kalo kujawab begini, bagaimana kalo kujawab begitu. Jadi serba salah aku dibuat-nya.

Akhir-nya kuberanikan diri dan menjawab sejujur-jujurnya, “Karena Antik cantik dan manis, aku suka memandang tubuh Antik waktu itu. Ini jawaban yang jujur dari hati loh.”.

Antik hening sejenak, dan kemudian menjawab dengan nada terbata-bata, “Kalo kak Ditto suka…kenapa…kenapa kak Ditto ngga pernah bilang ama Antik.”.

“Sudah ngga mungkin aku bilang tentang kejadian ini kepada siapa pun, terutama Antik sendiri. Kan ini sangat memalukan buat Antik. Tapi kejadian ini tidak ada yang tau, bahkan Mona pun tidak pernah aku cerita’in tentang kejadian ini. The secret was safe with me, until today.”, jawab-ku lagi.

Antik hening kembali.

Aku melanjutkan kata-kataku kembali, “Antik sekarang boleh marah, sebel atau mau pukul juga ngga apa-apa. I deserve it.”.

“Antik ngga akan pukul atau marah. Antik cuman merasa sedikit malu aja. Tapi Karena orang yang liat kak Ditto, Antik suka aja, dan kak Ditto dah Antik maaf’in kok.”, kata-nya dengan nada kembali normal.

“Sekarang kak Ditto harus jawab pertanyaan Antik lagi dengan jujur.”, sambung-nya.

“No problem, Antik mau tanya apa pasti aku jawab dengan sejujur-jujurnya.”, jawab-ku.

“Kalo kak Ditto tidak sengaja lagi melihat tubuh Antik yang sedang terlanjang baik itu di kamar mandi, di kamar Antik, atau di mana saja, apa yang bakalan kak Ditto perbuat, terutama ama Antik?!”, tanya-nya.

“Wah, ini tricky question yah?!”, tanya-ku lagi bercanda.

“Hmm…bisa dibilang begitu sih. Ayo jawab dulu dong, kalo salah jawab Antik jewer kuping kak Ditto biar merah.”, canda Antik lagi.

Aku berpikir sejenak, dan kemudian menjawab, “Kalo kejadian seperti itu terulang kembali, kemungkinan besar aku bakalan terus melihat Antik yang sedang terlanjang. Tapi kali ini ngga perlu sembunyi-sembunyi lagi, Karena aku bakalan langsung menyapa Antik dan memuji tubuh Antik yang indah.”.

Tiba-tiba kuping-ku dijewer ama Antik sambil berkata “Kak Ditta genit banget nih!!!”.

Kami berdua langsung tertawa terbahak-bahak, dan Antik menggitik ketiak bawah-ku. Geli sekali aku dibuatnya.

Kemudian Antik bertanya lagi, “Menurut kak Ditto, Antik ama Mona cakep mana? Pasti kak Ditto bilang cakep Mona. Semua saudara-saudara Antik dan orang lain selalu bilang Mona paling cakep. Kalo menurut kak Ditto bagaimana?”.

“Antik, bisa ngga kalo Antik tidak menyebut nama Mona lagi. Aku tau kalian memang bersaudara, tapi Mona kan adik Antik, dan bekas pacar-ku, jadi lebih baik jangan dibahas yah?!”, pinta-ku.

“Sorry kak Ditto, Antik nyesel ngomong begitu”, mohon-nya.

“That’s ok, it’s not your fault.”, kata-ku menenangkan suasana.

“Secara pribadi menurut-ku Antik cantik dan manis. Kulit Antik putih dan lembut. Mana ada kaum lelaki yang menolak kalo ditaksir ama Antik, bener ngga?! Pacar Antik itu hoki banget dapet Antik.”, lanjut-ku sambil menggoda.

“Ah kak Ditto genit lagi nih. Antik jewer lagi kuping-nya biar kapok!”, jawab-nya tapi malah menggitik ketiak-ku lagi.

Suasana kembali hening kembali, dan aku sudah ngga tau harus ngomong apalagi. Semua rahasia telah terbongkar, dan tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.

Tiba-tiba Antik memecah keningan kembali sambil berkata, “Antik sayang banget ama kak Ditto, tapi perasaan ini Antik tidak mengerti. Antik sayang juga ama pacar Antik, tapi perasaan dengan kak Ditto berbeda. Seperti-nya kak Ditto itu figur yang paling Antik respect, dan Antik kagumi.”.

“Antik sedih banget sewaktu kak Ditto putus ama Mona. Antik merasa kak Ditto dan Mona itu pasangan yang paling perfect. Antik ngga mengerti apa yang Mona pikirin sampai bisa memutusin kak Ditto.”, kata-nya.

“Iya sudah lah, yang lalu biarlah berlalu yang penting sekarang pikirkan masa depan dan karir.”, jawab-ku seadanya.

“Kak Ditto sayang ama Antik ngga?!”, tanya-nya lembut.

“Jelas sayang banget. Antik orang yang paling aku sayang di Australia ini sekarang.”, jawab-ku secepatnya.

Antik terdiam sejenak, kemudian bertanya, “Kita dengerin music yuk. Kak Ditto ada lagu-lagu lama ngga?”.

“Ada sih, coba check di iTunes dan ke Oldies playlist. Di sana banyak sekali lagu jaman babe-babe kita masih muda. Hehehehe…”, jawab-ku bercanda.

Antik beranjak dari ranjang-ku dan segera mematikan tv dan dvd player-nya. Kemudian Antik menyalakan music dari iTunes di Apple computer-ku. Terdengar alunan lagu dari pemusik Carpenter, dengan judul lagu-nya Close to You.

Posisi tubuh-ku masih dalam posisi telungkup dengan terlanjang dada. Antik kembali duduk di atas pinggang-ku, dan kembali mengusap-usap punggungku yang mulai mengering dari lumuran minyak kayu putih.

Tiba-tiba Antik berkata, “Antik mau kasih suprised, kak Ditto jangan kaget yah.”.
“I love a surpised.”, jawab-ku singkat.

Ternyata surpised kali ini benar-benar tidak tanggung-tanggung. Aku tidak menyangka kalo Antik bakalan melakukan hal ini. Sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelum-nya. Antik memeluk-ku dari belakang dan sangat terasa sekali payudara-nya menempel di punggung-ku.

Kali ini aku bisa merasakan dengan jelas bahwa Antik memeluk-ku dari belakang dengan tubuh-nya yang terlanjang dada. Aku tidak tau sejak kapan Antik telah melepaskan piyama tidur dan bh-nya. Apakah sebelum atau sesudah Antik berkata ingin memberikan aku surpised, aku sudah tidak tau lagi. Tubuh-nya yang hangat begitu terasa disekujur pinggang-ku, dan tercium pula bau harum rambut-nya. Jantungku berdegup kencang, dan mulut-ku seakan-akan terkunci dan kaku.

Tiba-tiba Antik berkata, “Kak Ditto jangan marah yah, Karena Antik sayang banget ama kak Ditto. Kak Ditto sekarang bisa melihat tubuh Antik yang terlanjang, seberapa lama kak Ditto mau.”.

Aku terdiam sejenak, dan berusaha mengatur napas-ku yang mulai tidak beraturan Karena degupan jantung-ku yang semakin lama semakin kencang.

Setelah sedikit tenang, aku memberanikan diri untuk membalik badan-ku agar bisa melihat Antik. Kini posisi Antik duduk di atas perut-ku. Kulihat tubuh Antik yang telah terlanjang dada, dan masih mengenakan celana piyama lengkap.

Kulit-nya halus, putih dan lembut. Dada-nya begitu indah, dan warna puting-nya coklat muda. Perut-nya rata. Tidak ada gumpalan lemak sedikit pun yang aku lihat. Darah-ku benar-benar bergejolak saat itu. Aku merasa kagum dengan tubuh-nya yang indah. Wajah Antik terlihat cantik, dan manis dan tersenyum manja dihadapanku. Rambut panjang-nya yang sebatas ketiak terlepas bebas, membuat-nya bertambah anggun.

Aku mulai mendorong lembut tubuh Antik, agar aku bisa duduk bersila di atas ranjang-ku. Kami berdua saling berpandang muka. Aku mencoba untuk tenang, dan mulai mendekati wajah Antik. Secara refleks Antik memejamkan mata-nya seakan-akan mengundang-ku untuk mencium bibir-nya.

Kudekatkan wajah-ku, kemudian menempelkan bibir-ku di atas bibir-nya. Tercium kulit wajah-nya yang harum, dan juga halus. Tidak tampak ada jerawat di wajah Antik. Aku kemudian mulai memberanikan diri untuk memainkan bibir-ku menciumi bibir tipis-nya. Antik meresponse ciuman dan lumatan bibir dan lidah-ku. Kami berdua sedang melakukan French kiss di atas ranjang-ku.

Tak lama kemudian, aku mencoba merebahkan tubuh Antik di atas ranjang. Antik pasrah dan tidak melawan sedikit pun. Napas kami mulai memburu. Kedua tangan Antik membelai lembut rambut kepalaku, dan aku membalasnya dengan membelai rambut-nya pula.

Hampir lima menit lama-nya kami melakukan French kiss. Aku semakin berani, dan ingin mencoba untuk menjelajahi bagian tubuh Antik yang lain. Pertama-tama tangan kanan-ku turun menuju pipi Antik, kemudian turun kebawah menuju leher-nya.

Bibir-ku masih tetap beradu dengan bibir Antik. Ketika jari-jemari tangan kanan-ku mendarat di dada kiri Antik, badan Antik sedikit tersentak dan Antik mengeluh lembut. Antik tidak menolak dan membiarkan jari-jemari tangan-ku meremas lembut payudara kiri-nya.

Napas Antik mulai tidak menentu, dan Antik banyak mengeluh kecil. Napas-nya terengah-engah, dan eluhan lembut-nya membuat-ku semakin bersemangat dalam napsu.

Kulepas bibir-ku dari bibir-nya, dan kami saling bertatap muka.

Dengan wajah yang sayu dan lembut, Antik berkata, “Kak Ditto, Antik sayang banget ama kak Ditto.”.
Aku tersenyum pada-nya, dan Antik membalas senyuman-ku.

Sekarang bibir-ku mencium pipi kanan-nya, kemudian mencium kening-nya, turun lagi ke pipi kiri-nya. Kucium dan sesekali aku jilat lembut telinga kanan-nya, kemudian turun menuju daerah leher. Antik semakin mengeluh lembut, dan kadang-kadang mendesah dengan nada yang sedikit keras. Semakin Antik mendesah, semakin bersemangat aku dibuat-nya.

Kini bibir-ku turun ke daerah payudara Antik. Aku cium, jilat puting kanan Antik sambil meremas-remas payudara sebelah kiri-nya. Payudara Antik begitu kenyal dan padat. Karena saking gemes-nya dengan kekenyalan dan kepadatan payudara Antik, terkadang aku gigit lembut puting-nya, dan itu malah membuat Antik semakin tidak karuan.

Bergantian aku cium, jilat, dan kadang hisap puting Antik yang sebelah kanan dan kiri. Kali ini Antik hanya bisa mendesah, dan tidak jarang nama-ku disebut oleh-nya. Yang aku herankan, kenapa nama-ku selalu saja disebut di bawah alam sadar-nya.

Terus terang aku sedikit kuatir kalo saja nama pacar-nya dengan tidak sengaja dia sebut, itu bisa membuat aku ‘turned off’. Tapi Antik tidak pernah menyebut sekalipun nama pacar-nya sewaktu aku beri rangsangan ini.

Sekarang bibir-ku semakin turun ke bawah menuju perut-nya yang rata. Kulihat belly button-nya yang bersih, aku cium daerah perut Antik. Tapi kali ini aku mendapat sedikit perlawanan.

“Geli kak Ditto, ngga enak. Jangan ciumin perut Antik. Geli-nya bikin mules.”, pinta-nya kepada-ku.

“Kalo begitu, aku boleh buka celana Antik ngga?!”, tanya-ku.

“Buka saja, Antik milik kak Ditto malam ini.”, jawab-nya dengan tersenyum manja.

Tanpa basa-basi lagi, kutarik celana tidur-nya dan kulempar ke sebelah ranjang-ku. Kulihat celana dalam Antik berwarna putih dengan pita kecil berwarna merah muda atau merah jambu. Cute sekali. Kedua paha Antik putih dan mulus, tapi tampak sedikit garis selulit di daerah pantat-nya. Kira-kira 2 atau 3 garis selulit yang tipis sekali. Tapi itu tidak mengurangi keckarenan paha mulus-nya.

Aku mulai menciumi kedua paha-nya dengan posisi disamping tubuh Antik, dan tangan kiri-ku meremas payudara-nya (kadang-kadang payurada-nya yang kanan, kadang yang kiri). Tiba-tiba timbul keinginan-ku untuk meraba celana dalam-nya.

Jari tengah tangan kanan-ku mencoba merasakan sesuatu dibalik celana dalam mungil-nya. Kuletakan jari itu pas di tengah posisi bibir kemaluan-nya. Kurasakan daerah itu mulai sedikit basah dan terasa lembab. Antik telah terbuai oleh napsu erotis-nya.

Kali ini, aku sudah semakin berani. Dengan segera kulepaskan celana dalam Antik, dan yes … kuliat bulu pubis Antik yang halus, dan labia mayora-nya. Darah-ku semakin naik ke ubun-ubun. Seperti biasa-nya, secara reflek bak magnet muka-ku kedekatkan di daerah kemaluan-nya, dan ingin aku jilat daerah kemaluan-nya, terutama di clitoris-nya.

Tiba-tiba Antik tersadar, dan mendorong lembut wajah-ku dari daerah selangkangan-nya.

“Jangan kak Ditto, jijik.”, kata-nya.

“Lho, emang Antik jijik kalo aku jilatin daerah itu?”, tanya-ku heran.

“Ngga juga, tapi Antik ngga pengen kak Ditto merasa jijik dengan memiaw Antik.”, jawab-nya.

“Heh?! Jadi pacar Antik ngga pernah jilatin daerah itu buat Antik?”, tanya-ku penasaran.

“Ngga pernah, dan dia juga kayak-nya jijik deh.”, jawab-nya singkat.

“Trus Antik pernah ngga ‘datang’ atau itu loh istilah-nya orgasme sewaktu oral sex atau sewaktu di warming up?”, tanya-ku lagi.

“Hmm…ngga tau deh! Biasa-nya kalo Antik dah terangsang dan basah, dia langsung masukin t*t*t-nya.”, kata-nya.

“Antik, trust me, I will make you fly in heaven.”, kata-ku singkat.

Tanpa basa-basi lagi, kudekatkan wajahku kembali ke daerah selangkangan-nya, dan mulai menjilati daerah clitoris-nya.

Kali ini tubuh tersendak hebat seperti terkena setrum tegangan tinggi. Antik menjerit nama-ku dengan kencang, dan aku kaget dibuat-nya. Dengan segera aku hentikan aksi-ku dan segera bertanya kepada-nya.

“Kenapa Antik?! Sakit yah?! Sorry, sorry, I’ll stop now!”, kata-ku.

“Bukan kak Ditto, yang tadi itu gila geli banget. Antik ngga pernah merasa geli sehebat itu tadi, maka-nya Antik langsung kaget. Sorry Antik bikin kak Ditto kaget juga.”, jawab-nya sambil tersenyum malu.

“Jadi mau-nya diterusin atau ngga?!”, tanya-ku lagi.

Antik hanya menjulurkan setengah lidah-nya, dan tersenyum malu. Menurut-ku itu adalah tanda ‘iya’ atau ‘silahkan’.

Kembali kudekatkan wajahku dan menjilati daerah clitoris dan kadang bagian labia minora-nya. Tapi kayak-nya Antik paling suka di daerah clitoris-nya. Antik sudah seperti cacing kepanasan dan meremas bantal dan selimut di sekitar-nya.

Kali ini desahan Antik mulai menjadi teriakan yang dasyat. Tidak berhenti-hentinya dia menjerit nama-ku dan mengeluh nikmat. Dapat kurasakan tubuh dan kaki-nya kini mulai menegang.

“Kak Ditto, Antik kayak-nya mau dapet nih. Kak Ditto…kak Ditto…”, kata-nya terputus-putus bersamaan dengan napas-nya yang terengah-engah.

Aku semakin mempercepat gerakan lidah-ku di bagian clitoris-nya, dan menggeleng-gelengkan kepala-ku agar membantu percepatan jilatan lidah-ku. Tidak mencapai 1 menit kemudian, Antik menjerit kalo dia akan segera datang sampai pada akhir-nya Antik berteriak keras dan cepat-cepat saja dia tutup mulut-nya dengan kedua tangan-nya agar suara-nya jeritan-nya terendam kedua tangan-nya.

Antik telah mencapai klimak pertama-nya, dan aku segera menghentikan jilatan-ku. Kemaluan Antik basah oleh cairan dari vagina-nya bercampur dengan air liur-ku.

Antik masih menutup mulut-nya dengan kedua tangan-nya dengan napas yang terengah-engah. Kupandang wajah-nya sejenak, dan mata kami saling beradu. Antik tersenyum malu, dan cepat-cepat menyembunyikan wajah-nya di balik selimut.

Aku beranjak dari tempat tidur, mengambil tissue kering dan mengelap bibir-ku yang basah oleh air liurku sendiri. Aku mengambil tissue lagi, dan kemudian mengelap bagian selangkangan Antik yang basah.

Aku membuka selimut itu, dan kuliat wajah Antik yang malu-malu. Aku dibikin gemas oleh kelakuan-nya.

“Antik suka tadi dibegituin?”, tanya-ku.

“Dibegituin apa sih?!”, jawab-nya dengan malu-malu.

“Bagaimana, Antik? Did I take you to heaven just now?”, tanya-ku lagi.

Antik hanya bisa mengangguk dan tersenyum kembali.

Kemudian aku bertanya lagi, “Apa boleh sekarang mr happy masuk ke dalam?”.

Antik mengangguk tanda mengiyakan, dan kemudian bertanya, “Dedek kak Ditto mau Antik bangunin dulu ngga?”.

“Hmm…not necessary deh. Next time aja. Sekarang dah bangun sendiri kok.”, jawab-ku malu-malu.

“Excuse me? Next time? Kak Ditto pe-de nih. Antik ngga janji ada next time loh.”, canda-nya lagi sambil mencubit lembut lengan-ku.

Aku membuka celana bersama celana dalam-ku, dan menuju lemari baju mencari condom. Aku masih ingat kalo aku masih ada beberapa condom di lemari.
Antik mengerti dengan apa yang aku cari, kemudian dia berkata kepadaku, “Kak Ditto ngga perlu pake condom. Antik pake kontrasepsi yang dijamin kak Ditto tidak membutuhkan condom lagi.”.

“Antik yakin kak Ditto juga ngga suka pake condom kan?! Antik pun sama. Maka-nya Antik pake method lain.”, sambung-nya lagi.

“Emang Antik pake apa? Minum pil atau apa?”, tanya-ku penasaran.

“Kak Ditto mau tau aja. Rahasia wanita dong ini.”, kata-nya lagi penuh misteri.

“Please, kasih tau dong. Jadi bikin penasaran aja Antik.”, mohon-ku.

“Ok ok, kak Ditto jangan panik begitu dong.”, canda-nya sambil tertawa kecil.

“Antik pake method Diaphragm, tunggu bentar yah Antik mau pasang dulu.”, sambung-nya.
Kulihat Antik masuk ke kamar-nya, dan kemudian segera ke kamar mandi. Aku mendengar seakan-akan Antik sedang mencuci sesuatu.

Aku tidak tau apa yang sedang Antik perbuat sewaktu di kamar mandi, sampai pada akhir-nya Antik pernah menjelaskan kepadaku bahwa dia harus mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memasukkan Diaphragm ke dalam vagina-nya (for hygenic reason). Pernah sekali Antik mendemonstrasikan pemakaian Diaphragm kepadaku.

Sungguh alat yang unik. Lentur seperti silicon. Biasa-nya Diaphragm harus dipasang dahulu sebelum melakukan hubungan seks, tapi malam itu Antik tidak menyangka akan melakukan hubungan seks dengan-ku. Dia pikir pacar-nya tidak menginap malam itu, jadi what is the point pake Diaphragm juga.

Tidak lama kemudian Antik kembali dari kamar mandi dan segera kembali ke kamar-ku lagi. Posisi-ku sudah terlanjang bulat menunggu kedatangan Antik. Tidak aku sangka malam ini adalah malam pertama aku bercinta dengan Antik.

Antik mendekatiku dan berkata, “Hallo mr happy, kamu kok belum mengeras. Mau Antik elus-elus ngga?!”.

Aku hanya bisa tertawa kecil dibuat-nya.

Tanpa basa-basi Antik mengulum penis-ku. Tidak kusangka Antik pandai sekali dalam memberikan blowjob.

Penisku telah mengeras kembali seperti kayu rotan. Antik menanyakan posisi apa yang paling aku sukai. Aku bilang kepada-nya bahwa aku paling suka Man on Top.

Antik tersenyum dan kemudian merebahkan diri-nya di atas ranjang-ku. Seolah-olah tanpa dimandor, Antik memegang penis-ku yang telah mengeras dan menuntun-nya masuk ke dalam memiaw-nya. Pelan-pelan aku tekan ke dalam, sampai aku merasa memiaw-nya benar-benar basah. Setelah memiaw-nya basah, aku dorong penis-ku sedikit keras ke dalam memiaw-nya sampai totally masuk ke dalam.

Nikmat sekali rasa-nya. Bersenggama tanpa memakai condom adalah sesuatu yang paling aku suka. Dulu sewaktu dengan Mona, aku biasa-nya tidak memakai condom dengan memakai system penanggalan. Tapi kali ini aku tidak perlu mengkuatirkan masalah penanggalan tersebut. Antik jauh lebih prepare daripada aku.

“Kak Ditto, Antik sayang banget ama kak Ditto. I am … yours … trully yours tonight!”, bisik Antik sambil terengah-engah.

Aku dibuat-nya semakin bernapsu. Sambil pinggul dan pantat-ku bergerak naik turun seakan-akan memompa tubuh-nya. Suara gesekan penis-ku dan memiaw-nya yang basah terdengar merdu di telingaku bersamaan dengan desahan napsu Antik yang membuatku semakin bernapsu saja.

“Antik, aku juga sayang Antik. I hope Antik enjoy dengan mr happy.”, kata-ku terengah-engah.

“Suka banget…Antik suka banget.”, jawab-nya terengah-engah.

memiaw Antik terasa basah sekali dan gesekan penis-ku terasa licin sekali. Punggung-ku dan leher-ku mulai berkeringat. Melihat hal itu, Antik bertambah semangat dan kedua tangan-nya menjambak lembut rambut-ku.

“Kak Ditto…Antik mau datang nih…dorong terus kak Ditto, pleaseee!”, suara Antik yang mulai meracau.

Aku semakin mempercepat dorongan dan goyangan pantat-ku, sampai akhir-nya Antik mendesah panjang dan meremas bantal.

Aku diam sejenak, membiarkan mengatur napas-nya kembali. Kukecup pipi kiri-nya, dan kemudian mencium bibir-nya.

“You are great, kak Ditto. I am so so happy!”, kata Antik sambil tersenyum. Kedua pipi mulai tambah kemerahan. Seperti-nya semua darah-nya terkumpul di kepala.

“I am happy too, Antik. Let us finish this for tonight!”, jawabku sambil mencium bibir-nya lagi.

Kali ini Antik mengambil posisi diatas. Antik keliatan-nya kasihan melihat tubuh-ku basah kuyup oleh keringat. Antik menuntun penis-ku yang masih basah oleh cairan memiaw-nya ke arah memiaw-nya. Perlahan-lahan dia mendorong ke bawah, dan dalam seketika amblas-lah penis-ku masuk ke dalam memiaw-nya.

Antik memaju-mundurkan pinggul-nya dan terkadang-kadang membungkuk sedikit untuk bisa mencium bibirku. Gerakan-nya semakin cepat, dan napas-nya kembali terengah-engah. Hampir 10 menit kemudian Antik memelukku erat-erat dan mendesah panjang, seperti sebelum-nya.

“Ahhh…Antik datang lagi. Kak Ditto sungguh jago sekali. Antik suka banget ama t*t*t kak Ditto. Geli sekali”, kata Antik terengah-engah.

“Kak Ditto, Antik bakalan sering minta begini terus ama kak Ditto. Boleh kan?!”, kata-nya memohon.

“Whenever and wherever you want, Antik. I am always there for you.”, jawab-ku.

Antik kembali tersenyum, dan berkata kepadaku, “Kini saat-nya Kak Ditto yang datang yah?!”.
Antik merebahkan tubuh-nya kembali ke ranjang. Kini aku mengambil missionary position, posisi favorite-ku untuk ejakulasi. Aku kembali memompa penis-ku ke dalam memiaw-nya yang semakin lama semakin basah rasa-nya. Antik tidak berhenti-hentinya mendesah dan berkata kalo dia akan segera datang.

Aku mulai merasakan penis-ku mulai menegang hebat, dan terasa ada sesuatu yang ingin mendesak keluar. Aku akan mencapai klimaks sebentar lagi.

“Antik, aku hampir keluar nih. Aku keluarin di luar atau di dalam?”, tanya-ku buru-buru.

“Terserah kak Ditto … keluarin di luar atau di dalam … mana yang paling kak Ditto suka.”, jawab-nya dengan napas terengah-engah.

“Kalo begitu aku keluarin di dalam yah?! Aman kan?!”, tanya-ku penasaran.

“Dijamin aman kak Ditto. Antik dah pake Diaphragm kok. Pasti aman. Emang dah mau dapet kak Ditto?!”, tanya-nya lagi.

“Bentar lagi Antik … bentar lagi…”, jawab-ku.

“Dateng sama-sama Antik yah kak Ditto?!”, pinta-nya.

“Ok ok … siap-siap Antik, ngga lama lagi!”, jawab-ku singkat.

Kini kupercepat goyangan pinggul dan pantat-ku. Percepatan gesekan penis-ku bersama memiaw-nya membuat-ku mencapai klimaks. Kurasakan penis-ku mengeras dan akhir-nya aku mencapai klimaks-ku dan mengalami ejakulasi.

“Antiknn … I am coming …”, kata-ku sambil penis-ku menyemprotkan sperma-nya ke dalam memiaw Antik dan membasahi liang-liang memiaw-nya. Aku tidak tau ada berapa kali semprotan yang aku berikan dari penis-ku.

Kedua paha Antik menjepit pantat-ku dan mendorong-nya agar penis-ku tertanam dalam di dalam memiaw-nya. Seperti-nya Antik ingin mengeluarkan semua isi sperma-ku ke dalam memiaw-nya.
“Kak Ditto … enak banget … sperma kak Ditto hangat. Thank you!!!”, kata-nya sambil menciumi kening-ku yang penuh keringat.

Kami saling berpelukan sambil penis-ku yang masih tertanam di dalam memiaw-nya, dan mulai melemas. Aku dan Antik mulai mengatur napas kami kembali.

“I must conclude that our friendship is ruined.”, kata-ku.

“Yup, and welcome to a new intimate relationship.”, jawab Antik.

Kami berdua saling tertawa.

“So there will be a ‘next-time'”, canda-ku lagi.

“Maybe … “, jawab Antik sambil tersenyum.

“Antik hebat sekali dalam bercinta, aku kagum.”, kata-ku memuji.

“Kak Ditto juga jago, dan juga sperma kak Ditto kok buanyak banget yah. Antik harus double protection nih, ntar kecolongan lagi. memiaw Antik dah penuh nih, kayak-nya ntar lagi mau tumpah deh.”, kata-nya.

“Aku cabut yah mr happy sekarang?!”, tanya-ku.

“Tolong ambilin Antik tissue dong, in case waktu kak Ditto cabut ikutan tumpah nih sperma-nya.”, jawab-nya.

Aku cabut penis-ku pelan-pelan dari memiaw-nya, dan ternyata benar kata Antik, sperma-ku banyak sekali di sana dan mulai sedikit tumpah. Cepat-cepat Antik menutup-nya dengan tissue dan menuju ke kamar mandi. Terdengar suara air shower dari kamar mandi.

Aku beranjak dari tempat tidur dan melihat apa yang sedang Antik perbuat. Tampak Antik sedang mencuci memiaw-nya dan menyabuni-nya. Kami saling berpandang mata dan saling senyum. Sungguh manis senyum Antik. Antik meminta-ku untuk mencuci penis-ku juga. Aku turuti permintaan-nya, dan Antik menyabuni dan mencuci bersih penis-ku.

Kami kembali ke kamar dengan keadaan terlanjang. Aku biarkan heater oil itu tetap menyala biar kami tidak kedinginan. Kami sempat berciuman di atas ranjang, dan kini kupeluk Antik di dalam dada-ku.

“Thank you, Antik!”, kata-ku.

“Thank you juga kak Ditto!”, jawab-nya.

“Bagaimana dengan pacar Antik?! I feel sorry for him.”, kata-ku bingung.

Sambil menghela napas panjang, Antik berkata, “Antik juga tidak tau mau harus dengan dia sekarang. Antik sudah sedih memikirkan-nya. Dia seakan-akan cuman mementingkan diri-nya sendiri.”, kata-nya.

“Nanti kapan-kapan Antik ceritain ke kak Ditto deh. Sekarang Antik mau tidur dulu, sudah ngantuk berat nih.”, kata-nya lagi.

Dikecup sekali lagi bibir-ku, dan Antik kembali ke dalam pelukan-ku. Kami berpelukan sampai tertidur pulas.

Sejak saat itu, aku menganggap Antik menjadi pacar-ku sendiri. Dan banyak kisah-kisah yang kami alami di mana itu masa-masa sulit bagi kami. Sampai sekarang ini hanya beberapa orang saja yang mengetahui hubungan kami, dan kami berusaha menyimpan rahasia ini sampai nanti tepat waktu-nya.

CERITA SEX, KUMPULAN CERITA DEWASA, CERITA PANAS, KOLEKSI CERITA MESUM, CERITA SEKS, CERITA 17+, ANAK SMP BUGIL DAN SISWI SMA BUGIL TELANJANG, TANTE BUGIL, TANTE GIRANG BUGIL, TANTE GIRANG VAGINA MERAH BASAH, ABG TELANJANG SMA DAN VIDEO VAGINA MERAH BASAH, SEX CEWEK NGENTOT, SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMP, CERITA SEX ABG, SUKA BUGIL, ABG FOTO BUGIL TERBARU, ABG NGENTOT MEMEK, ABG SITUS VAGINA MERAH BASAH, KHUSUS ANAK SMA, SITUS VAGINA MERAH BASAH, ABG HOT VAGINA MERAH BASAH, CERITA SEKS PEREK ANAK SMA, SMA TELANJANG, CEWEK SMA BUGIL, SISWI SMU BUGIL, DOWNLOAD PERGAULAN BEBAS ANAK ANAK SMA, MEMEK NGANGKANG DIENTOT, FILM VAGINA MERAH BASAH PANAS.

About Vanita Esma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*